9 Mei 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

MENTAWAI MASIH ‘BERGUNCANG’, Pakar Gempa: Tetap Waspadai Segmen Siberut

PADANG, KP – Pakar gempa Universitas Andalas (Unand) Padang Badrul Mustafamengingatkan warga Sumbar agar waspada terhadap potensi gempa bumi yang bersumber dari segmen Siberut.

“Segmen Siberut masih menyimpan dua pertiga energinya. Kalau keluar sekaligus bisa menimbulkan gempa berkekuatan di atas 8,5,” kata Badrul, Selasa (20/10), menanggapi gempa bumi beruntun yang mengguncang Mentawai sepanjang Senin (19/10).

Ia mengingatkan masyarakat Sumbar khususnya yang berada di tujuh kota dan kabupaten di kawasan pesisir yang berpotensi terdampak gempa dan tsunami selalu waspada.

“Kita memang hidup di daerah rawan gempa, makanya harus ‘bersahabat’ dengannya, kita harus cerdas bencana,” kata dia.

Menurut Badrul, periode ulang gempa segmen Siberut setelah tahun 1797 belum keluar kecuali baru sepertiganya.

“Gempa yang terjadi di segmen Sipora-Pagai ini bisa mendorong keluarnya potensi gempa Siberut, bisa pula tidak,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari BMKG sejak 10 Oktober sampai 19 Oktober 2020,telah terjadi 10 kali gempa terjadi di area episentrum megathrust Mentawai dengan kekuatan di bawah 6,0 dan yang paling tinggi magnitudo 5,8.

Badrul menjelaskan episentrum gempa berada pada megathrust Mentawai segmen Sipora-Pagai dan pada 25 Oktober 2010 silam pada area ini juga terjadi gempa berkekuatan 7,4 yang menimbulkan tsunami.

“Kalau dihitung, sejak dua tahun terakhir sudah puluhan kali gempa terjadi di area ini dan dari penelitian yang dilakukan oleh Prof Kerry Sieh dari Caltech dan Danny Hilman dari LIPI diketahui bahwa periode ulang gempa sangat kuat magnitudo 8,0 adalah 200 tahun,” ujarnya.

Pada sisi lain ia memaparkan megathrust Mentawai memiliki dua segmen, yakni segmen Siberut dan segmen Sipora-Pagai.Gempa sangat kuat terjadi di Segmen Sipora-Pagai pada tahun 1833 dengan kekuatan hampir 9,0. Lalu, periode ulang 200 tahun gempa besar di segmen ini sudah terjadi pada 12 September 2007 dengan kekuatan 8,4 SR, 13 September 2007 dua kali dengan kekuatan 7,9 dan 7,4,dan terakhir 25 Oktober 2010 berkekuatan 7,4.

“Di segmen ini secara saintifik gempa besar akan terulang lagi 200 tahun berikutnya. Jadi, menurut saya, untuk segmen Sipora-Pagai ini dapat dikatakan ‘aman’,” katanya.

Terkait kenapa masih terjadinya beberapa kali gempa dengan kekuatan sampai di atas 5,0 di segmen ini ia menjelaskan dapat saja terjadi karena dorongan lempeng Indo-Australia dengan laju 6-7 centimeter per tahun yang sebagian energinya langsung keluar.

“Artinya untuk beberapa tahun ini sedikit yang terakumulasi untuk periode ulang berikutnya. Tapi saya yakin, di segmen ini gempa besar belum akan terjadi dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun,” ujar dia.

RENTETAN GEMPA DI PAGAI SELATAN BERLANJUT

Rentetan gempa di sekitar Pulau Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawaimasih berlanjut. Setelah beberapa gempa pada Senin (19/10), pada Selasa (20/10) pagi terjadi gempa dengan Magnitudo 4,7.

Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis, gempa terjadi pada pukul 07:41:40 WIB di koordinat 3.41 Lintang Selatan dan 100.20 Bujur Timur. Lokasinya, sekitar 49 kilometer barat daya Pulau Pagai Selatan pada kedalaman 10 Kilometer.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam rilisnya yang dilansir BMKG Padangpanjang, Selasa (20/10), menyatakan, pada Senin (19/10/2020) siang, wilayah Pagai Selatan, diguncang “doublet earthquakes”. Gempa yang terjadi pukul 14.31.30 WIB dan pukul 14.47.22 WIB ini berkekuatan 5,6 dan 5,7.

Episenter kedua gempa ini terletak di laut pada jarak sekitar 33 km arah Barat Daya Pagai Selatan pada kedalaman hiposenter 13 km dan 17 km.

“Kedua gempa ini disebut “doublet: atau “kembar” karena kekuatannya yang hampir sama dan terjadi dalam jarak dan waktu yang relatif berdekatan. Hanya dalam waktu 16 menit saja terjadi 2 kali gempa signifikan. Kedua gempa ini dirasakan di Pagai, Kepulauan Mentawai, Padang, Painan, Bengkulu, dan Kepahiang, hingga membuat masyarakat panik,” tulisnya.

Hasil monitoring BMKG, sejak 15 Oktober 2020 di Pagai Selatan telah terjadi peningkatan aktivitas gempa tektonik. Hingga hari ini tercatat telah terjadi gempa sebanyak 13 kali dalam variasi magnitudo dengan kedalaman dangkal.

Rincian rentetan gempa tersebut yaitu, pada 15 Oktober 2020 terjadi 4 kali gempa, 17 Oktober 2020 terjadi 4 kali gempa, 18 Oktober 2020 terjadi 1 kali gempa, dan 19 Oktober 2020 hari ini terjadi 4 kali gempa.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa semua gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng di Zona Megathrust Mentawai-Pagai,” kata Daryono.

Hasil analisis mekanisme sumber, lanjutnya, menunjukkan bahwa seluruh gempa yang terjadi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault) yang merupakan ciri khas aktivitas gempa di zona megathrust.

“Rentetan aktivitas gempa yang episenternya membentuk kluster di sebelah barat Pagai Selatan ini tentu patut diwaspadai. Dikhawatirkan rentetan gempa ini merupakan gempa pembuka (foreshocks) sebelum terjadinya gempa utama (mainshock),” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk waspada, namun tidak perlu khawatir berlebihan, karena gempa kuat memang belum dapat diprediksi dengan akurat kapan terjadinya. “Kewaspadaan sangat diperlukan agar kita dapat merespon setiap informasi serta peringatan dini dengan baik dan rasional. Baik respon evakuasi mandiri maupun respon terkait warning tsunami.”

Menurutnya, ini evakuasi mandiri dinilai lebih menjamin keselamatan. Caranya, menjadikan guncangan gempa kuat yang dirasakan di pantai sebagai peringatan dini tsunami. “Dengan evakuasi mandiri kita lebih banyak memiliki waktu emas (golden time) untuk menyelamatkan diri dari tsunami. Untuk itu, bagi masyarakat pesisir, jika merasakan guncangan gempa kuat maka segeralah menjauh dari pantai,” kata Daryono.

Ia juga mengingatkan, di sebelah barat kluster pusat-pusat gempa saat ini, pernah menjadi pusat gempa besar yang memicu tsunami pada 25 Oktober 2010 pukul 21.42 WIB. “Saat itu terjadi gempa dengan kedalaman dangkal 20 km di zona megathrust dengan kekuatan 7,8. Dampak peristiwa tsunami yang terjadi pada saat itu, tercatat sebanyak lebih dari 400 orang meninggal dunia,” tulis Daryono. (ant/lgm)