24 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Selama Libur Panjang, Bukittinggi ‘Dibanjiri’ Wisatawan

BUKITTINGGI, KP – Selama libur panjang Maulid Nabi Muhammad SAW dan cuti bersama, Kota Bukittinggi dibanjiri pengunjung dari berbagai daerah dan provinsi. Pedestrian Jam Gadang, TMSBK dan Taman Panorama Lubang Jepang menjadi kunjungan utama para pengujung yang datang. Dari pantauan KORAN PADANG sejak awal libur, Rabu (28/10), Bukittinggi sebagai kota destinasi wisata di Sumbar mulai ramai dikunjungi dari berbagai daerah dan provinsi. Hal itu terlihat dengan terisinya hotel-hotel yang ada di Bukittinggi, baik hotel berbintang maupun hotel melati dan penginapan.

Tamu hotel yang datang berasal dari berbagai daerah dan bahkan luar provinsi, seperti Riau, Sumut, Jambi, Bengkulu, Lampung, bahkan ada dari Bandung Jawa Barat, Surabaya Jawa Timur dan Bali. Dari pengakuan mereka kepada KORAN PADANG, mereka sengaja datang dari jauh hanya untuk mengisi libur panjang selama 5 hari. Menurut mereka, dipilihnya Bukittinggi karena selain memiliki keindahan alam bagus dengan hawa sejuk, juga memiliki jenis makanan yang enak. Di samping itu Bukittinggi tidak masuk dalam zona merah penyebaran Covid-19. “Selama Pandemi Covid-19 di Indonesia ini, tentu kita selaku masyarakat mulai jenuh dengan di rumah saja dan ingin merefreshkan jiwa dan fikiran. Dan Bukittinggi inilah tempatnya,” ujar Rudy, pengunjung asal Medan.

Menurutnya, dua tahun lalu ia bersama keluarganya juga ke Bukittinggi, namun tidak seperti saat ini. “Kalau sekarang Bukittinggi telah menunjukkan jati dirinya sebagai kota wisata. Berbagai objek wisata terlihat tertata dengan baik, Jam Gadang dengan tamannya membuat daya tarik tersendiri, apalagi di kala malam hari, Jam Gadang betul-betul menjadi pusat keramaian Bukittinggi. Ditambah lagi pasarnya yang sewaktu kami ke sini dulu dalam pekerjaan, sekarang sangat luar biasa dan menambah daya tarik tersendiri bagi Bukittinggi,” ungkapnya.

Disebutkannya, yang paling disukai dari Bukittinggi yakni makanannya enak, seperti nasi kapau yang menjadi pilihan utama baginya. Kemudian Taman Magar Satwa Budaya dan Kinantan (TMSBK) yang juga menjadi primadona pengunjung Bukittinggi. Dengan tarif Rp 25 ribu untuk dewasa dan Rp 20 ribu untuk anak-anak, TMSBK dibanjiri pengunjung.

Menurut Kabid TMSBK, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Bukittinggi Ikbal Bahal, selama libur panjang dari Rabu hingga Minggu, pengunjung TMSBK mencapai 15.000 orang. Ramainya pengunjung TMSBK tersebut sangat didukung dengan kehadiran “Kinantan Bird Park” atau Taman Aviari.

“Di mana dalam Taman Aviari pengunjung dapat berintegrasi dengan burung-burung yang ada di dalam Taman Aviari itu secara bebas. Kehadiran taman Aviari yang terbesar di Pulau Sumatra, sangat dipuji pengunjung dari Surabaya dan Bali. Sedangkan untuk masuk Kinantan Bird Park atau taman Aviari ini tidak dipungut bayaran dan itu merupakan bagian dari TMSBK yang dikunjungi pengunjung,” ungkapnya.

Lanjutnya, begitu juga di Taman Panorama Lubang Jepang, juga terlihat ramai pengunjung. Apalagi Taman Panorama Lubang Jepang yang telah ditata secara apik membuat pengunjung jadi nyaman, setiap objek wisata dilengkapi musala dan toilet yang representatif. Di samping itu jelasnya, karena Bukittinggi sangat tergantung dengan tingkat kunjungan wisatawan, jelas membawa dampak kepada perekonomian masyarakat. Selama libur panjang kemarin, Pasa Ateh yang merupakan pasar tradisional dengan bangunan ala moderen itu cukup ramai dikunjungi. Dan pengunjung juga terlihat membeli barang-barang kebutuhannya di Pasa ateh.

“Lantai IV Pasa Ateh yang merupakan Food Courd juga ramai pengunjung. Alhamdulillah selama lima hari liburan ini, Food Courn lantai IV cukup ramai dikunjungi. Tidak hanya siang hari, tetapi juga sampai pukul 21.00 wib malam yang merupakan batas waktu buka Pasa Ateh,” ungkap Zil Andri, salah seorang pedagang minuman dengan ciri khas teh talua tapai dan katupek tunjang.

Hal senada juga diungkapkan Eva, pedagang nasi masakan khas Kurai. Di mana menurutnya selama libur panjang, Pasa Ateh cukup ramai dikunjungi. Sehingga berdampak kepada pendapatan pedagang di Pasa Ateh. Dari kunjungan yang ramai itu, para pengunjung cukup mematuhi protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19. Walaupun di tengah-tengah keramaian, pengunjung terlihat patuh memakai masker dan terlihat selalu mencuci tangan di tempat yang telah disediakan Pemerintah Kota Bukittinggi.

Sementara itu walaupun ada yang tidak menggunakan masker, hanya sebagian kecil dan itupun terlihat di kala mereka merokok bagi laki-laki dan memakan makanan bagi pengunjung perempuan. Sedangkan petugas pun juga tidak henti-hentinya mengingatkan pengunjung, baik itu di objek wisata maupun di Pasa Ateh untuk selalu menggunakan masker. Semoga dari kunjungan yang ramai di Bukittinggi tidak menjadi klaster penyebaran Covid-19. (eds)