24 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Daerah Terisolir dan Peran Wartawan

SUDAH 75 tahun Indonesia merdeka. Waktu yang sangat panjang. Namun, beragam problema negeri ini masih sangat banyak. Khusus di Sumatra Barat,tidak sedikit penduduk di pedalaman yang belum merasakan nikmat kemerdekaan. Mereka hidup terisolir. Bahkan,akses perhubungan ke daerahnya sangat memprihatinkan. Adakalanya belum ada jembatan permanen, yang ada hanya ‘jembatan maut’ seperti di Kabupaten Solok yang diberitakan KORAN PADANG melalui kegigihan wartawannya Wandi yang menggali informasi dari warga pedalaman di daerah tugasnya.

Diperkirakan, di setiap kabupaten di Sumbar, bahkan di kawasan perkotaan pun ada ‘jembatan maut’ tersebut. Peran pers sebagai alat kontrol sosial sangat pantas mengangkat problema kemasyarakatan tersebut. Wartawan melalui pemberitaan yang ditampilkannya tentu bukan bermaksud mengecilkan arti suksespembangunan di suatu daerah. Tapilebih dari itu, mendorong semakin cepat gerak pembangunan terutama di daerah-daerah terpencil dan terisolir. Bupati dan walikota yang mengerti dengan peran pers tentu maklum dengan maksud dan tujuan diangkatnya problema klasik daerah terisolir tersebut.

Sebenarnya, media di Sumbar dulunya saling bersinergi dengan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan. Misalnya saja dalam pembangunan irigasi Sungai Dareh atau memodernisasi kawasan sungai di Kota Padang. Peran pers ketika itu luar biasa. Berbagai tulisan dimunculkan di surat kabar tentang perlunya sungai-sungai di Padang dimodernisasi. Berita itupun sampai ke pejabat terkait di pusat. Dan terwujudlah modernisasi sungai di Kota Padang seperti yang dapat disaksikan saat ini.  Begitu juga irigasi Sungai Dareh/Batanghari. Pembangunannya pun diawali dengan permberitaan dan akhirnya irigasi itupun hadir dan mampu mengairi persawahan rakyat secara teratur.

Dengan baiknya hubungan pers pada masa itu itu dengan lembaga pemerintahan berkat bimbingan senior, seperti Nasrul Siddik, Chairul Harun, Basril Djabar, Muchlis Sulin, dan lain-lain, semua pembangunan yang direncanakan itu satu persatu terwujud seperti yang sudah kita nikmati saat ini. Inilah yang dimaksud dengan sinergi pers dan pemda dalam arti positif yang sesungguhnya.

Namun, kerja wartawan bersama pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di Sumbar masih belum selesai. Bahkan, semakin menantang kita untuk terus bekerja keras. Salah satu yang mendesak adalah membebaskan kawasan terisolir. Khusus ‘jembatan maut’, mungkin sudah sepantasnya wartawan atau PWI setempat memunculkan buku berjudul ‘Jembatan Maut’ yang mengisahkan ‘jembatan-jembtan maut’ yang ada di berbagai daerah di Sumbar. Kita yakin, bupati atau walikota berkenan bekerjasama. Dan dalam tempo lima tahun ini Sumbar terbebas dari ‘jembatan maut’. Insya Allah. *