‘VCS’ MEMBAWA PETAKA, Menyamar Jadi Perempuan, Oknum Mahasiswa Peras ‘Pasangannya’ Hingga Rp12 Juta

PEKANBARU, KP – Seorang mahasiswa berinisial RRY alias R (23 tahun) warga Kubu Marapalam, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, ditangkap Ditreskrimsus Polda Riaudi tempat tinggalnya.Pasalnya, R diduga melakukan pemerasan disertai ancaman terhadap AFM yang merupakan ‘pasangan’ video asusilanya.

“Pelaku mengancam akan menyebarkan rekaman Video Chats Seks (VCS)-nya dengan korban apabila korban tidak memenuhi keinginannya. Selama ini korbansudah mengirimkan uang pada pelaku hingga mencapai Rp12 juta karena takut aibnya tersebar,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Riau Kombes Pol Andri Sudarmadi, Minggu (13/9).

Kasus ini terbilang unik. Sebab, korban baru mengetahuikalau dirinya ternyata ditipu mentah-mentah oleh pelaku. Pasalnya, selama mereka berkomunikasi, R mengaku seorang wanita dan tampil selayaknya wanita.

Awalnya, terang Andri, pelaku mengajak korban berkenalan lewat aplikasi video chat ‘Bermuda’. Selanjutnya mereka sepakat berkomunikasi lewat WhatsApp (WA).Yakin pelaku adalah cewek, korban melakukan video call sex dengan pelaku. Korbantidak sadar kalau videonya dengan pelaku direkam pelaku. Bermodalkan rekaman video itu pelaku memeras korban dengan ancaman kalau tidak diberikan uang, pelaku akan menyebar videonya ke media sosial dan WA.Lelah diperas terus-terusan, akhirnya AFM membuat laporan ke Polda Riau pada 3 Agustus 2020 silam.

“Penyidik langsung melakukan monitoring hingga akhirnya pelaku terdeteksi berada di Sumbar. Pelaku kemudian dijemput penyidik Subdit 5 Ditreskrimsus Polda Riau di kediamannya di Kota Padang,”kata Andri.

Dalam kasus ini, lanjutnya, pelaku dinilai telah melanggar pasal 45 Ayat (1) Jo Pasal 27 Ayat (1)  dan/atau Pasal 45 Ayat (4) Jo Pasal 27 Ayat (4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik yang berbunyi bahwasetiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman, diancam pidana 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp1 miliar.

Saat mengamankan pelaku, bebernya, beberapa barang bukti turut disita antara lain laptop, 4 buah handphone berbagai merek, harddisk, dua buah buku tabungan bank, dua buah kartu ATM, 19 set pakaian wanita, alat make up, dan barang lainnya yang diduga dibeli dari uang hasil pemerasan.(gbc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Calon Gubernur Hebat

Sen Sep 14 , 2020
EMPAT tokoh ternama Sumbar sekarang sedang berusaha mendapatkan dukungan maksimal […]