Investasi yang Tak Tergerus Pandemi

LUBUKBASUNG, KP – Berawal dari kekurangan pasokan sapi kurban yang terjadi setiap Idul Adha, membuat pemilik Raudhah Farm, Firdaus M. S.Si harus memutar otak. Alhasil, dirinya menjadikan alasan tersebut untuk membuka peluang investasi sekaligus melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat petani setempat.

“Mulai dari tahun 2016 kami selalu kekurangan sapi untuk memenuhi pasar kurban, lebih-lebih di saat PSBB beberapa waktu lalu kita tidak bisa beli sapi luar, lalu saya berpikir kenapa ini tidak dijadikan peluang untuk menggaet pemodal sekalian membantu petani,” ujarnya di Lubukbasung, Senin (28/9).

Dijelaskan lebih lanjut, tabungan sapi merupakan jenis usaha investasi dengan menggunakan sistem mudharabah atau bagi hasil. Selanjutnya, dirinya menyakini investasi dalam bentuk sapi betina tidak tergerus oleh inflasi maupun pandemi Covid-19.

“Kemudian Idul Adha tahun ini bisa jadi patokan, semula karena pandemi Covid-19 kita mengira yang berkurban mengalami penurunan, namun antusias yang berkurban tetap tinggi,” tuturnya.

Dirinya menilai, investasi dalam bentuk sapi merupakan usaha yang terus bergerak, berbeda dengan investasi dalam bentuk emas maupun deposito.

Untuk menginvestasikan satu ekor sapi di Raudhah Farm, pihaknya membuka empat macam pola. Pertama pembelian secara cash, kedua melalui tabungan, ketiga dengan cara kredit dan terakhir melalui arisan sapi.

“Untuk cash sekarang harga sapi berkisar antara Rp12,5 juta hingga Rp15 juta. Kalau tabungan prinsipnya sama dengan tabungan umroh, jika sudah setara satu ekor sapi baru diberikan sapi dalam bentuk fisik,” jelas Firdaus.

Disebutkan, sapi yang sudah bisa dijual akan dibagi hasil dengan rincian 40 persen untuk si pemodal, 50 persen untuk petani pengelola dan 10 persen untuk manajemen.

Bermodal pengalaman sejak 2013, Firduas menyakini pengelolaan sapi betina secara tradisional, peluang perkembangbiakan jauh lebih besar ketimbang konvensional. Dalam pengamatannya, satu sapi bisa menghasilkan satu anak sapi dalam setahun.

“Jadi ketika pemodal memutuskan menginvestasikan sapi, maka petani dari Raudhah Farm akan mengelolanya secara “dikimpau”, atau digembalakan di padang rumput, kemudian kalau malam baru dibawa ke kandang. Berdasarkan pengalaman, cara ini lebih cepat menghasilkan anak sapi,” ucapnya.

Untuk menjamin keamanan, Raudhah Farm memberi garansi dalam bentuk perjanjian kerjasama melalui akte notaris. Kemudian, pihaknya menyediakan aplikasi yang bisa diunduh di playstore, guna melihat perkembangan sapi tersebut.

Terkait risiko kematian atau kehilangan sapi, pihaknya membagi kedalam dua kategori. Jika sapi mati karena kelalaian pengelola maka akan diganti, namun jika mati karena sakit, katanya, pengelola dan pemodal sama-sama akan rugi.

“Artinya, kami sebagai pengelola menjaga betul agar sapi ini tidak sakit ataupun hilang, karena kami menjaga kepercayaan investor,” katanya.

Saat ini, ada ratusan ekor sapi yang tengah dikelola dengan belasan masyarakat petani pengelola. Lahan pengelolaan tersebut tersebar di Nagari Bawan dan Lubukbasung.

“Untuk peserta sekarang dari kalangan beragam, ada PNS, TNI, Polri, pedagang dan masih banyak lagi,” ucapnya. (amc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sambung Pucuk Hasilkan Bibit Unggul

Sen Sep 28 , 2020
LUBUKBASUNG, KP – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Agam menyediakan bibit unggul untuk masyarakat Kabupaten Agam, dengan melakukan sambung pucuk beberapa bibit tanaman. “Sambung pucuk ini baru pertama kami lakukan untuk menghasilkan bibit unggul,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, melalui Kabit Hortikultura, Sari Mustika di Lubukbasung, Senin (28/9). Sari Mustika […]