Dinkes Padangpariaman Adakan Sosialisasi KIE Keamanan Pangan

PARITMALINTANG, KP – Dinas Kesehatan Padangpariaman adakan Sosialisasi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Keamanan Pangan di Aula Dinas Kesehatan, Kamis (5/11).

Kepala Dinas Kesehatan Padangpariaman, Yutiardi Rifai mengatakan, kegiatan itu bertujuan berbagi informasi tentang keamanan pangan dan kesehatan. “Karena peserta kita dalam acara ini dari berbagai sekmen. Kalau kemarin sosialisasi kita terhadap remaja pramuka dan saat ini kita sengaja mengundang teman-teman pers dengan harapan bisa juga melakukan sosialisasi melalui medianya masing-masing,” ujarnya

Lanjutnya, dan sebagai tujuan utama bagaimana orang tua sehat, anak-anaknya juga sehat. “Karena sebentar lagi di tahun 2045 kita akan menghadapi bonus demografi. Yang mana anak-anak kita harus sehat dan cerdas supaya mampu berkompetesi dengan anak yang ada di luar negeri,” tuturnya.

Menurut Yutiardy, memang masih ada PIRT yang belum sesuai standar kesehatan dalam pengolahan pangan. Karena itu, Dinkes Padangpariaman terus melakukan pembinaan sehingga sesuai standar keamanan pangan. “Melalui Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan melakukan pembinaan, pengarahan dan memberikan solusi kepada industri rumah tangga yang melakukan pengolahan pangan dan makanan. Bagi yang sudah memiliki PIRT tentu makanan yang dihasilkannya sudah memenuhi standar keamanan pangan dan untuk industri harus ada merk BPOM RI. Sehingga layak untuk dikonsumsi,” ulasnya.

Terkait stunting kata Yutiardy, tentu ada kaitannya dengan ketahanan pangan. Di Padangpariaman tahun 2019, angka stunting masih mencapai rata-rata 16,19 persen. Angka itu terus menurun sejak 2016, 2017 dan 2018. Di mana angka itu masih di bawah rata-rata nasional. Sedangkan target di tahun 2024, harus di bawah 14 persen.

Sementara itu Pemateri dari BPOM Padang, Lega Fatma mengatakan, kesehatan dan keamanan pangan tertuang dalam UU 18 tahun 2012. Disebutkannya, pangan aman untuk dikonsumsi adalah pangan yang aman dari pencemaran baik fisik, kimia maupun biologis. “Pencemaran fisik maksudnya benda-benda yang tidak boleh ada dalam pangan seperti rambut, kuku, staples, serangga mati, kerikil dan lainnya. Sedangkan cemaran kimia yang berasal dari bahan kimia yang dapat merugikan dan membahayakan kesehatan manusia, seperti logam berat, mikotoksin (racun yang dihasilkan jamur) dan lainnya. 

Sedangkan penemaran biologis lanjutnya, berasal dari makhluk hidup, dapat berupa  cemaran mikroba atau cemaran lainnya seperti cemaran protozoa dan nematoda (cacing parasit). Lanjutnya, mewujudkan keamanan pangan, Badan POM menerapkan sistem pengawasan 3 pilar. Yakni BPOM (pemerintah), industri dan masyarakat. BPOM melalui pengawasan sebelum dan setelah produk pangan beredar dengan pengawasan pre-market dan postmarket. 

“Pihak industri harus menjamin mutu, manfaat dan khasiat pangan yang dihasilkan dengan menerapkan  cara produksi yang baik. Sedangkan masyarakat harus cerdas dalam memilih produk pangan yang akan dikonsumsi serta dalam menyikapi informasi yang beredar,” tuturnya.

Lanjut Lega, dan yang perlu diperhatikan juga oleh masyarakat adalah konsumsi air sehat, karena jika kualitas air minum tidak sehat, di dalamnya terkandung Virus Hepatitis A. “Air sehat itu memiliki 4 unsur, di antaranya bau, bentuk, warna dan rasa. Dan perlu diperhatikan juga, saat ini standar kesehatan dan keamanan air isi ulang, apakah memiliki izin dari dinas kesehatan atau tidak?,” paparnya.

Sedangkan untuk tambahan pangan yang dilarang jelasnya, di antaranya Rhodamin B, Boraks, Formalin, Methanil Yellow. (war)

Next Post

Bupati Gusmal Hadiri Pisah Sambut Wakapolres Solok dan Kapolsek Kubung

Jum Nov 6 , 2020
SOLOK, KP – Bupati Solok H. Gusmal, menghadiri acara Pisah Sambut Wakapolres Solok dari Kompol Harianto, kepada Kompol Yuswawi, dan Kapolsek Kubung dari AKP Afdimon kepada IPTU Pajri. Acara yang digelar di Mapolres Solok Arosuka, Jumat (6/11) itu, dihadiri Kapolres Solok AKBP Azhar Nugroho, Sekretaris KPU Kabupaten Solok Efrizon, Kabag Humas […]