27 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Kisah Pilu Ismael, Saksi Hidup Gempa 30 September 2009

PARITMALINTANG, KP – 30 September 2009 menjadi sejarah memilukan bagi Sumatra Barat. Kebahagiaan seakan direnggut paksa oleh alam yang berguncang dan tanah yang melahap perkampungan. Gempa dengan kekuatan 7,6 SR itu menjadi ajang penghabisan nyawa secara massal. Semua panik, semua menangis, semua teriris. Betapa mengerikannya alam saat itu. Tanah dan bukit yang menjadi tempat menarinya rerumputan dan bunga-bunga seakan hidup dan menelan banyak jiwa yang sedang istirahat dan berkumpul bersama sanak dan keluarga. 

Rabu sore itu, sekitar pukul 17.13 WIB, Nagari Lubuk Laweh, Cumanak, dan Kapalokoto di Kabupaten Padangpariaman diguncang gempa dan tanah longsor. Orang-orang yang selamat banyak kehilangan orang yang dicintai, keluarga, sahabat, dan harta. Banyak cerita yang dapat dituliskan dalam buku kenangan buruk. Sangat banyak. Beberapa korban yang selamat bahkan masih ingat betapa suramnya kejadian yang berlangsung hanya dalam waktu dua menit itu.

Ismael, merupakan salah satu korban yang banyak mendapatkan kenangan buruk atas kejadian tersebut. Banyak cerita yang dapat didengar darinya. Diary kesedihan berwarna suram seakan penuh dengan air mata lara.

“Pada saat itu pukul 17.13 WIB, gempa berguncang hebat, saya pikir itu cuman gempa saja. Ternyata ada longsor dan saya berlari ke belakang rumah. Pada saat saya berada di pintu dapur, rumah saya sudah tertimbun longsor begitupun dengan saya. Badan saya tertimbun sedalam leher, bahkan kaki saya terjepit puing-puing bangunan. Saya berteriak dalam ketakutan dan berharap ada yang menolong,” kata Ismael.

Memang, pada saat itu banyak kejadian yang susah untuk diutarakan. Mayat bergelimpangan, rumah-rumah tertimbun bagaikuburan. Semua rata dengan tanah seperti gurun yang muram. Kampung itu dikelilingi asap yang tebal. Terdengar suara-suaraminta tolong dari kejauhan yang tidak tahu asalnya. Isak tangis keluar dari wajah Ismael. Pria kelahiran tahun 1986 itu hanya menunggu pertolongan dari orang-orang. Bukannya pasrah, tetapi badan yang tertimbun itu tidak bisa digerakkan.

“Pada jam tujuh malam, perjuangan saya akhirnya terjawab. Suara minta tolong saya terdengar orang-orang yang ada di kampung seberang. Mereka beramai-ramai berusaha membongkar dan menggali tanah-tanah mengeluarkan saya dari timbunan longsor. Penggalian tanah cukup sulit karena banyak material bangunan yang menghalangi. Bahkan kaki saya terjepit. Setelah penggalian itu sudah sampai pinggang saya, saya jadi bisa bernafas dengan leluasa. Tetapi hanya bisa sampai disitu karena sulitnya akses penggalian ke bagian kaki karena terjepit puing-puing bangunan,“ lanjutnya.

Karena kondisi pada saat itu gelap dan hanya ditemani penerangan dari warga, maka Ismael tidak bisa ditolong bahkan dikeluarkan dari tumpukan tanah. Selama 18 jam, Ismael hanya ditemani warga yang berjaga dan sesekali diberi minuman agar bisa bertahan dalam cuaca dingin yang menusuk.

“Jam 11.00 WIB warga berhasil mengeluarkan saya dari tumpukan tanah secara total. Dengan kondisi yang memilukan, saya langsung dibawa ke Rumah Sakit Pariaman. Akses jalan keluar desa hancur akibat gempa sehingga saya dan warga susah untuk tiba di rumah sakit dengan cepat. Saya tiba di rumah sakit jam empat sore dan langsung dibawa ke IGD,” ujar pria yang sekarang menjabat sebagai Walikorong Lubuk Laweh Jajaran itu.

Tidak hanya sampai di situ saja, Ismael bahkan mengalami kelumpuhan selama satu tahun akibat luka di kakinya karena tterkena material bangunan. Sedangkan pengobatan selama di rumah sakit didapati Ismael dengan gratis. Dengan kondisi dan masalah yang dihadapi, ia tetap berjuang dan melanjutkan hidup dengan semangat. Ia menjadikan peristiwa itu pelajaran dan kisah pilu yang tidak bisa dilupakan. Ia bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup.

Selang setahun setelah kejadian yang merenggut ribuan nyawa itu, pemkab Padangpariaman berinisatif membangun monumen yang menjadi saksi sejarah bencana memilukan itu. Monumen gempa itu berupa patung-patung dan ukiran menggambarkan visual yang sedikit membuat bulu kuduk berdiri, yaitu pengambaran mayat-mayat bergelimpangan tertimpa longsor dan material bangunan. Di bawah patung-patung itu terdapat tembok persegi dengan nama-nama korban gempa yang ditulis dalam prasasti. Pembangunan monumen gempa itu tidak hanya menjadi bukti kenangan warga sekitar, tetapi juga warga Sumbar yang ingin bernostalgia kelam untuk kejadian yang tidak terlupakan tersebut.

Sayangnya, saat ini monumen tersebut sudah terlihat tidak terawat dan ditumbuhi lumut yang menggorogoti beberapa sisi monumen. Walaupun begitu, masih ada masyarakat yang mengunjungi monumen tersebut, bukan hanya warga Sumbar tetapi juga dari mancanegara.

Sulitnya akses karena jalan yang kian rusakmembuat pengunjung makin berkurang untuk datang ke monumen yang menjadi maskot gempa Sumbar 30 september 2009 tersebut. Padahal, pemandangan yang disuguhkan di sepanjang jalan dari nagari Kapalokoto hingga Lubuk Laweh sangatlah indah. Dengan gunung tiga yang membentang di atas Nagari Cumanak, membuat pemandangan yang menghubungkan tiga nagari itu terasa begitu indah dan asri. Di sepanjang jalan terlihat sungai yang mengalir dan ada bendungan yang sering dikunjungi wisatawan untuk menikmati keindahan sekitar.

Dalam perawatan monumen itu, masyarakat dengan alat seadanya bersama-sama membersihkan monumen dikarenakan tidak adanya biaya perawatan dari pemerintah. Padahal monumen tersebut bisa menjadi tempat pariwisata yang bisa menunjang perekonomian sekitar. Apalagi didukung dengan pemandangan yang indah, hal ini bisa menjadi tujuan yang bagus sebagai wisata sejarah.

“Saya berharap Pemkab Padangpariaman akan lebih memperhatikan lagi akses jalan dan pembangunan yang menjadi maskot gempa 30 September 2009. Karena masih banyak hal yang perlu diperhatikan jika tempat ini dijadikan sebagai tempat wisata dan juga dapat menjadi sumber penghasilan bagi warga sekitar seperti menjual minuman, makanan, dan warung-warung yang bisa dijadikan sebagai tempat istirahat. Walaupun pemerintah nagari telah menyediakan beberapa fasilitas seperti irigasi air, tempat wudhu dan salat, tetapi itu masih belum cukup untuk menjadikan monumen gempa ini tempat tujuan wisata sejarah,” tutup Ismael. (war/*)