19 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

DAMPAK PANDEMI, Perajin Perak Koto Gadang Beralih Jadi Pengusaha Kuliner

LUBUKBASUNG, KP – Agar tetap produktifdimasa pandemi Covid-19, tidak sedikit pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM beralih produk jualannya.

Salah satunya, Fitriharyanti (50) perajin asal Koto Gadang Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam.

Fitriharyanti adalah seorang perajin perak yang cukup dikenal di Luhak Agam khususnya di Koto Gadang yang merupakan nagari pusat perak tersebut.Sudah belasan tahun, ia menggeluti usaha kerajinan perak yang sudah dikenal hingga mancanegara.

Fitriharyanti saat berada di Rumah Sulam Agam di Bukittinggi mengakui, cukup sulit untuk memproduksi perak di tengah pandemi ini, karena tidak begitu banyak pelanggan yang memesan hasil karyanya, baik secara langsung maupun sistem online.

Menurut Fitriharyanti, biasanya dari hasil jualan kerajinan perak yang dibuatnya, berupa kalung, cincin, anting dan lainnya bisa mencapai puluhan juta dalam waktu satu bulan. Namun, pemesan berkurang satu persatu saat pandemi berlangsung.Sehingga, ia bersama sang suami memutuskan untuk mencoba beralih sementara menjual kuliner Gulai Itiak Lado Ijau, karena bakat dan hobinya di dunia kuliner juga ada.

“Sebenarnya sebelum pandemi kita sudah membuat usaha jualan kuliner tapi belum fokus, karena orang juga belum tahu. Jadi, karena pandemi hampir 5 bulan inilah kita coba fokuskan ke kuliner. Tapi, membuat perak masih tetap dilakukan, kendati tidak seperti biasanya,” jelasFitriharyanti.

Dengan memanfaatkan pelanggan perak yang sudah begitu banyak hampir di seluruh pelosok kota besar di Indonesia, usaha baru itu dipromosikan dengan tidak memakan waktu lama.

Satu persatu dari pelanggan mereka mencoba memesan kuliner gulai itiak tersebut, sehingga ada yang ketagihan untuk memesannya. Karena, menurutnya gulai itiak lado ijau asal Koto Gadang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri soal rasanya, sehinggausaha yang digelutinya semakin digemari oleh pencinta kuliner.

Alhasil, jelas Cici, omset yang diraupnya dari berjualan gulai itiak lado ijau rata-rata mencapai Rp4 hingga Rp5 juta per bulan.Bahkan, selama bulan Ramadan lalu omset sebanyak itu diperoleh cukup dengan waktu satu minggu.

Cici menjual harga satu ekor itiak lado ijau yang sudah dimasak tersebut, dengan harga kisaran Rp170.000 sampai Rp200.000 per ekor.“Tergantung dimana pemesannya, jika jauh harganya juga ikut naik. Tapi, harga maksimal Rp200.000 per ekor,” jelasnya.

Sejauh ini, tambahnya, pelanggan yang sudah memesan gulai itiak lado ijau tersebut diantaranya Kota Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Bali, Batam dan beberapa kota lainnya.

“Pokoknya, dimanapun asal kotanya kita siap untuk mengirimnya. Ongkirnya gratis,” tegas Cici. (amc)