Anggota Dewan Jangan Hanya Dekati Masyarakat Saat Mencari Suara Saja

SOLOK, KP – Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat di seluruh Indonesia, calon anggota dewan atau Kepala Daerah hanya akan dekat ke masyarakat ketika waktu akan ada Pemilihan anggota legislatif atau Pilkada. Karena mereka butuh suara untuk mencapai tujuan mereka. 

Hal itu terjadi baik bagi calon anggota dewan atau Kepala Daerah yang akan mengincar kursi di DPR, DPRD, DPD atau untuk menjadi calon Kepala Daerah. Namun setelah harapan mereka diantarkan masyarakat, biasanya mereka lupa dengan yang memilih. Mereka tidak lagi sadar kalau mereka dipercaya masyarakat mewakili suara mereka menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. 

“Hal ini sudah tidak aneh lagi bagi masyarakat kita. Rata-rata masyarakat mengumpat, mencela serta membenci wakil mereka, karena banyak perilaku wakil mereka seperti kacang lupa kulitnya,” tutur tokoh masyarakat Kabupaten Solok H. Syamsu Rahim, Senin (28/9) saat menerima kunjungan Balon Wakil Bupati Solok H. Yulfadri Nurdin dan rombongan.

Ditambahkan mantan Bupati Solok 2010-2015 itu, krisis kepercayaan masyarakat kepada pemimpin atau wakil mereka di DPRD, DPR RI atau DPD RI adalah hal biasa. Namun kalau ditelaah kata dia, bila tidak lagi amanah, maka tanggunglah dosanya di akhirat kelak. “Saya tidak menuding semua anggota dewan atau pemimpin seperti itu, tetapi rata-rata dari yang kita lihat ya seperti itu,” jelas Syamsu Rahim.

Saat ini jelasnya, di Kabupaten Solok sudah memasuki masa kampanye Pilkada untuk pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Solok periode 2021-2025. “Jawablah kepercayaan masyarakat dengan kerja nyata bila nanti di antara kita diamanahkan untuk jadi pejabat atau dewan,” tambahnya.

Sementara itu Dosen Fakultas Hukum dari Universitas Indonesia (UI) Depok, Hartono menyebutkan, kebiasaan para wakil rakyat yang jauh berubah sebelum terpilih menjadi anggota legislatif atau eksekutif, juga dipengaruhi perilaku wakil mereka yang setelah mereka duduk akan mendapat fasilitas yang jauh lebih ‘wah’ dari kebiasaan mereka sehari-hari sebelum terpilih. Seperti fasilitas kendaraan, tidur di hotel berbintang. Semua kebutuhan dilayani atau lainnya, jelas salah satu penyebab pola hidup dan gaya berpikir mereka berubah.

“Namun sebenarnya, kalau kita menyadari, semua fasilitas yang diberikan adalah dalam rangka untuk melayani masyarakat, bukan hanya untuk kemewahan pribadi dan keluarga. Apalagi seorang wakil rakyat, tentu mereka harus sadar bahwa mereka diberi fasilitas untuk memperjuangkan rakyat yang mereka wakili,” terang Hartono.

Ditambahkannya, banyak kasus perselingkuhan terjadi di kalangan anggota DPR dan DPRD selama ini didengar, karena mereka sudah seperti raja dan semua kebutuhan dipenuhi, termasuk masalah makan, berpergian, waktu sidang. “Bahkan kita tidak tahu kalau ada juga anggota dewan minta dilayani hingga ke mandi-mandi,” pungkasnya. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pilkada Kabupaten Solok Diharap Lahirkan Kepala Daerah yang Amanah

Sen Sep 28 , 2020
SOLOK, KP –Para tokoh masyarakat dan pemimpin di Kabupaten Solok […]