Randai, Teaterikal Minangkabau yang Sarat Pesan Moral

LUBUKBASUNG, KP – Meski tak seriuh dua dekade sebelumnya, seni tradisi Minangkabau Randai boleh dibilang tetap eksis di masa kini. Pasalnya sejumlah remaja di Lubukbasung masih semangat mendalami teaterikal ala Minangkabau tersebut.

Bagi Kelompok Randai Antokan Sakti, seni yang mengombinasikan gerak silat dan kepiawaian bertutur itu dijadikan sarana membentengi generasi muda dari huru-hara.

“Pada dasarnya, selain melestarikan tradisi klasik nenek moyang, kami juga ingin mengajak anak-anak sekarang untuk tidak terpengaruh dengan huru-hara yang merusak masa depan,” ujar Ketua Randai Antokam Sakti, Maizul Amri St. Pamenan di Lubukbasung, Sabtu (3/10).

Selain itu, pendirian sangar randai yang dinakhodainya juga ingin mengembalikan jati diri generasi Minang yang cintai budaya sendiri.

Menurutnya, pergaulan muda-mudi di zaman modren ini akan tidak terkontrol jika tidak ada wadah yang dapat menempa karakter dan kepribadian.

Dijelaskanlebih lanjut soal randai, Maizul Amri St. Pamenan menyebut randai merupakan salah satu permainan tradisional asli Minangkabau.

Dalam permainan ini, sekelompok pemain akan berdiri membentuk lingkaran kemudian berjalan perlahan-lahan dengan gerakan silat yang sudah dimodifikasi.

“Masing-masing pemain akan menyampaikan nyanyian-nyanyian yang bercerita, juga ada satu tukang dendang yang menyampaikan alur cerita,” jelasnya.

Dikatakan, randai dalam sejarah Minangkabau konon kabarnya sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padangpanjang ketika masyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut.

Randai di Minangkabau seni teaterikal yang memainkan kaba atau hikayat Minang, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.

Pada awalnya, tukasnya lagi, randai merupakan media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau.

Maizul Amri St. Pamenan menambahkan melalui gerakan dan cerita yang dimainkan ada hikmah atau pesan moral yang dapat diambil. Menurutnya sebelum memulai permainan ataupun alur cerita yang dimainkan menggambarkan jati diri Minangkabau yang mempedomai falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

“Ini yang kita yakini bisa menjadi pegangan anak-anak muda untuk menghadapi masa depan, tak lakang dek paneh dan tak lapuak dek hujan,” ujarnya.

Meski anak muda sekarang sudah terlanjur terlena dengan hiburan masa kini, dirinya optimis seni teaterikal ala Minangkabau tersebut tetap mendapat tempat di hati generasi muda Minangkabau.“Buktinya kita bisa lihat malam ini, sejumlah anak muda tetap semangat mengikuti latihan hingga selarut ini,” pungkasnya. (amc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Karang Taruna Baringin Kembangkan Budidaya Jahe

Ming Okt 4 , 2020
PADANG, KP – Karang Taruna (KT) Kota Padang mendukung dan mengapresiasi program-program produktif yang telah digerakan oleh Karang Taruna melalui Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Hal itu disampaikan Ketua Karang Taruna Kota Padang Yaldi Chaniago saat kunjungannya bersama Karang Taruna Baringin ke UEP budi daya jahe Tunas Muda di Kelurahan Baringin, Kecamatan Lubuk […]