18 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Pelaksanaan ‘SUBP’ di Kabupaten Solok Terhalang Covid-19

SOLOK, KP – Bupati Solok, H. Gusmal berharap agar seluruh SMP di Kabupaten Solok sudah berbasis pesantren pada tahun 2025 nanti. “Ya, Bupati sangat berharap agar seluruh SMP dan Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Solok nantinya menerapkan Sekolah Umum Berbasis Pesantren (SUBP),” sebut Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Solok Nila Kusumawati, di ruang kerjanya, Senin (28/9).

Menurutnya, sekolah SUBP digagas oleh H. Sakar Soeib dan beliau merupakan penggagas SUBP di Kabupaten Solok. Sebelum diangkat menjadi Kabid SMP, H. Sakar Soeib merupakan mantan Kepala SMP Negeri 6 Gunung Talang. Selama 8 tahun menjadi Kepsek di SMP Negeri 6 Guntal, H. Sakar Soeib sudah menerapkan SUBP pada anak didiknya. Bahkan hal itu membuat Bupati Solok mengangkatnya menjadi Kabid SMP untuk menerapkan SUBP di seluruh Kabupaten Solok. 

Bahkan Sekolah Menengah Berbasis Pesantren (SUBP) itu sudah dilaunching pada Februari 2017 lalu di Taman Hutan Kota Wisata Arosuka. “Saat ini Pemerintah Kabupaten Solok terus bekerja keras memasyarakatkan pendidikan yang mengintegrasikan sistem pendidikan umum dengan sistem pendidikan bernuansa pesantren,” sebutnya.

Untuk tahap awal jelasnya, Pemkab Solok sudah menggerakkan program yang sudah dicanangkan tersebut untuk 15 sekolah yang tersebar di 14 kecamatan sebagai pilot project atau sekolah percontohan. “Nantinya semua sekolah akan menerapkan Sekolah Menengah Berbasis Pesantren. Saat ini kita masih kekurangan tenaga pendidik terampil dan juga terbentur biaya karena belum semua sekolah memiliki sarana yang memadai, seperti asrama dan juga musala yang layak,” tambahnya.

Untuk itu Bupati meminta penerapan SUBP tersebut bisa terwujud pada tahun 2025 mendatang. “Sekolah umum berbasis pesantren merupakan upaya membangun generasi yang handal secara pengetahuan umum namun juga dilandasi pengetahuan agama yang kuat, apalagi di tengah pengaruh kuat narkoba dan pergaulan bebas,” ungkapnya.

Lanjutnya, dalam pencanangan dimulainya Proses Belajar Mengajar (PBM) SMP Berbasis pesantren di seluruh sekolah yang sudah ditetapkan, Bupati meminta program tersebut secepatnya bisa dioptimalkan di sekolah yang sudah ditetapkan. Bahkan besar keinginan Bupati agar terlaksananya dengan baik program unggulan Kabupaten Solok tersebut. Ia mewanti-wanti kepala sekolah yang tidak sanggup memimpin dan menerima sistem pendidikan berbasis pesantren untuk mundur.

“Bupati meminta Kepala sekolah yang tidak sanggup, silahkan angkat tangan dan akan diganti dengan yang siap. Tapi kalau sudah angkat tangan, tidak ada lagi kepercayaan pimpinan kepala daerah bagi yang bersangkutan,” tuturnya.

Untuk teknis pelaksanaan, pihaknya sudah melakukan seleksi guru agama yang berkualitas untuk mendukung penambahan kurikulum keagamaan di masing-masing sekolah. “Sudah disiapkan 70 orang guru yang berkompeten. Sayangnya program SUBP ini terkendala Covid-19,” ungkapnya.

Lebih lanjut Nila menjelaskan, sesuai yang disebutkan H. Sakar Soeib, Bupati ngotot menerapkan SUBP itu menjadi program unggulan, karena dinilai baik untuk membentuk moral generasi penerus yang agamais dan mengerti etika. “Sekarang sangat banyak sekali generasi muda kita yang salah jalan, terjerumus narkoba dan pergaulan bebas serta LGBT. Jadi beliau berkeinginan agar SUBP ini bisa mencegah hal yang negatif tersebut,” bebernya. (wan)