MILIKI POTENSI PERTANIAN, Garabak Data Butuh Pembangunan Infrastruktur

SOLOK, KP – Mendengar nama Garabak Data, ingatan kita pasti langsung ke suatu daerah tertinggal di Kabupaten Solok. Nagari yang terlatak di Kecamatan Tigo Lurah dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Solok Selatan dan Dharmasraya itu memang tertinggal di Kabupaten Solok. Dalam sepuluh tahun terakhir, nageri itu terus meronta meminta keadilan pembangunan ke pemerintah daerah, baik Solok ataupun Pemda Sumbar. “Saya sebagai Walinagari Garabak Data bingung mau menjawab apa kalau masyarakat bertanya kapan nagari kita maju atau bisa setara dengan Nagari lain,” ujar Walinagari Garabak Data Pardinal, Kamis (15/10).

Meski nagari yang dipimpinnya penuh suasana tentram dan damai, masyarakat yang lebih dari 2600 jiwa hidup dalam suasana kegotong royongan, namun hingga saat ini kondisi jalan menuju Nagari Garabak Data bila musim hujan tiba, benar-benar memprihatikan. Bahkan sejak Indonesia merdeka, kondisi  jalan menuju nagari di Tenggara Kabupaten Bumi penghasil bareh tanamo itu belum pernah disentuh aspal apalagi hotmix.

Di samping itu kata dia, Garabak Data merupakan sebuah kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Payung Sekaki. Di antara lima nagari yang ada di Kecamatan Tigo Lurah, mungkin kondisi jalan menuju nagari Garabak Datalah yang paling parah. “Bila hujan tiba, kita terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer, karena motor tidak bisa masuk disebabkan kondisi jalan yang licin dan sangat becek,” tambah Pardinal.

Disebutkannya, di nagari tersebut mayoritas mata pencarian warganya yakni bertani kopi, karet, manggus, padi dan coklat. Rata-rata warga di sana memiliki tanaman kopi dan rasanya sangat enak. Namun warga jarang meninggalkan kampung halaman untuk bepergian ke luar karena kondisi perhubungan yang sulit dan hanya memiliki satu akses jalan. Karena jika ditempuh dengan berjalan kaki akan memakan waktu puluhan jam. Bahkan untuk menuju Jorong Garabak dari Jorong Data saja bisa menghabiskan waktu seharian jika berjalan kaki. Sedangkan alat transportasi satu-satunya yakni kuda beban.

“Saat ini masyarakat hanya meminta pemerintah baik Kabupaten mapun Provinsi benar-benar serius memperhatikan nasib nagari kami, terutama membangun infrastruktur jalan menuju Garabak Data dan dalam Nagari Garabak Data sendiri. Karena kalau ada berita baik atau buruk dari sanak saudara yang tinggal di jorong tetangga atau di luar Nagari Garabak Data, kami terpaksa berjalan kaki menuju Batu Bajanjang agar bisa menghubungi sanak saudara yang ada di rantau melalui hp,” jelas Candra (35 tahun), warga jorong Data. 

Pertanyaannya, sampai kapan nagari dan masyarakat Garabak Data akan tinggal dalam keterisolasian dan tidak bisa menikamti kemerdekaan seperti saudara mereka di nagari tetangga. Selain itu Jon Garda menjelaskan, walau tahun 2019 kabarnya ada anggaran sekitar Miliaran Rupiah untuk Tigo Lurah dari Pemkab Solok, namun apakah hal itu akan turun atau tidak, pihaknya juga tidak tahu. “Berita yang belum pasti itu membuat masyarakat tidak terlalu optimis. Selain itu juga tidak diketahui apakah anggaran sebanyak itu juga sampai ke Garabak Data atau tidak,” pungkasnya. (wan)

Next Post

PPID Diskominfo Pariaman Dinilai KI Sumbar

Kam Okt 15 , 2020
PARIAMAN, KP – Komisi Informasi (KI) Sumbar lakukan penilaian terhadap PPID (Pusat Pelaporan Informasi dan Data) Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Pariaman, Kamis (15/10). Ketua Informasi Sumbar, Noval Wiska menyampaikan, program penilaian yang dilaksanakan yakni monitoring dan evalusai (Monev) keterbukaan informasi publik terhadap seluruh badan publik yang ada di […]