18 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Bantu Perajin, Pemko Pariaman Pesan Ratusan Sajadah Batik

PARIAMAN, KP – Pemerintah Kota Pariaman memesan 250 unit sajadah bermotif batik kepada perajin di daerah itu guna membantu mereka agar dapat bertahan di masa pandemi Covid-19. “Pada Maret usaha perajin batik mulai turun, kami berupaya membantu dengan memesan masker motif batik untuk dibagikan kepada warga, lalu sekarang kami memesan sajadah,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Pariaman, Gusniyetti Zaunit di Pariaman, Senin (5/10).

Dikatakannya, sajadah tersebut nantinya juga akan dibagikan kepada warga di daerah itu yang tidak hanya sebagai sosialisasi penggunaan alat ibadah pribadi di masa normal baru, namun juga mempromosikan kerajinan Batik Sampan kepada masyarakat luas. Upaya tersebut dilakukan agar perajin batik di daerah itu tidak beralih profesi akibat pandemi Covid-19.

Untuk meningkatkan penjualan lanjutnya, pihaknya menekankan kepada perajin agar menjual produknya melalui media sosial atau daring agar jangkauan promosinya jauh lebih luas. “Di masa pandemi ini kita tidak bisa memaksakan berdagang secara langsung, namun harus melalui online (daring),” katanya.

Ia menjelaskan, Pariaman merupakan daerah pertama di provinsi itu yang memiliki perusahaan batik pada 1946 yang berlokasi di Dusun Sampan, Desa Pungguang Ladiang, Kecamatan Pariaman Selatan. Karena lokasi pertama pengembangan batik tersebut berada di Dusun Sampan maka nama batik di Pariaman disamakan dengan nama daerah itu, yakni Batik Sampan.

Namun kata dia, usaha tersebut redup dan bahkan mati suri karena kurangnya modal dan keterampilan sehingga pada tahun lalu Pemko Pariaman kembali mengangkat budaya membatik di daerah itu. Setidaknya hingga sekarang terdapat dua kelompok perajin batik di Pariaman, yaitu di Desa Sungai Kasai dan Desa Pungguang Ladiang di Pariaman Selatan.

Adapun motif batik yang berkembang di daerah itu, yakni motif dalamak, motif tabuik sebagai ikon wisata dan budaya Pariaman, sala yang merupakan kudapan khas Pariaman, serta motif sulam banang ameh yang merupakan kerajinan khas Pariaman.

Sementara itu salah seorang perajin batik, Rahmayeni mengatakan, di awal pandemi Covid-19, usaha yang dijalankan mengalami kerugian akibat tidak ada pembeli. “Tidak ada pembeli sama sekali, bahkan perajin banyak yang beralih profesi,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Yeni menjadikan kain batik yang tidak terjual menjadi masker dan dipromosikan melalui media sosial sehingga diketahui pemerintah setempat lalu membeli produk yang dibuatnya. “Setelah memasuki tatanan normal baru pembelian batik mulai normal,” tambahnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, dengan adanya pembelian batik baik berupa masker maupun sajadah yang sedang dipesan oleh Pemko Pariaman, dapat membantu usaha yang dimilikinya agar dapat bertahan di masa pandemi Covid-19. (ip)