Plt Wako Mardison : Manfaatkan Sampah Untuk Majukan Ekonomi Masyarakat

PARIAMAN, KP – Plt Walikota Pariaman Mardison Mahyuddin, membuka Pelatihan dan Penyerahan Sertifikat Pupuk Kompos Cair Berstandar Nasional Indonesia (SNI) serta Launching Akustik Pariaman (Ayo Kumpul Sampah Plastik Retrebusi Aman) dan kerjasama antara Kelurahan Jawi-Jawi II dengan Kampus Dharma Andalas, di Bank Sampah Tunas Muda Kelurahan Jawi-Jawi II Kecamatan Pariaman Tengah, Kamis (22/10).

“Hari ini kita melaksanakan kegiatan Penyerahan Sertifikat Pupuk Kompos Cair Berstandar Nasional (SNI) Bank Sampah Jawi-Jawi II dan Pelatihan Pembuatan Ekoenzim bagi seluruh masyarakat Kota Pariaman,“ ujarnya.

Mardison menyampaikan, hal itu merupakan sebuah langkah maju bagi generasi muda yang tergabung dalam kelompok Bank Sampah Tunas Muda Kelurahan Jawi-Jawi II. Di mana selalu berinovasi tentang bagaimana pentingnya sampah dikelola dengan baik dan sempurna dengan tujuan agar tidak mengganggu kesehatan, kebersihan dan lingkungan sekitar.

“Langkah maju dari mereka terus dipacu dengan melakukan pendidikan kepada generasi milenial untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya ekoenzim ini, karena pengelolaan sampah-sampah organik menggunakan alat-alat sederhana. Ekoenzim ini sangat bermanfaat dengan kondisi pandemi Covid-19 sekarang. Di samping untuk pupuk kompos juga bisa menjadi disinfektan,” terangnya.

“Kami memberi penghargaan dan mengapresiasi yang tergabung dalam Bank Sampah Tunas Muda Kelurahan Jawi-Jawi II. Semoga inovasi ini terus dilakukan untuk mengacu dalam permasalahan sampah, sebab permasalahan sampah tidak hanya dalam rumah tangga tetapi sudah menjadi permasalahan nasional. Yang mana patut dicarikan solusinya bagaimana cara memanfaatkan sampah untuk memajukan ekonomi masyarakat dan diharapkan masyarakat itu sendiri yang mengelola sampah secara komprehensif dan terpadu,“ jelasnya.

Disebutkannya, Pemerintah Kota Pariaman terus memberi fasilitas dan mendorong kepada generasi milenial karena telah mandiri melakukan hal tersebut dan bisa bermanfaat bagi ekonomi masyarakat sekitar. “Mereka yang ikut pelatihan merupakan utusan dari masing-masing desa dan kelurahan perkecamatan, artinya ini sudah dikembangkan Bank Sampah Tunas Muda Kelurahan Jawi-Jawi II,“ ungkapnya.

Kemudian Mardison juga mengimbau kepada seluruh LPM, karang taruna dan generasi milenial di desa dan kelurahan yang ada di Kota Pariaman untuk memacu semangat menjadikan sampah sebagai sahabat dan jangan sampai diabaikan karena akan menjadi penyakit. “Dalam kondisi Covid-19 Kota Pariaman harus bersih, kalau sudah bersih tidak akan ada permasalahan, tentu saja kondisi Covid-19 bisa kita tekan terus dengan pengolahan sampah yang baik dan sempurna,“ tukasnya.

Sementara itu ketua Ekoenzim Sumbar, Syaifuddin Islami mengatakan, Ekoenzim  itu sederhananya memanfaatkan sampah organik dari kulit buah dan potongan sayuran, kemudian dicampur dengan gula merah dan air serta difermentasi selama 3 bulan. “Setelah tiga bulan sudah bisa kita manfaatkan, di antaranya bisa untuk penjernih udara, penjernih air, penyubur tanaman dan kebutuhan rumah tangga seperti cuci piring dan cuci baju.

Dijelaskannya, sebenarnya sudah ada komunitas ekoenzim, yakni Ekoenzim Nusantara dan turunannya Ekoenzim Sumatra Barat. Kemudian ada juga Ekoenzim Kota Pariaman yang baru terbentuk sekitar 1 Minggu lalu. “Perkumpulan kita menggunakan Aplikasi WA yang mana kita boleh belajar di situ dengan gratis,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengajak bergabung dalam komunitas Ekoenzim karena dapat belajar secara gratis. Kemudian juga ditargetkan, manfaat Ekoenzim dapat mengurangi sampah organik. “Malahan di komunitas EZ nusantara kita punya target lima tahun lagi terkait kulit buah dan potongan sayur sudah minim,” pungkasnya. (war)

Next Post

Silek Sunua, Warisan Leluhur yang Harus Dijaga dan Dilestarikan

Jum Okt 23 , 2020
PARITMALINTANG, KP – Sumatra Barat memiliki tiga ‘induak silek’, salah satunya silek sunua yang berkembang di pesisir barat Sumatra Barat dari Pariaman ke Pasaman hingga Riau. Silek Sunua juga dikenal dengan silek para Kyai atau silek tuo di Minangkabau yang awalnya dikembangkan Khalifah Syekh Burhanuddin sembari menyebarkan agama islam di Sumbar. […]