Gempa Selasa Pagi Terjadi di Zona IFZ

PADANG, KP – Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap gempa berkekuatan magnitudo 6,3 SR yang terjadi Selasa pagi (17/11) pukul 08.44 dan berpusat di wilayah Kepulauan Mentawaidekat dengan batas tumbukan lempeng. Guncangan gempa dirasakan oleh masyarakat Kota Padang, Painan, Sipora, Solok, Padanganjang, Bukittinggi, Pariaman, Pasaman, Kerinci, Payakumbuh, dan Solok Selatan.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menyebutgempa ini merupakan jenis gempa dangkal. Gempa ini terjadi akibat aktivitas penyesaran di Investigator Fracture Zone (IFZ) yang memiliki mekanisme pergerakan mendatar (strike slip fault). Struktur IFZ ini memanjang di Samudra Hindia mulai dari bagian utara yang berdekatan dengan Zona Subduksi Sumatra hingga ke selatan.

Salah satu gempa besar yang bersumber dari IFZ ini adalah di Samudra Hindia sebelah barat Aceh pada 12 April 2012 yang berkekuatan 8,6 dan 8,1.

“Melihat aktivitas sumber gempa ini, maka ancaman bagi Pulau Sumatra bukan hanya aktivitas gempa yang bersumber dari tumbukan lempeng di Zona Megathrust, Sesar Mentawai, dan Sesar Besar Sumatra di daratan, akan tetapi gempa kuat juga dapat bersumber di Investigator Fracture Zone dekat subduksi lempeng di sebelah barat Sumatra,” kata Daryono.

PEMKO PADANG DIMINTA LAKUKAN LANGKAH ANTISIPASI

Sementara itu, Ketua DPRD Padang Syahrial Kani menilai Kota Padang belum siap dalam menghadapi bencana alam yang paling parah seperti tsunami. Menurutnya, informasi dari BPBD Sumbar yang mengungkapkan potensi gempa besar dengan kekuatan 8,9 magnitudo yang dapat memicu tsunami setinggi 10 meter belum diantisipasi oleh Pemko Padang.

“Walau pemerintah telah menjadikan beberapa bangunan sebagai shelter evakuasi tsunami, tetapi apakah jalan menuju shelter atau zona hijau telah dibangun dengan baik? Selain itu, sirine peringatan dini tsunami apakah berfungsi dengan baik?” ucapnya.

Selain itu, ia juga meminta pemerintah mensosialisasikan kembali kepada masyarakat bagaimana cara menghadapi gempa bumi dan tsunami. “Kita semua tidak mengharapkan gempa berskala besar yang mengakibatkan tsunami terjadi di negeri ini. Tetapi, kita tetap harus waspada. Pemerintah melalui instansi terkait harus memberikan pelatihan kepada masyarakat langkah-langkah menghadapi bencana alam,” ujarnya

Dihubungi terpisah, Kepala Center of Disaster Monitoring and Earth Observation Universitas Negeri Padang (DMEO UNP) Pakhrur Razi membenarkan bahwa gempa bumi dengan skala besar yang berpotensi tsunami berpeluang terjadi di Sumbar. Hal ini diungkapkannya berdasarkan kajian dari penelitian para pakar gempa Belle Philibosian dari California Institute of Technology.

“Peluang kekuatan gempa dengan magnitudo 8,9 didapat karena mereka mempelajari pergeseran coral (karang) di dasar laut, kemudian melakukan perhitungan sehingga dapat angka M 8.9,” ucapnya.

Menurutnya, sejak tahun 2006 telah dilakukan observasi dengan memanfaatkan satelit dan ditemukan adanya pergeseran dan deformasi di daerah Kepulauan Mentawai. Lebih lanjut peraih gelar doktor dengan indeks prestasi (IP) 4.0 dari Chiba University itu menyatakan bahwa gempa dengan kekuatan M 8,9 tersebut tinggal menunggu waktunya saja karena sudah masuk dalam siklus 200 tahun kegempaan di Kepulauan Mentawai.

“Dari catatan sejarah, gempa bumi terbesar dengan kekuatan M 8,6-8,8 di Kepulauan Mentawai terjadi tahun 1797. Kemudian gempa dengan kekuatan M 8,8-8,9 juga terjadi di tahun 1833. Pada saat ini kita telah memasuki siklusnya,” ucapnya.

Ia menjelaskan tsunami akibat gempa 1797 lebih tinggi dibandingkan saat gempa 1833 yang secara magnitude lebih besar. Tetapi, ketinggian tsunami di Padang pada 1833 justru lebih kecil, hanya 2–3 meter saja.

Pakhrur Razi menyarankan pemerintah dan masyarakat harus selalu waspada dan siap siaga terhadap potensi gempa dan tsunami. “Untuk kondisi di rumah, pastikan tidak ada benda-benda yang menghalangi upaya menyelamatkan diri ketika gempa terjadi. Kemudian latihlah anak-anak untuk siap siaga menyelamatkan diri saat terjadi gempa dan setelah terjadi gempa,” tambahnya.

Sejak tahun 2018 hingga saat ini, gempa dengan kekuatan M 5 terjadi sebanyak 26 kali yang terkonsentrasi di Pagai Utara bagian Selantan dan Pagai Selatan bagian Selatan. (ant/bim)

Next Post

Bupati Irfendi Arbi Terima Kapabilitas APIP Level 3

Sel Nov 17 , 2020
PAYAKUMBUH,KP- Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota kembali menunjukan kebolehannya. Kali ini daerah yang dipimpin Bupati Irfendi Arbi itu berbangga atas prestasinya dalam pencapaian Kapabilitas Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) LEVEL 3.Kado terindah di penghujung masa kepemimpinan Irfendi Abi dari Deputi Kepala BPKP Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah Republik Indonesia itu diserahkan […]