18 Mei 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

12 Ribu UMKM Terdampak Covid-19 di Pasaman Diusulkan Penerima Banpres Produktif

LUBUKSIKAPING, KP – Sebanyak 12 ribu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Pasaman telah diusulkan untuk masuk sebagai penerima Bantuan Presiden (Banpres) Produktif. Bantuan itu stimulus pemerintah bagi pelaku UMKM akibat terdampak Covid-19.

Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM, Yossy Nasuiton mengatakan, jika lolos verifikasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Kementerian Koperasi dan UMKM, nantinya masing-masing UMKM tersebut akan mendapat bantuan dari pemerintah pusat senilai Rp 2,4 juta.

“Kapan cairnya, belum bisa kita memastikan. Tapi, insyaallah dalam waktu dekat inilah. Saat ini, 12 ribuan UMKM yang kita usulkan sedang diverifikasi BPKP dan Kementerian terkait,” ujar Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM, Yossy Nasuiton, didampingi Kepala Bidang UMKM pada Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pasaman Rizal, Selasa (13/10).

Yossy mengatakan, sejak Covid-19 merebak di tanah air pada pertengahan Maret lalu, pihaknya sudah melakukan pendataan riil di lapangan terhadap UMKM yang terkena dampak dari pandemi itu. “Kami melakukan pendataan dengan memaksimalkan peran pendamping UKM yang ada di Kecamatan. Kita di sini cuma mengusulkan saja,” katanya.

Disebutkannya, jumlah usaha yang diusulkan sebanyak 12.000an UMKM berasal dari 12 kecamatan di 37 nagari, dengan syarat menyetorkan nomor telepon, alamat tempat usaha, KTP pemilik usaha dan nomor rekening. Sebelumnya, pihaknya mengaku menerima banyak keluhan dari pelaku UMKM yang terdampak akibat wabah Covid-19. Bahkan kata dia, sejumlah UMKM terpaksa menutup usahanya alias gulung tikar.

“Wabah Covid-19 sangat berdampak sekali terhadap keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil Menengah (UMKM) di Pasaman. Pelaku UMKM, rata-rata sudah merumahkan karyawannya akibat dampak Covid-19,” ujarnya.

Lesunya pasar akibat pandemi itu kata dia, tidak mampu mendongkrak angka penjualan para pelaku bisnis UMKM di daerah tersebut. Imbasnya, pendapatan yang diterima pun tidak sesuai harapan dan biaya produksi yang dikeluarkan. “Ini menyebabkan keseimbangan keuangan perusahaan terganggu. Dampak terburuknya, bisnis yang dijalankan sejak lama gulung tikar. Dana habis sebelum bisnis tersebut berkembang atau balik modal,” tukasnya. (nst)