18 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Silek Sunua, Warisan Leluhur yang Harus Dijaga dan Dilestarikan

PARITMALINTANG, KP – Sumatra Barat memiliki tiga ‘induak silek’, salah satunya silek sunua yang berkembang di pesisir barat Sumatra Barat dari Pariaman ke Pasaman hingga Riau. Silek Sunua juga dikenal dengan silek para Kyai atau silek tuo di Minangkabau yang awalnya dikembangkan Khalifah Syekh Burhanuddin sembari menyebarkan agama islam di Sumbar. Oleh karena itu silek sunua mengandung unsur-unsur agama Islam.

Silek Sunua bersifat menunggu serangan dari lawan bukan menyerang lawan, karena itu silek sunua ditujukan untuk menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan. Dalam perkembangannya, Silek Sunua tidak lepas dari peran dua belas khalifah, di antaranya Syekh Burhanuddin, Syekh Badarudin, Syekh Badu Elang, Syekh Daud, Anduang Ijuak, Syekh Bani Adam, Anduang Joki, Mak Munaf, Baka Baluik, Rajo Ageh, Sulaiman dan H. Ali Musa.

Silek Sunua tersebut disempurnakan khalifah ke-5, yakni Anduang Ijuak. Yang mana Anduang Ijuak merupakan putra asli dari Sunua, sehingga penamaan silek tuo itu dikenal dengan nama silek sunua hingga saat ini. Hal itu diungkapkan oleh Sudirman. Selaku guru silek di Kabun Sunur, ia telah mempelajari silek dari sekolah dasar. Ketika Silek Sunua sudah hampir punah tepatnya pada 2004, pria 45 tahun itu terpanggil untuk melestarikan kembali silek Sunua. Dengan niatan ingin meneruskan perjuangan H. Ali Musa selaku Kapalo Mudo di Sunua yang juga bagian dari dua belas khalifah dan ia juga berkontribusi besar terhadap perkembangan silek di Sunua.

“Motivasi awal saya ingin melestarikan silek ini agar Nagari Sunua tidak hilang dari peredaran juga untuk menjaga agar warisan leluhur ini tidak punah karena silek sunua merupakan silek tuo, terkhususnya kepada masyarakat dan generasi penerus di Nagari Sunua. karena bak kata orang, ‘jan mangaku urang Sunua kalau indak pandai silek Sunua’, hal itu membuktikan silek ini merupakan jati diri dari orang Sunua,” terangnya.

Ia juga menambahkan, selain untuk melestarikan budaya, silek itu diajarkan kepada para muda-mudi penerus sebagai pagar diri dari musuh yang akan membahayakan dirinya. Namun tidak diperuntukkan untuk gaya-gayaan dan menyombongkan diri, karena pada dasarnya silek itu hanya digunakan dalam keadaan mendesak. Seperti kata pepatah, ‘indak kama gantiang ka balaga’. Sedangkan untuk latihan, silek Sunua dilakukan dua kali seminggu yang biasanya diajarkan pada malam hari dan semua anak sunua berhak belajar silek itu. Namun tidak juga tertutup kemungkinan bagi muda-mudi luar sunua untuk belajar silek tersebut. Karena sejatinya menurut Sudirman, silek Sunua sangat berguna unuk menjaga diri karena yang akan menjaga diri kita hanyalah kita sendiri.

“Hingga saat ini, perguruan silek Sunua telah memiliki beberapa murid. Di antaranya di Korong Kabun 30 orang, di Korong Padang Kalam sekitar 20 orang dan masih banyak lagi murid-murid yang menjadi sasaran baik di Nagari Sunua, Sunua Barat dan Nagari Sunua Tengah. Perguruan ini juga telah memiliki prestasi, di antaranya pernah mengikuti festival silek tingkat Nasional di Payakumbuh serta mendapat juara 2 dan 3 pada Festival Alek Nagari di Sintuk Toboh Gadang pada tahun 2019,“terangnya.

Di samping itu, pada tahun 2009 Pemerintah Daerah Kabupaten Padangpariaman berpartisipasi dalam melestarikan silek Sunua dengan memberikan bantuan baju seragam untuk mendukung eksistensi para pesilat dalam pertunjukan silat. Dan juga pada tahun 2014 hingga 2019 ketika Sudirman menjabat sebagai anggota Badan Musyawarah di Nagari Sunua, tetap menganggarkan kurang lebih Rp 2.500.000 per tahun untuk kelangsungan kegiatan pelatihan silek Sunua tersebut.

Dalam rangka mendukung kelestarian budaya, Pemkab Padangpariaman telah membuat rencana strategis yang mengacu pada Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang pengajuan kebudayaan yang dituangkan dalam Pokok-Pokok Kebudayaan Daerah (PPKD) yang disahkan kepala Daerah. “Kabupaten Padangpariaman telah menyusun rencana strategis bidang kebudayaan yang telah dimuat dalam bentuk keputusan bupati nomor 392/ Kep/BPP/2018 tentang Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Padangpariaman. Di mana di dalamnya terdapat poin cagar budaya tak benda termasuk silek dan randai,” terang Suhatman selaku Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padangpariaman.

Ia juga menambahkan, dalam melestarikan silek pada tahun 2017, bidang kebudayaan telah membuat program digitalisasi cagar budaya tak benda, salah satunya silek sunua yang juga telah tertuang dalam PPKD Padang pariaman termasuk pembinaan sanggar khusus silek di Aur Malintang dan Sungai Limau. 

Dijelaskannya, Silek sunua tidak hanya dipelajari anak laki-laki saja, namun juga diikuti wanita, yakni Wiwid Mulya Putri yang merupakan murid wanita pertama di perguruan itu. Berasal dari keluarga yang juga pesilat memotivasi, Wiwid mempelajari silek agar bisa menjaga. “Terlahir sebagai perempuan tidak menyurutkan niat saya mempelajari silek Sunua, sejak dari SMP sudah timbul ketertarikan mempelajari silek ini. Mungkin karena kakek saya juga pesilat dulunya, serta mempelajari silek minimal bisa melindungi diri kita dari bahaya,” ungkap Wiwid.

Lanjutnya, banyak tantangan yang ditemukan dari awal ingin mempelajari silek tersebut. Di antaranya silek Sunua masih dianggap tabu untuk seorang perempuan hingga ia dicemooh karena silek itu dianggap tidak penting dan bukan untuk perempuan. Tidak hanya masyarakat luar yang menentang, namun keluarganya juga tidak mendukung kemauannya itu. Namun dengan kemauan dan tekad yang kuat, ia bisa meluluhkan hati keluarga dan mengizinkannya untuk belajar silek sunua tersebut.

“Alhamdulillah, dengan semangat dan tekad yang kuat saya dapat membuktikan bahwa perempuan juga bisa mempelajari silek sehingga banyak dari anak perempuan sunua yang berminat dan ingin mempelajari silek sunua. Saat ini juga telah terbentuk sanggar mandiri dengan nama Sanggar Silek Sunua yang diketuai saya sendiri,” terang wanita 29 tahun itu.

Ia juga mengatakan, tujuan mengikuti silek sunua yakni untuk memotivasi kaum muda mempelajari dan melestarikan silek sunua dengan melibatkan para pemula dalam setiap acara. Sehingga dengan dilibatkannya maka mereka bersemangat terus mempelajari silek sunua. “Saya beharap untuk ke depannya semoga silek sunua bisa semakin berkembang dan membuktikan kepada masyarakat banyak bahwa silek sunua berguna bagi semua kalangan, tanpa terkecuali untuk perempuan. Kemudian juga untuk membuka mata masyarakat bahwa silek ini merupakan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan,” tutupnya. (*)