Tinggal Dua kelompok perajin Batik Sampan yang Masih Bertahan di Pariaman

PARIAMAN, KP – Produksi Batik Sampan di Kota Pariaman kembali menggeliat, tak lepas dari bantuan Dinas Perindagkop.Menurut Kepala Dinas Perindagkop Kota PariamanGusniyeti Zaunit saat ini ada dua kelompok perajin Batik Sampan yang masih bertahan, yakni di Desa Sungai Kasai dan Desa Pungguang Ladiang.

“Ada dua kelompok perajin Batik Sampan yang masih bertahan hingga kini. Saat pandemi datang usaha batik tersebut sempat ‘guncang’ lalu kami dukung dengan menambah modal serta membeli produk usaha batik,”ungkap Gusniyeti, kemarin.

Ia menjelaskanproduksi batik yang dibeli pihaknya semata-mata untuk membantu para perajin agar tidak berpindah profesi. Produksi yang dibeli itu kemudian diberikan kepada dinas-dinas pemerintahan di Kota Pariaman.

Ia mengungkapkanpada akhir Maret lalu pandemi membuat para perajin kewalahan lantaran pasar sepi. Sejak itu pula dinas terkait membantu perajin untuk bertahan. Di kota Pariaman ada dua kelompok perajin Batik Sampan yang masih bertahan

Sementara, perajinbatik Sampan dari Desa Sungai Pasai, Rahmayeni (30 tahun) yang mempunyai delapan orang anggota menjelaskan awal dirinya merintis usaha batik tersebut. Usahanya diberi nama IKM Pesona Minang.

“Pada Oktober 2019 saya pulang dari rantau. Sampai di Pariaman saya lihat peluang ekonomis dari usaha Batik Sampan. Dari sana lah saya memulai usaha secara manual,” jelas Rahmayeni.

Produksi pertama Batik Sampan Rahmayeni yang bermotif Tabuik diperlihatkan kepada Dinas Perindagkop. “Kepala dinas datang langsung ke sini dan bersedia membantu. Lalu saya diajak mengikuti pelatihan dan juga dibantu hal lainnya sehingga sampai sekarang masih bertahan,” jelasnya.

Rahmayeni menyebut dalam sebulan mereka bisa mengerjakan puluhan Batik Sampan dengan motif Tabuik, Sala, dan ikon Pariaman lainnya.Anggotanya dapat bayaran setiap harinyamulai dari Rp40 ribu hingga Rp50 ribu. Sedangkan harga Batik Sampandibanderol mulai dari Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.

Penuturan Rahmayeni senada dengan penjelasan Dewi, perajin Batik Sampan 3 Diva di Desa Pungguang Ladiang.”Kami ada 10 anggota yang bekerja dari Senin hingga Sabtu. Dalam sebulan bisa mengerjakan sekitar 30 batik dengan motif ikon Kota ariaman ,” jelas Dewi.Saat ini pihaknya sedang menggagas pemasaran online karena tuntutan pandemi. “Ya,sejak pandemi kami harus mencari peluang pemasaran melalui onlinekarena kondisinya seperti itu,”ujar Dewi.(ip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Momen Hari Kesaktian Pancasila Berikan Kesempatan Mengenal Kembali Ideologi Bangsa

Kam Okt 1 , 2020
SOLOK, KP – Bupati Solok H. Gusmal, mengikuti Upacara Bendera Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, secara virtual di Guest House Arosuka, Kamis (1/10). Tampak hadir pada peringatan tersebut Kapolres Solok Arosuka AKBP Azhar Nugroho, Sekda Aswirman, Ketua PN Koto Baru, Dandim 0309 Solok/mewakili, Kapolres Solok Kota/mewakili, Kasat Pol PP Dan […]