18 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Bupati Terpilih Harus Bisa Beri Perhatian Khusus ke Garabak Data

SOLOK, KP – Menyebut nama Garabak Data, orang akan langsung berpikir kalau daerah tersebut masih tertinggal, jauh dari pembangunan serta masyarakatnya yang masih terbelakang. Meski tidak semuanya benar, namun tidak bisa dipungkiri, dari 74 Nagari di Kabupaten Solok, mungkin Garabak Datalah Nagari paling tertinggal dibanding Nagari lain. Di mana tidak adanya akses jalan beraspal, tidak ada listrik, jarak antara jorong saling berjauhan, jarang dikunjungi pejabat serta selalu setiap musim kampanye Pileg dan Pilkada mendapat janji manis dari sang calon. Namun rata-rata setelah mereka duduk, mereka jadi pikun dan sering lupa akan janji yang mereka ucapkan. 

Sudah terisolir, akses kesehatan juga sangat minim. Untuk proses kelahiran, hingga saat ini warga masih bertopang pada jasa dukun beranak. Di Garabak Data, hanya ada Puskesri, sementara Puskesmas hanya ada di Batu Bajanjang, ibukota Kecamatan Tigo Lurah yang bisa ditempuh antara 6-8 jam dari Garabak Data dengan berjalan kaki. Sehingga akibat hal itu, tingkat dan resiko kematian ibu yang akan melahirkan sangat tinggi. 

Di samping itu kehidupan masyarakat Gara­bak­ Da­ta masih tradisional dan apa adanya. Rasa gotong royong dan saling solidaritas pun masih tinggi. Bila ada hal baik atau kejadian buruk yang melanda warga kampung, mereka akan tanpa pamrih saling menolong. Sebenarnya harapan warga Garabak Data tidak muluk-muluk, hanya minta akses jalan ke kampung mereka diperbaiki dan diaspal. “Kami sangat kesulitan untuk keluar, karena akses jalan layak tidak ada. Apalagi saat musim hujan, hal ini jelas akan memperparah suasana dan itu jelas akan berdampak buruk bagi warga yang akan ada keperluan seperti ke Kecamatan,” jelas Walinagari Garabak Data, Pardinal. 

Walinagari yang dikenal vokal dan gigih memperjuangkan daerahnya itu juga menyebutkan warga Garabak gigih meminta jalan ke pemerintah karena jalan tanah yang kini menjadi urat nadi transportasi warga dibuka di era Bupati Solok Gamawan Fauzi, sekitar tahun 1998 silam. Pihaknya berharap agar Bupati atau Gubernur terpilih nantinya bisa lebih perhatian ke Garabak Data dan Tigo Lurah. Warga Garabak Data mengaku sudah jenuh dengan janji-janji kampanye. Mereka ingin pemimpin yang pro kepada nasib nagari mereka.

Hingga sekarang, jalan ke Garabak belum diaspal karena alasan jalan membelah hutan lindung. Namun saat ini menurutnya sudah diurus, tetapi belum ada tanda-tanda jalan akan diperbaiki. Sedangkan kehidupan anak-anak Garabak Data, jika siang belajar dan sehabis magrib mengaji. Se­telah Salat Isya, anak-anak tidur. Hanya sedikit warga yang bi­sa pakai genset. Bayangkan saja, se­kali pakai listrik genset harus mengeluarkan uang Rp 60 ribu dikali satu bulan, tentu tidak akan kuat. “Genset digunakan jika sifatnya mendesak saja. Kalau tidak penting tidak digunakan, ” terang Pardinal. 

Disebutkannya, Nagari berpenduduk di atas 2800 jiwa itu seperti tidak pernah bersentuhan dengan dunia luar. Kalaupun ada yang memiliki handphone, itu hanya digunakan untuk memotret dan mendengar musik. Sebab di sana tidak ada sinyal dan listrik. Sedangkan mata pencarian warga yakni bertani. Angkutan mereka masih menggunakan kuda beban yang upahnya dibayar perkilo atau tergantung berat barang dan jarak tempuh. “Jadi kami butuh perhatian pemimpin bukan sekedar janji,” sebut tokoh masyarakat Garabak Data, Panjul.

Sementara harga kebutuhan barang di Garabak Data hampir naik dua kali lipat dari harga normal di tempat biasa. Sebagai contoh, bensin 1 liter bisa dijual Rp 20 hingga 25 ribu per liternya. Sedangkan harga Semen dari harga normal, di Garabak Data bisa dijual dari Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Yang membuat harga mahal, pastilah ongkos ke sana dan akses jalan yang susah. 

Dijelaskannya, Nagari Garabak Data memiliki Tiga Jo­rong, yakni Lubuk Tareh, Jorong Garabak dan Jorong Data. Bayangkan saja,  jarak antara Garabak ke Jorong Lubuk Tareh bisa ditempuh 5-8 jam dengan memasuki hutan belantara. Kondisi Jalannya sungguh rawan, melewati lereng-lereng bukit terjal dan banyak binatang buas seperti harimau, ular serta babi hutan. Bila musim hujan, keadaan akan lebih parah, kedalaman lumpur bisa satu meter.

Salah seorang warga Lubuk Tareh, Irna (33 tahun) menyebutkan, kebanyakan anak-anak di kampungnya di Lubuk Tareh tidak bersekolah. Saking terisolir, penduduk setempat nyaris tidak begitu tahu perkembangan dunia luar. “Kalau ada warga kampung yang keluar, itu hanya keperluan mendesak dan mungkin mereka menjual hasil panen saja. Selebihnya mereka menghabiskan waktu siang di ladang dan malam di rumah. Begitu seterusnya,” jelasnya. 

Sementara secara geografis, alam Garabak Data berada di perbukitan Barisan dan berbatas langsung dengan Kabupaten Dhamasraya serta di Selatan dengan Provinsi Jambi. Nagari Garabak Data juga jauh lebih luas dari seluruh Kecamatan di Kabupaten Solok. Yang mana memiliki luas wilayah 373.800 hektare, terdiri 14 Kecamatan dan 74 Nagari. Dan Garabak Datalah termasuk Nagari paling tertinggal di Kabupaten Solok bahkan Sumbar. 

Karena minimnya perhatian peme­rintah terhadap warga dan Nagari Garabak Data, maka berdampak juga terhadap SDM warga Garabak Data dan hingga kini warganya juga masih terbe­lakang. Bayangkan saja, sejak PAUD, SD dan SMP, Anak-anak harus jauh berjalan ka­ki pergi ke sekolah dengan melewati hutan, tanah lumpur dan lainnya. Apalagi tamat SMP, yang akan melanjutkan ke SMA harus pergi ke Batu Bajanjang dengan jarak tempuh 5-8 jam. Kalau musim panas, bisa naik motor 2-3 jam. Butuh delapan jam perjalanan da­ri Garabak ke sana. Apalagi anak kelas 6 SD yang akan menghadapi UN, maka sejak H-1, anak-anak su­­dah berangkat. Dan selama tiga hari UN, anak-anak menginap di Batu Bajanjang. Usai UN, barulah anak-anak kembali.

Meski dihadapkan dengan se­jum­lah keterbatasan, namun siswa SD di Garabak Data harus bersaing dengan sekolah lain di perkotaan dengan standar ujian nasional yang sama. Setamat SMP, mereka harus berse­kolah ke nagari lain karena belum ada SMA di kampungnya. Umumnya, anak-anak Garabak Data melanjutkan pendidikan ke SMA Tigo Lurah yang berdiri sejak 5 tahun lalu. Pada umumnya juga, anak-anak Garabak Data tinggal dan kos di Batu Bajanjang dengan biaya sewa rumah mulai Rp 500 ribu hingga 750 perbulannya.

Karena semua serba mahal, terkadang setamat SD banyak orang tua meminta anaknya berhenti sekolah dan membantu orang tua ke ladang. Yang perempuan, ada juga yang menikah muda. Kehidupan penduduk Garabak Data masih jauh dari sejahtera. Mereka meng­gantungkan hidup pada hasil per­tanian saja dan sekedar menyambung hidup cukup untuk makan. Untuk itu, kita berharap pemerinrah Daerah, baik Kabupaten Solok dan Sumbar memberi perhatian khusus ke Nagari Garabak Data, agar mereka terbebas dari ketertinggalan. (penulis adalah wartawan Koran Padang, tinggal di Solok).