9 Mei 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Keluar Masuk ke Garabak Data, Masyarakat Harus ‘Bertaruh Nyawa’

SOLOK, KP – Mungkin Pemerintah Daerah Kabupaten Solok dan Sumatra Barat sudah kebal dengan pemberitaan media tentang penderitaan masyarakat yang tinggal di Nagari Garabak Data, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok. Atau memang mereka setelah duduk, pintu hatinya tertutup untuk mendengar rintihan warganya yang sangat butuh perhatian.

Di saat musim hujan seperti saat ini, masyarakat Nagari Garabak Data harus bertaruh nyawa untuk sampai di Garabak Data ataupun mau keluar dari daerah tersebut. “Mau bagaimana lagi, untuk keluar membeli kebutuhan pada musim hujan seperti ini, kita harus bertaruh nyawa membawa dan mengendarai motor. Kalau lalai sedikit saja, akan fatal akibatnya,” sebut Walinagari Garabak Data Pardinal, Senin (19/10).

Disebutkan Pardinal, sebagai walinagari terpulih dua periode, pihaknya mengaku sudah lelah berteriak minta keadilan pembangunan baik ke SKPD di Kabupaten atau ke Provinsi. Yang mana hingga saat ini Garabak Data tetap seperti dulu dan belum banyak perubahan. Kondisi jalan yang licin, berlubang dan masih beraspalkan tanah, di musim kemarau berdebu dan musim hujan berlumpur mirip kubangan kerbau. Hampir semua jorong di Garabak Data belum tersentuh aspal, termasuk akses jalan utama menuju Garabak data dari Nagari batu Bajanjang. “Saya kasihan, warga saya yang setiap mau keluar masuk dari nagari di saat musim hujan seperti ini harus bertaruh nyawa,” terangnya.

Dia mengungkapkan, tidak sedikit warga yang terjatuh dan cidera saat keluar masuk menempuh jalan berlumpur menuju ke Tigo Lurah. Namun memang jarang diberitakan atau disentuh media. Menurutnya, mungkin air mata masyarakat nagari terisolir Garabak Data sudah mulai mengering menangisi nasib nagarinya yang tidak kunjung mendapat perhatian pemerintah. 

Walinagari yang dikenal gigih memperjuangkan daerahnya itu juga menyebutkan, warga hanya meminta jalan ke pemerintah karena jalan tanah yang kini menjadi urat nadi transportasi warga, dibuka di era Bupati Solok Gamawan Fauzi, sekitar tahun 1998 silam hingga kini masih terjaga keasliannya, alias masih belum diaspal. Dari 74 Nagari di Kabupaten Solok, mungkin Garabak Data lah yang paling tertinggal. Di bawah itu mungkin Sungai Abu di Kecamatan Hiliran Gumati yang juga masih tetangga Garabak Data.

Selain tidak adanya akses jalan beraspal, tidak ada listrik, jarak antara jorong di Garabak Data juga saling berjauhan dan jarang dikunjungi pejabat serta selalu setiap musim kampanye Pileg dan Pilkada mendapat janji-janji manis dari sang calon. Namun rata-rata setelah mereka duduk, mereka jadi pikun dan sering lupa akan janji yang telah mereka ucapkan. “Kalau musim hujan seperti ini, jelas kami dan warga yang akan keluar dan masuk Garabak Data menderita. Sebab jalan licin dan berlumpur serta masuk hutan. Sangat beresiko mengalami musibah,” jelas Febritanto (34 tahun), warga Garabak Data bekerja sebagai petani yang hendak menuju Batu Bajanjang, ibukota Kecamatan Tigo Lurah. 

Dikatakannya, Nagari Garabak Data, di samping sudah terisolir, akses kesehatan di sana juga sangat minim. Untuk proses kelahiran, hingga saat ini warga masih bertopang pada jasa dukun beranak. Di Garabak Data hanya ada Puskesri, sementara Puskesmas hanya ada di Batu Bajanjang, ibukota Kecamatan Tigo Lurah yang bisa ditempuh antara 6-8 jam dari Garabak Data dengan berjalan kaki. Sehingga akibat hal itu, tingkat dan resiko kematian ibu yang akan melahirkan sangat tinggi.

“Kalau bisa, tolong sampaikan kepada pejabat di Pemerintahan, agar mau membangun jalan menuju nagari kami. Supaya anak-anak kalau mau sekolah bisa lancar dan tidak seperti sekarang. Kalau musim hujan, harus buka pasang sepatu hingga beberapa kali agar sampai ke sekolah, ” tambahnya.

Dijelaskannya, akses jalan berlumpur mirip sawah yang baru dibajak, menjadi kendala bagi masyarakat mencapai dan mau keluar dari Garabak Data. Di samping itu, nagari dengan penduduk sebanyak 2800 jiwa tersebut masih hidup secara tradisional dan apa adanya. Rasa gotong royon dan solidaritas masih tinggi. Bila ada hal baik atau kejadian buruk yang melanda warga kampung, mereka akan bahu membahu tanpa pamrih untuk saling menolong.

Sementara warga Garabak Data lainnya, Joharizon mengatakan, kehidupan anak-anak Garabak Data, jika siang belajar dan sehabis magrib mengaji. Se­telah Isya, anak-anak tidur. Hanya sedikit warga yang bi­sa pakai genset. “Bayangkan saja, se­kali pakai listrik genset harus mengeluarkan uang Rp 60 ribu dikali satu bulan, tentu tidak akan kuat. ” Genset digunakan jika sifatnya mendesak saja. Kalau tidak penting tidak digunakan,” terangnya.

Disebutkannya, Nagari Garabak Data memiliki tiga Jo­rong, yakni Lubuk Tareh, Jorong Garabak dan Jorong Data. Bayangkan saja, jarak antara Garabak ke Jorong Lubuk Tareh bisa ditempuh 5-8 jam dengan memasuki hutan belantara. Kondisi Jalannya sungguh rawan, melewati lereng bukit terjal dan banyak binatang buas seperti harimau dan ular serta juga babi hutan. Bila musim hujan, keadaan akan lebih parah, kedalaman lumpur bisa satu meter.

Salah seorang warga Lubuk Tareh, Irna (33 tahun) menyebutkan, kebanyakan anak di kampungnya Lubuk Tareh tidak bersekolah. Bayangkan saja, sejak PAUD, SD dan SMP, anak-anak harus jauh berjalan ka­ki pergi ke sekolah melewati hutan, tanah lumpur dan lainnya. Apalagi tamat SMP yang akan melanjutkan ke SMA harus pergi ke Batu Bajanjang dengan jarak tempuh 5-8 jam. Kalau musim panas, bisa naik motor 2-3 jam. Butuh delapan jam perjalanan da­ri Garabak ke sana. Apalagi anak kelas 6 SD yang akan menghadapi UN, maka sejak H-1 anak-anak su­­dah berangkat. Dan selama tiga hari UN, anak-anak menginap di Batu Bajanjang.

Usai UN, barulah anak-anak kembali. Pada umumnya juga, anak-anak Garabak Data tinggal dan kos di Batu Bajanjang dengan biaya sewa rumah mulai Rp 500 ribu hingga 750 perbulannya. Karena semua serba mahal, terkadang setamat SD, banyak orang tua meminta anaknya berhenti sekolah dan membantu orangtua ke ladang. Yang perempuan, ada juga yang menikah muda.

Untuk itu Pemerintah Daerah, baik Kabupaten Solok dan Sumbar diharapkan memberi perhatian khusus ke Nagari Garabak Data, agar mereka terbebas dari ketertinggalan. Karena mayoritas penduduk Garabak seperti tidak pernah bersentuhan dengan dunia luar. Kalaupun ada yang memiliki handphone, itu hanya digunakan untuk memotret dan mendengar musik. Sebab di sana tidak ada sinyal dan listrik. Sedangkan mata pencarian warga yakni berladang dan bersawah. Angkutan mereka masih menggunakan kuda beban yang upahnya dibayar perkilonya atau tergantung berat barang dan jarak tempuh.

Sementara harga kebutuhan barang di Garabak hampir naik dua kali lipat dari harga normal di tempat biasa. Sebagai contoh, bensin 1 liter bisa dijual Rp 20 hingga 25 ribu. Sedangkan harga semen dari harga normal, di Garabak Data bisa dijual dari Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Yang membuat harga mahal, pastilah ongkos ke sana dan akses jalan yang susah. (wan)