21 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Jumlah Pengangguran Diperkirakan Membengkak Tembus 5 Juta Orang

JAKARTA, KP – Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai Pemerintah harus serius dalam menghadapi gejolak ekonomi yang semakin dalam. Apalagi, resesi Indonesia diprediksi tinggal menunggu waktu ketika ketidakpastian covid-19 terus menghantui. Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani mengatakanresesi akan membuat jumlah pengangguran di Indonesia meningkat signifikan hingga 5 juta orang.

“Pertumbuhan ekonomi di minus 1,7% dan 0,6% akan meningkatkan kemiskinan dan pengangguran secara signifikan. Sekarang jumlah pengangguran kurang lebih 7 juta orangdan akan bertambah lebih dari 5 juta,” ujar Rosan, di Jakarta, Jumat (25/9).

Dia mengatakan, pandemi telah menekan berbagai sektor yang akhirnya menyebabkan peningkatan kemiskinan dan pengangguran. Bahkan jika diluar pandemi menurutnya sudah ada 7 juta pengangguran setiap tahunnya.

Sementara itu setiap tahunnya sekitar 2 hingga 2,5 juta orang merupakan angkatan kerja baru yang membutuhkan lapangan kerja. Dimana saat ini ada 8,14 juta orang yang setengah menganggur dan 28,41 juta orang pekerja paruh waktu.Dengan demikian, setidaknya ada 46,3 juta orang yang tidak bekerja secara penuh di tahun ini.

Dia merinci sektor-sektor industri yang memiliki tenaga kerja besar dan turut terimbas pandemi dengan pertumbuhan yang minus, yakni sektor pertanian dengan kontribusi terhadap total tenaga kerja sebesar 29,04% ketika pertumbuhan pada kuartal I sebesar 0,02% dan kuartal II menjadi 2,19%.

Kemudian sektor perdagangan memiliki andil terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 18,63% dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I sebesar 1,60%, namun mulai mencatatkan minus pada kuartal II -7,57%.

Selanjutnya ada industri pengolahan memiliki andil penyerapan tenaga kerja sebanyak 14,09% dengan kinerja pada kuartal I 2,06% kemudian pada kuartal II merosot jadi -6,19%. Sektor akomodasi dan makanan minuman akan mengalami kontraksi 22,02% serta industri transportasi hingga minus 30,84%.

“Makanan dan minuman mengalami kontraksi besar, tekanan terhadap tenaga kerja sangat besar, oleh karena itu langkah-langkah ke depan dalam penciptaan lapangan kerja menjadi penting ke depannya,”pungkasnya. (snc)