20 Juni 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Anak-anak di Taratak Baru Harus Berjuang ‘Melawan Maut’untuk ke Sekolah

SOLOK, KP – Sungguh luar biasa kisah perjuangan anak-anak nagari tertinggal di Kabupaten Solok. Di mana untuk mendapatkan pendidikan saja, mereka harus berjuang melawan maut setiap hari agar sampai di sekolah. Salah satu kisah nyata yang hingga saat ini masih ada anak-anak sekolah berjuang melawan maut untuk sampai di sekolah mereka, yakni menimpa anak-anak di daerah terisolir Jorong Taratak Baru, Nagari Sariak Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok.

Jorong Taratak Baru berada di bagian Timur Nagari Sariak Alahan Tigo. Untuk melanjutkan ke SMP, anak-anak Jorong Taratak Baru harus menyeberangi sungai sepanjang 15 meter dengan meniti jembatan bambu yang hanya satu batang yang dibuat masyarakat setempat agar sampai di sekolah mereka. Yakni SMP Negeri 4 Hiliran Gumanti, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Jorong Taratak Baru.

“Habis bagaimana lagi, kita harus sekolah untuk lebih pintar agar bisa membangun Nagari,” jelas Yuliati (13 tahun), pelajar kelas VII, SMP Negeri 4 Hiliran Gumanti ketika ditanya usai menyeberang jembatan yang setiap saat menghadang maut untuk menuju sekolah mereka.

“Jalan sih ada yang memutar, tetapi untuk sampai ke sekolah butuh waktu sekitar 2 jam jalan kaki memutar menuju arah Utara. Kalau ini hanya bisa ditempuh setengah jam saja jalan kaki,” tambah Yuliati, yang diamini temannya Dina (13 tahun).

Sementara itu tokoh masyarakat Sariak Alahan Tigo yang juga mantan Walinagari Sariak Alahan Tigo,  Efdizal Mandaro Sutan menyebutkan, anak-anak Taratak Baru memang harus berjuang menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras. Mereka menyeberangi sungai kala berangkat dan pulang sekolah setiap hari. “Yang tambah susah di saat musim hujan, air sungai naik dan arusnya semakin deras. Kondisi ini kerap membahayakan nyawa anak-anak yang menyeberang untuk bersekolah, tetapi apalah daya kita,” jelasnya.

Berdasarkan hasil dari peninjauan, jumlah anak yang setiap hari menyeberangi sungai untuk bersekolah mencapai lebih dari 20 anak. Mereka rata-rata anak SMP. Sementara sekolah SD yang terdekat ada di Jorong mereka. Sebenarnya, selain di Nagari Sariak Alahan Tigo, masih banyak anak-anak di Nagari lain di Kabupaten Solok yang harus berjuang melawan maut untuk sampai ke sekolah. Seperti menyeberang sungai, menyeberang hutan dengan ancaman binatang buas atau juga berhadapan dengan babi hutan seperti di Garabak Data, Pasilihan, Siaro-Aro, Sungai Abu, Air Dingin dan juga Talang Babungo serta Nagari lainnya di Kabupaten Solok. (wan)