18 Mei 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Kopi Sumbar Berpeluang ‘Banjiri’ Pasar Dunia di Masa Pandemi

PADANG, KP – Kopi asal Sumbar berpeluang untuk dilakukan peningkatan akses pasar dan ekspor di tengah kondisi pandemicovid-19. Hal ini didukung dengan diinisiasinya kegiatan Bussiness Matching antara pelaku usaha eksportir kopi dengan kelompok tani kopi pada 6-7 Oktober 2020 lalu di Kota Padang.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sumatera BaratSyafrizal, kemarin, mengatakan penguatan pasar kopi di Sumbar di masa pandemi memang mengalami beberapa kendala. Akan tetapi kedepan melalui berbagai upaya diharapkan ekspor kopi Sumbar bisa meningkat signifikan.Sebagai informasi, ekspor kopi Sumbar hingga bulan September 2020 mencapai volume 275 ton atau senilai Rp6,45 miliar ke Malaysia, Korea Selatan, Hong Kong, dan beberapa negara Timur Tengah.

“Potensi perkebunan Sumbar selain kopi juga dilakukan pengembangan komoditas kakao, kelapa, karet, sawit, teh, dan rempah-rempah. Ini perlu terus digali pengembangan hulu hilir dan ekspornya,” kata Syafrizal.

Sementara, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dedi Junaedi Kementerian Pertanian menyatakandi tengah kondisi perekonomian Indonesia yang defisit 5,32 persen, sub sektor perkebunan justru tumbuh positif dan menjadi jaminan pemulihan ekonomi nasional dari sektor pertanian.

“Tercatat PDB sektor pertanian tumbuh 16,24 persen pada kuartal II tahun 2020. Khusus komoditas kopi, ekspor Indonesia ke dunia meningkat 12 persen jika dibandingkan kuartal II tahun 2019. Ini menjadi angin segar bagi pengembangan komoditas perkebunan Indonesia terutama kopi Sumbar,” katanya.

Direktur Jenderal PerkebunanKasdi Subagyono menambahkan pihaknya siap memfasilitasi petani untuk memberikan bantuan sarana alat pasca-panen dan pengolahan untuk menghasilkan produk-produk kopi bernilai tambah tinggi, juga dalam hal pembinaan dan pendampingan petani.

Saat ini hanya tercatat Kopi Bareh Solok atau dikenal dengan Sumatera Arabica Minang Solokyang memperoleh sertifikat Indikasi Geografis pada tahun 2018 silam.

“Kami mendorong penetapan kopi-kopi lainnya di Sumbar yang memiliki kekhasan dari sisi geografis yang dihasilkan melalui perbedaan rasa dan aroma. Saya mencatat ada potensi jenis kopi Sumbar yang diperdagangkan dengan nama dagang Solok Rajo, Lasi, Robusta/Arabica Equator Talu, Kopi Kajai Spesialty, Charmintoran Coffee, Kopi Payo dan lain-lain untuk mendapat pengakuan spesifik dari Indikasi Geografis,”ujarnya. (mas)