20 Juni 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Peningkatan Kemiskinan

SEBENARNYA kehidupan rakyat di negeri ini sudah memprihatinkan. Buktinya tercatat lebih 46 juta orang yang tidak bekerja secara penuh. Tentu keadaan yang memprihatinkan ini punya kaitan lansung dengan pandemi corona. Semakin lama corona mengganas di negeri ini tentu korbannya semakin meningkat sekaligus pengangguran semakin memprihatinkan.

KORAN PADANG terbitan Sabtu (26/9) melaporkan bahwa pandemi menyebabkan peningkatan kemiskinan dan pengangguran. Bahkan diluar pandemi pun sudah ada 7 juta pengangguran tiap tahunnya. Sementara, setiap tahunterdapat angkatan kerja baru 2,5 juta orang. Sedangkan mereka yang setengah mengnganggur serta pekerja paruh waktu berjumlah 28, 41 juta. Setidaknya, ada 46,3 juta orang tidak bekerja penuh pada tahun ini.

Sungguh miris sekaligus mengerikan banyaknya generasi yang hidupnya memprihatinkan di negeri ini. Meski sudah banyak teori dan program membuka kesempatan kerja namun program tersebut seakan tak menpan mengatasi pengangguranwalaupun mayoritas mereka adalah kalangan terdidik. Untuk itu sudah pantas rasanya pemerintah berani secara maksimal membatasi atau tidak lagi memprioritaskan tenaga kerja dari luar negeri. Pemimpin negeri ini diharap melakukan terbosan untuk mengatasi penumpukan tenaga kerja dalam negeri dengan program mengirim mereka ke berbagai negarasesuai permintaan negara yang bersangkutan. Upaya ini bisa dilakukan dengan memberdayakan duta besar Indonesia di berbagai negara untuk mengadakan kerjasama dengan negaradimana dubes itu ditempatkan.

Jika kerjasama Internasional dalam bidang ketenagakerjaan ini dimaksimalkan, tentu calon tenaga kerja dari Indonesia diperkirakan banyak yang berminatsesuai dengan lowongan tersedia. Sebaliknya kalau ‘menduniakan’ tenaga kerja Indonesia tak begitu jadi perhatian pemerintah bisa jadi jumlah anak bangsa ini yang kehidupannya sengsara semakin meningkat jumlahnya.

Khusus Sumbar, pemprovtentu sudah punya catatan Dubes Indonesia asal Sumbar yang mengabdi di berbagai negara. Salah satunya Albusra Basnur di Ethiopia merangkap berbagai negara di Afrika. Pasti ada yang lainnya. Walau tak berstatus dubes, pejabat kedubes pasti ada berasal di Sumbar.

Insya Allah, kalau semua pihak punya program serius memperkecil angka pengangguran di negeri ini pasti berhasil. Walau banyak program kunjungan luar negeri dilakukan pemprovberbagai provinsi di Indonesia, namun kerjasama untuk membuka lowongan kerja antar negara belumterdengar dipublikasikan media. Bisa jadi hal itu terlupakan.

Semoga program mengatasi pengangguran menjadi prioritas. Itu harapan kita. Insya Allah bisa jadi kenyataan. *