18 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Kimia Makin Mengancam, Kesuburan Lahan Pertanian di Solok Makin Berkurang

SOLOK, KP – Kondisi lahan pertanian di Kecamatan Lembah Gumanti khususnya di Nagari Salimpek, Aia Dingin, Alahan Panjang dan Sungai Nanam sekitarnya, saat ini dinilai kurang subur. Hal itu dikarenakan masyarakat tidak pernah berhenti memberi pupuk dan insektisida, sehingga lahan pertanian sudah mulai tidak subur. 

Untuk meningkatkan hasil produksi tanaman hultikultura seperti kentang, kol, bawang, tomat, markisa dan lain sebagainya, Dinas Pertanian Kabupaten Solok diminta harus serius memperhatikan dan membina petani kentang di Kabupaten Solok. Khususnya yang berada di Kecamatan Lembah Gumanti, Danau Kembar, Air Batumbuk, Bukit Sileh dan sentra penghasil kentang lainnya di Kabupaten bumi penghasil bareh tanamo itu.

Hal itu diungkapkan tokoh masyarakat Sungai Nanam, H. Parlin yang juga seorang petani sukses mengembangkan tanaman kentang, bawang dan kol di Sungai Nanam kepada KORAN PADANG, Kamis (22/10) di Sungai Nanam. “Pemerintah jangan hanya pandai di atas kertas dan berteori saja, namun harus secara terus menerus memperdayakan petani dan kelompok tani di Kabupaten Solok agar mutu dan produksi hasil tanaman seperti kentang, kol, bawang bisa meningkat,” tuturnya. 

Pihaknya juga berharap agar Dinas Pertanian atau Pemkab Solok bisa mendatangkan tim ahli pertanahan, untuk mengetahui jenis kesuburan tanah secara berulang-ulang dan berpuluh-puluh tahun dimanfaatkan petani, khususnya di daerah Alahan Panjang dan Sungai Nanam sekitarnya. “Tanah kalau tidak dipupuk, sudah tidak bagus lagi. Zaman saya kecil dikasih abu pembakaran sedikit saja sudah bagus hasilnya. Namun sekarang harus diracun dan dipupuk baru bisa subur. Dan itu pakai zat kimia semua,” tambah Parlin diamini anaknya, Febriyanto.

Meski diakuinya, saat ini ada alat pengukur lahan kesuburan tanah dengan cara menguji kesuburan tanah memakai cara sederhana, namun sekitar 85 persen petani tidak memahami dan hanya mengandalkan pupuk dan berbagai jenis racun agar tanaman mereka bisa subur. 

Sementara Anggota DPRD Kabupaten Solok yang juga seorang petani sukses di Lembah Gumanti, M. Syukri menyebutkan, saat ini masih banyak masyarakat tidak mengetahui keadaan biologi tanah, fisik dan kimia yang menentukan kesuburan tanah. 

Menurutnya, keadaan biologi tanah meliputi pengikatan nitrogen udara dan aktivitas mikroba merombak bahan organik dalam humufikisasi. Keadaan fisik tanah meliputi tekstur, kelembapan, struktur, kedalaman, dan tata udara. Keadaan kimia tanah meliputi kejenuhan basa, KTK, bahan organik, unsur hara, reaksi tanah, ketersediaan tumbuhan tanaman, dan cadangan unsur hara. “Namun apakah semua petani memahami hal itu?,” ulasnya.

Untuk itu dirinya berharap agar Dinas Pertanian mendatangkan ahli pertanahan dari IPB atau ITB dan memberi penyuluhan ke masyarakat tentang kondisi tanah dan tanaman apa yang cocok untuk dikembangkan. “Hampir setiap rumah tangga di Sungai Nanam dan Alahan Panjang memakai zat kimia yang sangat berbahaya untuk tanaman mereka. Sebab kalau tidak pakai pupuk dan zat kimia, tanaman tidak akan tumbuh karena sudah puluhan tahun dipakai secara terus menerus dan harus ada solusi dari Pemkab Solok,” ungkapnya.

Sedangkan salah seorang tokoh masyarakat Sungai Nanam, Riki Riko Namzal menyebutkan, pihaknya sependapat dengan anggota DPRD Kabupaten Solok M. Syukri. Di mana harus ada upaya dari Pemkab Solok untuk mendatangkan ahli pertanahan ke Kabupaten Solok supaya masyarakat petani tidak menggunakan zat kimia terlalu berlebihan. “Kalau tidak, tanaman yang dihasilkan merupakan produk kimia yang kita berikan kepada anak cucu kita, makanya orang sekarang gampang terserang stroke,” terangnya.

Untuk itu lanjutnya, harus ada upaya atau solusi kepada petani dari Pemerintah Daerah. (wan)