24 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Balai Bahasa Sumbar Gelar Diskusi Penggunaan Bahasa Pada Media Massa

BUKITTINGGI, KP – Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat menggelar kegiatan diskusi dengan tema Pengawasan dan Pengendalian Penggunaan Bahasa pada Media Masa di Balai Kota Bukittinggi. Kegiatan yang diadakan di Aula Balaikota Bukittinggi, Rabu (21/10) tersebut, dibuka secara resmi oleh Kadis Kominfo Kota Bukittinggi, Novri. Dengan menghadirkan narasumber Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumbar dan diikuti sejumlah wartawan serta instansi terkait.

Dalam sambutannya, Kadis Kominfo Novri mengatakan, bahasa merupakan alat komunikasi yang dilakukan manusia untuk saling mengenal satu sama lain tentang berbagai hal, sehingga apa yang dimaksud dapat tersampaikan. “Berdasarkan data, di dunia ini ada sekitar 6 ribu hingga 7 ribu bahasa yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi,” sebutnya.

Sedangkan di Indonesia jelasnya, ada 718 bahasa daerah yang digunakan. Dengan berbagai ragam bahasa daerah itu, maka Indonesia dipersatukan dengan bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. “Pejuang-pejuang kita dulunya, telah memikirkan bagaimana menyatukan keanekaragaman bahasa ini agar dapat disatukan. Maka diputuskanlah bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa negara RI,” ulasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumbar, Aminulatif yang hadir sebagai narasumber mengatakan, saat ini masih banyak dijumpai di masyarakat, maupun aparat pemerintahan yang belum menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. “Salah satu contohnya, banyak kita jumpai bahasa Indonesia dicampur bahasa asing. Padahal bahasa asing itu bukan bahasa kita,” katanya.

Bahkan lanjutnya, di media sosial sering dijumpai bahasa milenial seperti santuy, baper, otw dan sebagainya. Oleh sebab itu, dia meminta peran media untuk meluruskan kembali bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Jika media ingin juga membuat kalimat milenial tersebut, seharusnya tulisannya ditulis miring. Begitu juga tulisan no smoking, seharusnya dibuat tulisan dilarang merokok,” tuturnya. (eds)