27 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Gamawan Fauzi Minta Sumbar Belajar Konsep Pembangunan ke Singapura dan Bhutan

PADANG, KP – Mantan Menteri Dalam Negeri RI Gamawan Fauzi mengajak Pemprov Sumbar belajar konsep pembangunan ke Singapura dan Bhutan yang konsisten mengoptimalkan kelebihan dan mengeliminir kelemahan yang ada untuk memajukan daerah

“Pembangunan bukanlah mengambil atau memindahkan sebuah konsep dari negara atau daerah yang sudah terbukti maju dan memindahkan ke Sumbar, namun harus disesuaikan dengan kondisi yang kita miliki,” kata Gamawan dalam Rapat Paripurna Istimewa HUT Sumbar ke-75 di Gedung DPRD Sumbar, Kamis lalu (1/10).

Ia mengatakan setiap daerah memiliki kondisi, situasi, potensi, peluang, tantangan dan hambatan yang berbeda. Menurutnya, Sumbar dapat menarik pelajaran dari Singapura dan Lee Kuan Yew muda yang baru menamatkan sekolah di Inggris dan melakukan analisa yang sungguh-sungguh mencari cara memajukan Singapura.Lee belajar dari New York sebagai kota bisnis terbesar di dunia dan Frankrut sebagai kota perbankan di Eropa.Kemudian Singapura merumuskan kebijakan dimulai dari industri perbankan dan perdagangan dengan memperbaiki kekurangan model perbankan dan bisnis perdagangan.

“Singapura konsisten dengan konsepnya sehingga memetik hasil seperti sekarang,” katanya.

Gamawan menilai sejak awal orde baru, Sumbar dengan Padang sebagai ibukota tidak semegah ibukota provinsi lain namun hal itu bukan segalanya jika bangunan besar seperti hotel, perkantoran, dan gedung-gedung itu bukan milik masyarakat setempat.

“Apabila pusat perbelanjaan, hotel, dan tempat hiburan yang berskala besar itu tidak milik masyarakat Sumbar maka uang yang dihasilkan akan mengalir kepada pemilik modal yang ada di luar Sumbar, bahkan di luar negeri,” ulasnya.

Mantan Bupati Solok itu menilai kebijakan saat ini sudah tepat karena semua dimiliki masyarakat Sumbar dan membuat uang beredar dan dinikmati masyarakat Sumbar.

“Saya merasa bangga dan banyak masyarakat luar Sumbar yang kagum karena di sini tidak tumbuh minimarket yang punya jaringan internasional namun lokal yang dikelola masyarakat. Ini bukan diskriminatif, tapi kebijakan melindungi usaha ekonomi lokal,” kata dia.

Ditambahkannya, hal yang perlu dilakukan adalah memberikan kemudahan bagi pengusaha lokal dan mengajak para perantau yang bermodal kuat berinvestasi di Sumbar.

Selain itu, ia juga mengajak pemerintah daerah belajar ke sebuah negara kecil Bhutan yang menjaga nilai tradisi mereka. Negara ini terdiri dari hutan dan bukit serta berlembah yang dipelihara kelestarian hutannya.Dalam kesehariannya masyarakat Bhutan selalu menggunakan pakaian tradisional namun mereka tidak menutup diri dari teknologi dan modernisasi.

“Kemajuan teknologi dan modernisasi tidak mendegradasi nilai tradisi mereka dan negara ini menjadi negara dengan index kebahagiaan tertinggi di Asia,” kata Gamawan.

Menurutnya, Sumbar akan selalu menghadapi tantangan yang berat dalam memelihara tradisi dan nilai luhurnya. Masyarakat Sumbar terbuka pada kemajuan namun kemajuan tidak boleh bertentangan dengan nilai agama dan adat.”Kita buang yang buruk dan terima yang baik sehingga kemajuan diraih sebagai berkah ilmu pengetahuan dan wawasan luas dalam landasan iman yang kuat,” kata Gamawan.

Pada Rapat Paripurna Istimewa Peringatan Hari Jadi Sumatera Barat ke-75 itu turut hadir unsur pimpinan DPRD Sumbar, Gubernur Irwan Prayitno, tokoh masyarakat Sumbar,sejarawan Minangkabau dari UNPYulizal Yunus, Sekdaprov Sumbar Alwis, unsur forkopimda, dan undangan lainnya. (ant)