Cukuplah Sekali

CUKUPLAH sekali ini peristiwa memalukan ummat terjadi di Sumatra Barat. Bendahara masjid menyelewengkan dana infak Masjid Raya Sumbar. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya miliaran rupiah. Milik Semakin memalukan, pelakunya pegawai negeri Kantor Gubernur berinisial ‘YR’. Jabatannya rangkap. Sebagai bendahara pengeluaran pembantu pada Biro Binsos dan KesraSetprov Sumbar, Bendahara Masjid Raya Sumbar, Bendahara UPZ Tuah Sakato, dan pemegang kas PHBI. Jabatan empat rangkap ini dipegang YR dalam kurun waktu 2010-2019 lalu. Begitu diberitakan KORAN PADANG terbitan Jumat (11/9) di halaman 1 dengan berita berjudul ‘Kasus Dugaan Korupsi dana Infak Masjid Raya Sumbar, Berkas Dinyatakan Lengkap, Tersangka YR Segera Disidang’.

Dari pemberitaan media ini tergambar bahwa YR termasuk pegawai yang cukup dipercaya atasan selama ini. Empat jabatan keuangan dipercayakan kepada yang bersangkutan. Luar biasa. Boleh jadi yang bersangkutan termasuk ASN yang mahir administrasi keuangan. Apalagi mayoritas dana yang dipegangnya selaku bendahara adalah dana infak atau dana partisipasi ummat.

Nyatanya, kepercayaan ‘berlebihan’ yang diberikan atasan ‘YR’ membuat imannya ‘goyah’ juga. Kasusnya terbongkar. Kini YR ‘membayar hutang’ guna mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Yang bersangkutan sudah dikirim ke Rutan Anak Airdan segera menjalani persidangan.

Tangan mencencang, bahu memikul. Begitulah posisi ‘YR’ sekarang. Pantas direnungkan bahwa mempertanggungjawabkan keuangan itu sangatriskan. Resikonya besar. Sangat disayangkan kepercayaan atasan yang begitu luar biasa pada ‘YR’ karena diberi amanah mengelola keuangan empat lembaga milik ummat.

Kenapa begitu tinggi kepercayaan atasan ‘YR’ kepadanya? Padahal diperkirakan masih banyak ASN lainyang juga menguasai soal keuangan. Tentu beban kerja yang bersangkutan juga cukup berat dipikulnya. Apalagi berkaitan dengan uang. Banyak godaannya.

Kasus ini mungkin bisa jadi pelajaran agar jangan begitu mudahnya memberikan tugas rangkap berkaitan dengan keuangan pada ASN. Apalagi berhadapan dengan dana ummat.

Harapan kita, ke depannya jangan muncul lagi kasus serupa. Untuk yang telah terjadi, apa boleh buat. Nasi sudah jadi bubur. Kita hanya bisa berucap prihatin. Biar hukum saja yang menyelesaikan.

Cukuplah sekali ini kasus keuangan masjid sampai ke meja hijau. Masjid Raya pula lagi. Jangan pisang sebatang sampai berbuah dua kali.

Semoga pegawai atau bendahara yang diberi kepercayaan mengelola uang masjid, dana zakat, dan yang sifatnya uang ummat hendaknya mereka yang punya telunjuk lurus dan kelingking tidak berkait.

Kasus yang menimpa Masjid Raya Sumbar ini perlu dijadikan pelajaran berharga. Jangan terjadi pula menimpa rumah ibadah lainnya di daerah ini. Wajib rasanya seluruh pengurus masjid di Sumbar benar-benar transparan mengelola keuangan. Pantas pula diinformasikan teratur pada jemaah sesuai kesepakatan. Baiknya keuangan masjid dan kegunaannya dilaporkan secara terbuka setiap Jumat.

Semoga tak terjadi lagi tragedi memalukan warga daerah ini. Ingat dosa dan neraka, Insya Allah tak terjadi lagi hal yang memalukan. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Perda Adaptasi Kebiasaan Baru Disahkan, Tak Pakai Masker Didenda Rp250 Ribu

Jum Sep 11 , 2020
PADANG, KP-DPRDSumbarbersama PemprovSumbar menyepakati Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda)Adaptasi Kebiasaan Baru […]