24 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Batik Pariaman

BATIK ‘Sampan’ khas Pariaman akhir-akhir ini kembali menggeliat. Ini tak lepas dari upaya Pemko Pariaman yang terus berusaha mempopulerkan industri daerahnya itu agar diminati banyak orang. Bahkan,pemko sengaja memesan batik sampan motif sajadah agar perajin semakin bersemangat dan peminatnya terus bertambah. Begitu diberitakan KORAN PADANG terbitan Selasa (6/10).

Sebenarnya, industri batik di Sumbar dengan beragam coraksudah lama diproduksi perajin di daerah ini. Sayangnya, masih kewalahan dalam bersaing dengan batik produksi luar daerah. Baik harga maupun motifnya. Kendala ini perlu didalami perajin maupun pembina yang langsung dipegang lembaga pemerintahan daerah setempat.

Terus terang saja, batik produksi berbagai daerah di Sumbar warnanya kurang ‘memanggil’ calon peminat. Kaku dan tampilannya tak begitu menyentuh. Meski berkualitas, tapi kalah pada corak dan warnadibanding dengan batik luar daerah, seperti Jogja, Solo, dan sekitarnya.

Dalam suatu pertemuan dengan pebisnis batik Jogja-Solo yang sukses berusaha di Sumbar, penulis minta komentar tentang batik produk Sumbar. Dikatakannya, ‘pewarnaan’ batik urang awakmasih agak kaku. Bahkan harganya terbilang mahal. Harus diakui, sampai saat ini dalam urusan batik-membatik kita memang belum mampu menyaingi batik ‘tanah seberang’.

Untuk mengatasi beragam problema yang dihadapi perajin batik di Sumbar, sudah sangat pantas mereka secara bertahap diikutkan studi banding ke perkampungan batik di Jogja ataupun Solo.Silahkan saja pilih lokasi yang disukai, termasuk Pekalongan atau yang lainnya.

Selama ini yang tiap saat ke luar daerah kebanyakan aparat pemerintahan saja. Sementara pelaku usaha seakan terlupakan. Boleh jadi salah satu ketertinggalan kita tak menempatkan pelaku usaha industri kerakyatan sebagai pelaku kemajuan yang sejatinya perlu diperhatikan secara maksimal.

Kita di Sumbar masih belum melihat tempat khusus untuk mempromosikan produk-produk khas daerah. Bagi pembaca yang pernah ke kawasan Malioboro di Jogja, tentu paham bahwa yang dipamerkan di sana semuanya adalah produk khas setempat. Dipasarkan terus-menerus pada pengunjung. Sementara di daerah ‘awak’ pameran hanya berkala.

Memang ada pertokoan yang menjual industri produk Silungkang, Pandai Sikek, Kubang, dan daerah lainnya. Namun harganya ‘selangit’ dan hanya terjangkau oleh mereka yang berkantongtebal saja. Lain halnya di Jogja, murah dan terjangkau. Untuk oleh-oleh, sungguh Jogja serba murah. Semakin menggembirakan kemurahan beragam batik dan souvenir lainnya di selingkaran candi Borobudur Magelang.

Jika Sumbar tetap bertahan dengan pakem dan konsep lama lama dalam memasarkan produk daerah tentu takkan lepas lenggang dari ketiak. Dan kita akan tetap berkutat cenderung menyalahkan pihak lain. Inilah problema kita sebenarnya. Untuk itu, kita mesti membuka mata melihat kehebatan ‘karib’ yang lain. *