14 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

OJK : Dari 100 Orang, 38 yang Paham Produk Jasa Keuangan

PADANG, KP – Hasil survei yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal inklusi dan literasi keuangan menemukan dari 100 orang Indonesia baru 38 yang benar-benar memahami produk jasa industri keuangan.

“Indeks literasi keuangan baru 38 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 76 persen pada 2019,” kata Kepala OJK Sumbar, Misran Pasaribu di Padang, Senin (2/11) pada puncak Bulan Inklusi Keuangan Sumatra Barat.

Menurut dia saat ini dari 100 orang Indonesia sebanyak 76 telah menggunakan produk layanan jasa keuangan mulai dari tabungan, deposito, pernah beli saham, punya asuransi dan lainnya.

Angka indeks literasi dan inklusi keuangan di Indonesia mengalami peningkatan dibandingkan 2016 yang ketika itu untuk literasi baru 29 persen dan inklusi 67 persen, ujarnya.

Ia mengakui kondisi ini memang belum optimal sehingga OJK senantiasa meningkatkan upaya sosialisasi dan edukasi soal produk jasa industri keuangan agar literasi meningkat.

Misran menilai peningkatan inklusi keuangan akan efektif membantu pemulihan ekonomi nasional karena semakin banyak orang menggunakan produk jasa layangan keuangan dengan teknologi yang ada.

Salah satu yang digelar OJK adalah bulan inklusi keuangan yang merupakan kampanye masif soal produk layanan keuangan hingga sosialisasi tabungan untuk pelajar, katanya.

Ia mengakui tahun ini merupakan tahun yang berat bagi bangsa Indonesia akibat wabah COVID-19 OJK dan industri keuangan tetap berupaya meningkatkan inklusi dan mendorong pemanfaatan jasa keuangan masyarakat.

Pada kesempatan itu OJK juga menyerahkan bantuan senilai Rp1,4 miliar untuk penanggulangan COVID-19 di Sumbar yang diserahkan kepada Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Unand diterima langsung secara simbolis oleh Rektor Unand Prof Yuliandri.

Di tempat yang sama Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyampaikan pihaknya telah mengeluarkan edaran terkait sosialisasi inklusi keuangan di kalangan pelajar untuk menabung.”Targetnya satu pelajar satu rekening, terutama untuk siswa SMA,” kata dia.

Gubernur menilai kebiasaan menabung perlu dipupuk sejak kecil sehingga menjadi solusi biaya pendidikan hingga kesehatan di masa depan. (ant)