29 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Pendidikan Berkarakter Harus Dipadukan dengan Pendidikan Agama

SOLOK, KP – Bupati Solok H. Gusmal Dt Rajo Lelo, mengharapkan agar pendidikan berkarakter yang diterapkan di Kabupaten Solok harus dipadukan dengan konsep pendidikan karakter nasional serta adat istiadat dan berpedoman kepada ajaran Agama Islam.“Kita sangat prihatin dengan kondisi pendidikan anak kemenakan kita akhir-akhir ini. Apalagi ditambah masa Covid-19 yang membuat mereka belajar tidak efektif,” ujarnya.

Dikatakan Bupati, selain banyak moral yang sudah bobrok, terjadinya kenakalan remaja karena di sekolah-sekolah tidak lagi diajarkan pendidikan moral pancasila yang lebih mendetail seperti zaman dulu. “Selain itu, pendidikan agama juga tidak lagi menjadi acuan dasar, sehingga bekal untuk anak-anak dalam menjalani kehidupan semakin tipis dan mereka rapuh terhadap godaan,” tuturnya, Jumat (9/10).

Bupati yang pernah menggagas dan mengaitkan konsep Dinas Pendidikan dengan filosofi Adat Basandi Syara’, Syarak Basandi Kitabullah  atau ABS-SBK itu, berharap supaya program tersebut bisa diterapkan di Kabupaten Solok. Menurutnya, filosofi ABS-SBK jika diimplementasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari bisa mewujudkan karakter generasi yang berperangai sopan dan ‘rancak’.

Terkait hal itu jelasnya, saat ini diupayakan pula penguatan-penguatan peran Tungku Tigo Sajarangan (TTS), sehingga pendidikan karakter berbasis ABS-SBK akan komplementer dengan semakin melembaganya peran TTS di Minangkabau. Yang mana selama ini acara Musyawarah TTS (MTTS) di samping membicarakan isu-isu aktual di nagari juga perlu membahas kondisi-kondisi terkini berkenaan dengan kurenah anak kemenakan. Sekaligus upaya nyata dalam rangka menggiring generasi muda Minangkabau untuk berperilaku sesuai ABS-SBK.

“Disadari atau tidak, sebagai orang tua atau mamak, pada saat ini kita juga sudah kurang berperan dalam membentuk karakter anak. Sehingga ke depan kita cemas kalau generasi kita tidak lagi memahami ABS-SBK serta pendidikan agama yang sering kita abaikan. Harapan saya, sebelum terlambat mari kita secara bersama membenahi hal ini,” terangnya.

Karena menurut Bupati, peran agama dan adat sebagai basis pendidikan karakter perlu ditindaklanjuti. Jika saat ini sudah selesai disusun modul pendidikan karakter oleh Dinas Pendidikan Sumbar, bahkan diujicobakan mulai 2012, belum terlambat seandainya perlu ditelaah. Sehingga ABS-SBK tidak hanya sebagai maskot belaka, tetapi memperoleh wadah untuk penerapannya di seluruh Sumatra Barat. 

“Kita berharap agar konsep pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah harus mengedepanan ABS-SBK atau Agama, sehingga benar-benar bisa melahirkan anak didik yang mempunyai karakter,” harapnya.

Untuk mencapai pendidikan berkarakter yang berpedoman kepada ABS-SBK tersebut lanjutnya, setidaknya dibutuhkan kerjasama semua elemen, baik dari orang tua, guru, mamak dan juga kaum cadiak pandai.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok, Lucki Effendi mengharapkan, keinginan pemerintah Kabupaten Solok untuk menerapkan pendidikan berkarakter, haruslah dimulai sejak usia dini atau sekolah PAUD. Di samping itu pendidikan berkarakter yang diterapkan kepada anak didik harus dimulai dari rumah, lingkungan dan juga tempat anak-anak menimpa ilmu agama. 

“Membentuk akhlak anak memang gampang-gampang susah, tergantung kepada kemauan kita. Tetapi kalau kita tidak berupaya merubahnya, akan jadi apa generasi kita mendatang. Kalau jadi pemimpin mentalnya juga akan bobrok. Jadi kalau mau pendidikan yang berkarakter, harus dimulai dari usia PAUD,” tutur Lucki Effendi. (wan)