18 Mei 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Lontong Daun Ni NurTetap Eksis di Tengah Krisis

PARIAMAN, KP – Kota Pariaman tidak hanya dikenal dengan budaya tabuiknya saja, namun daerah yang terletak dipinggir pantai ini juga memiliki aneka ragam jajanan dan kuliner yang dapat dinikmati sesuai selera.

Para pedagang jajanan dan kuliner dapat dijumpai dimanapun, tergantung selera tempat mana yang disukai, disudut pasar, warung atau di pinggir jalan yang memang dijadikan untuk berjualan.

Bagi penikmat sarapan pagi bisa datang ke los lambuang Pasar Kurai Taji atau ke Pasar Pariaman, disini diasajikan berbagai macam jenis sarapan pagi, seperti lontong gulai, nasi goreng maupun sate.

Seiring berjalannya waktu pedagang sarapan pagi tidak hanya ada dipasar, namun dapat juga dijumpai di persimpangan ataupun pinggir jalan salah satunya di Kelurahan Karan Aur Jl. Syekh Burhanuddin Kecamatan Pariaman Tengah.

Lontong daun Ni Nur, sebuah warung yang terletak dipingggir jalan ini, juga menyediakan sarapan pagi spesifik lontong gulai cubadak dan paku.

“Selain itu ada juga lotek kuah kacang, kita juga menyediakan bubur kacang padi ketan dan nasi goreng jika ada yang memesan, dengan harga rata-rata harga satu porsi Rp6.000,” ujar Uni Nur kepada KORAN PADANG, Kamis (29/10).

Sebagai cemilan pelengkap hidangan sarapan, disediakan juga sala bulek, bawan goreng dan tahu goreng. Diwarung lontong ni Nur kita akan jumpai satu yang berbeda yakninya bungkus lontong yang menggunakan daun pisang.

Nur mengatakan, ide awal berjualan lontong daun pisang adalah ingin menampilkan suatu yang berbeda dari dagangannya, karena bisa dikatakan untuk Pariaman hanya diWarung Nur yang menyediakan lontong daun pisang.

“Selain harum rasanyapun gurih, karena dibungkus dengan daun, memasaknyapun menggunakan kayu bakar. Meskipun memakan waktu, namun hasilnya tidak mengecewakan, karena selama 7 tahun berjualan belum ada pelanggan yang kecewa,” ujarnya.

Nur mengungkapkan, meskipun ditengah kondisi lesunya ekonomi akibat diterpa oleh wabah corona semenjak 6 bulan lalu, akan tetapi warungnya tidak sepi pelanggan.

“Paling jumlah lontongnya saja yang dikurangi, sebelum wabah Covid-19 kita memasak lontong 8 liter satu kali berjualan, sekarang sedikit dikurangi menjadi 6 liter,” sebut ibu 3 anak itu.

Lontong daun pisang ni Nur tidak hanya disukai masyarakat umum saja, namun karyawan BRI Pariaman sering juga memesannya.Alhamdulillah meskipun hanya berjualan lontong dan suami seorang nelayan, ia mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya.  (war)