BELAJAR DI TENGAH HUTAN, Mahasiswa Tigo Lurah Minta Pemerintah Fasilitasi Tower Seluler

SOLOK, KP – Para mahasiswa yang berasal dari berbagai Nagari di Kecamatan Tigo Lurah Kabupaten Solok, berharap agar pemerintah memfasilitasi mereka untuk mendirikan tower seluler atau Base Transceiver Station (BTS) supaya mereka bisa belajar daring dari rumah. “Selama ini kami harus mencari sinyal handpone ke lereng bukit. Hanya di sana yang ada sinyal,” terang Elmi (20 tahun), seorang mahasiswi asal Simanau yang sedang belajar daring dari bukit yang terletak antara Nagari Simanau menuju Sirukam.

Lokasi Elmi belajar itu berada di Dusun Tembok, Jorong Parik Batu atau sekitar 6 kilometer dari pusat Pemerintahan Nagari Simanau dan 12 KM dari pusat Kecamatan di Batu Bajanjang. Bagi mereka, infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator harus berdiri di daerah mereka. “Kita berharap pemerintah nagari bisa memfasilitasi kita atau mengetuk hati Pemkab Solok atau Sumbar agar mendirikan tower seluler di sini,” ujarnya diamini Dani dan Jerzi, Senin (16/10).

Sedangkan menurut Camat Tigo Lurah Sarmaini, saat ada ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai nagari pulang kampung ke daerahnya karena kampus dan sekolah mereka diliburkan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana mengikuti wajib belajar online karena nagari tidak dilintasi sinyal. Tapi kata dia, Tuhan memang Maha Adil dan Pengasih. Di saat pelajar dan mahasiswa butuh, ada sebuah titik di Nagari Simanau, tepatnya di Dusun Tembok, Jorong Parik Batu atau sekitar 6 kilometer dari pusat pemerintahan Nagari Simanau dan 12 KM dari pusat Kecamatan di Batu Bajanjang, terdapat sebuah titik yang bisa untuk SMS, WA, Internet, nelpon dan Chatting.

Dikatakannya, entah siapa yang pertama kali menemukan titik tersebut, namun dalam sebulan terakhir kawasan sepanjang 10 meter tersebut selalu ramai dikunjungi pelajar dan mahasiswa asal Simanau, Sumiso dan Rangkiang Luluih. Bahkan jika cuaca cerah, ada beberapa titik yang bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi, meski jaringan lelet. Yang penting bisa buat kirim SMS atau WA.

Namun satu titik akses sinyal di nagari Simanau, tepatnya di Dusun Tembok, Jorong Parik Batu, menjadi rebutan bagi mahasiswa dan pelajar. Sayangnya titik itu juga berada di tengah hutan dan jauh dari rumah warga. Meski di pinggir jalan menuju Kecamatan Tigo Lurah dari Nagari Sirukam, namun mulai dari pagi hingga sore hari lokasi itu selalu ramai dikunjungi. Tetapi sayangnya sat sampai di lokasi harus antri, karena hanya muat sekitar 5 hingga 10 orang, sebab berada di pinggir jalan terjal. Selain itu, bagi remaja dan pelajar yang hanya sekedar main game atau sekedar chatting, harus bersabar dan menunggu antri pelajar yang online.

Menyikapi kondisi tersebut, seorang tokoh muda nagari Simanau Dani Putra, mencoba membantu membangun tenda dan bangunan darurat demi kelancaran anak-anak pelajar dan mahasiswa mendapatkan signal HP. “Saya hanya menginisiasi pembangunan tenda darurat ini agar lebih nyaman dan aman buat adik-adik mahasiswa ini. Semoga bermanfaat bagi mahasiswa dan terimakasih kepada Kadis PUPR Kabupaten Solok yang sudah membantu membelikan terpal dan tikar untuk kami,” tuturnya.

Dani menyebutkan, di Nagari Simanau saja ada sekitar 150 orang lebih pelajar hingga mahasiswa yang mencari sinyal di sana, belum lagi dari nagari tetangga seperti Batu Bajanjang dan Rangkiang Luluih. Untuk itu ia berharap agar Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Daerah ataupun Pemerintah Provinsi, segera membantu terutama untuk penyedian paket internet atau membangun tower seluler di Tiga Lurah. 

Dikatakannya, para pelajar dan mahasiswa rela berpanas-panasan dan kadang hujan-hujanan demi kuliah daring, mengirim tugas ke kampus atau sekolah, ataupun mengikuti ujian secara online, tampak senang mendapat bantuan dan perhatian dari pemimpin mereka. Ucapan terimakasih seperti tak henti-hentinya mengalir dari bibir mahasiswa dan pelajar. “Kegigihan para mahasiswa dan pelajar Tigo Lurah ini patut kita support dan dukung. Mereka adalah aset dari daerah kita,” terang Dani.

Di samping itu, pelajar yang mencari sinyal di tempat tersebut berasal dari Simanau dan Sumiso. Mereka kebanyakan bersekolah di SMA sederajat di Kota Solok atau  di MAN Kota Solok, SMAN 1 Kota Solok, SMAN 2 Kota Solok, MAN Kotobaru Kabupaten Solok, SMA di Padang, MTsN 2 Kotobaru Kabupaten Solok, SMPN 1 Kubung, Pesantren Al Mumtaz Kota Solok, serta sejumlah sekolah lainnya. Sedangkan Mahasiswa Tigo Lurah yang pulang kampung, berasal dari berbagai kampus di tanah air, seperti UMMY Solok, Unand Padang, USU Medan, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, UI Depok, Universitas Negeri Padang (UNP), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar, IAIN Bukittinggi dan berbagai kampus lainnya.

“Ya beginilah kondisi daerah kami, Pak. Kami sedang mencari sinyal untuk mengerjakan tugas dan hanya di sini sinyal kuat kami temukan. Namun, sinyalnya GSM. Yaitu kependekan dari ‘geser sedikit, mati’. Jadi, jika dapat sinyal yang cukup kuat, kami tidak boleh bergeser-geser lagi. Harus tetap di posisi semula untuk mengerjakan tugas lebih baik,” sebut Gita (18 tahun), Mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Sementara Wati, pelajar MAN 1 Solok, juga mengeluhkan lokasi yang jauh dari nagari dan harus melintas hutan sepanjang 5 kilometer untuk sampai ke lokasi. Makanya mereka sering datang kesana secara berkelompok, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. “Kalau dengan bersama kita bisa meredam rasa takut dan kita juga bisa saling tolong menolong,” ungkapnya.

Mendengar cerita Wati, menurut Dani, pihaknya mengaku benar-benar terenyuh mendengarnya. Apalagi mereka berangkat berkelompok menebus hutan sepanjang lima kilometer untuk mencapai titik tersebut. Sedangkan jalanan yang sangat lengang penuh lubang dan di beberapa titik ada longsoran. “Ini memang tugas kita bersama untuk mencarikan solusi, di tengah masalah bangsa kita yang sedang dihempas corona,” cetus Dani.

Untuk itu, kepada Camat dan Walinagari terkait, ia berpesan agar di lokasi tersebut dibangun gedung permanen untuk mahasiswa dan pelajar mendapatkan sinyal.

Selain itu, Tigo Lurah yang terdiri dari 5 Nagari merupakan Kecamatan paling luas di Kabupaten Solok serta merupakan pemekaran dari Kecamatan Payung Sekaki. Penduduk kecamatan tersebut berjumlah 10.201 jiwa, terdiri dari 5.058 laki-laki dan 5.143 perempuan yang terdiri dari 5 nagari dan 20 jorong. Sedangkan kepadatan penduduk 18 per kilometer persegi. (wan)

Next Post

8 Prioritas Pelanggaran Jadi Target Operasi Zebra

Sen Okt 26 , 2020
SIJUNJUNG, KP – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sijunjungmenggelar Operasi Zebra 2020. Kegiatan razia ini dilakukan menjelang libur panjang, tepatnya mulai Senin (26/10) dan berlangsung selama dua pekan. Seperti kegiatan sebelumnya, beberapa jenis pelanggaran yang dilakukan pengendara, baik mobil maupun sepeda motor, siap menjadi incaran utama kepolisian. Mengingat Ops Zebra […]