Kehidupan Warga Garabak Data, Siang di Ladang dan Malam di Rumah

SOLOK, KP – Menyebut nama Garabak Data, orang akan langsung berpikir kalau daerah tersebut masih tertinggal, jauh dari pembangunan serta masyarakatnya masih terkebelakang. Meski tidak semuanya benar, namun tidak bisa kita pungkiri, dari 74 Nagari di Kabupaten Solok, mungkin Garabak Datalah Nagari paling tertinggal dibanding Nagari lain. Tidak ada akses jalan beraspal, tidak ada listrik, jarak antara jorong saling berjauhan, jarang dikunjungi pejabat serta selalu setiap musim kampanye Pileg dan Pilkada mendapat janji-janji manis dari sang calon. Namun rata-rata setelah mereka duduk, mereka jadi pikun dan sering lupa akan janji yang telah mereka ucapkan. 

Sudah terisolir, akses kesehatan juga sangat minim. Untuk proses kelahiran, hingga saat ini warga masih bertopang pada jasa dukun beranak. Di Garabak Data hanya ada Puskesri, sementara Puskesmas hanya ada di Batu Bajanjang, ibukota Kecamatan Tigo Lurah yang bisa ditempuh antara 6-8 jam dari Garabak Data dengan berjalan kaki. Akibat hal itu, tingkat dan resiko kematian ibu yang akan melahirkan sangat tinggi. 

Di samping itu kehidupan masyarakat Gara­bak­ Da­ta masih tradisional dan apa adanya. Rasa gotong royong dan solidaritas pun masih tinggi. Bila ada hal baik atau kejadian buruk melanda warga kampung, mereka akan tanpa pamrih untuk saling menolong. Sebenarnya, harapan warga Garabak Data tidak muluk-muluk, hanya minta akses jalan ke kampung mereka diperbaiki dan diaspal. “Kami sangat kesulitan untuk keluar, karena akses jalan layak tidak ada. Apalagi saat musim hujan, hal ini jelas akan memperparah suasana dan itu jelas akan berdampak buruk bagi warga yang akan ada keperluan seperti ke Kecamatan,” jelas Walinagari Garabak Data, Pardinal. 

Walinagari yang paling gigih memperjuangkan daerahnya itu juga menyebutkan, warga gigih meminta jalan ke pemerintah karena jalan tanah yang kini menjadi urat nadi transportasi warga dibuka di era Bupati Solok Gamawan Fauzi, sekitar tahun 1998 silam. Hingga sekarang tidak diaspal, karena alasan jalan membelah hutan lindung. Namun saat ini menurutnya sudah diurus, tetapi belum ada tanda-tanda jalan akan diperbaiki. 

Sedangkan kehidupan anak-anak Garabak Data, jika siang belajar dan sehabis magrib mengaji. Se­telah Salat Isya, anak-anak tidur. Hanya sedikit warga yang bi­sa pakai genset. Bayangkan saja, se­kali pakai listrik genset harus mengeluarkan uang Rp 60 ribu dikali satu bulan, tentu tidak akan kuat. “Genset digunakan jika sifatnya mendesak saja. Kalau tidak penting tidak digunakan,” terang Pardinal. 

Disebutkannya, Nagari berpenduduk di atas 2800 jiwa itu, seperti tidak pernah bersentuhan dengan dunia luar. Kalaupun ada yang memiliki handphone, itu hanya digunakan untuk memotret dan mendengar musik. Sebab di sana tidak ada sinyal dan listrik. Sementara mata pencarian warga yakni bertani. Angkutan mereka masih menggunakan kuda beban yang upahnya dibayar perkilo atau tergantung berat barang dan jarak tempuh. Sementara harga kebutuhan barang di Garabak Data hampir dua kali lipat dari harga normal. Sebagai contoh, bensin 1 liter bisa dijual Rp 20 hingga 25 ribu per liternya. Sedangkan harga semen dari harga normal, di Garabak Data bisa dijual dari Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Yang membuat harga mahal, pastilah ongkos ke sana dan akses jalan yang susah. 

Sementara itu Nagari Garabak Data memiliki Tiga Jo­rong, yakni Lubuk Tareh, Jorong Garabak dan Jorong Data. Bayangkan saja, jarak antara Garabak ke Jorong Lubuk Tareh bisa ditempuh 5-8 jam dengan memasuki hutan belantara. Kondisi Jalannya sungguh rawan, melewati lereng-lereng bukit yang terjal dan banyak binatang buas seperti harimau dan ular serta juga babi hutan. Bila musim hujan, keadaan akan lebih parah, kedalaman lumpur bisa satu meter.

Menurut cerita Irna (35 tahun), salah seorang warga Lubuk Tareh menyebutkan, kebanyakan anak-anak di kampungnya di Lubuk Tareh tidak bersekolah. Karena jarak yang jauh dan sekolah tidak ada, maka banyak warga kampung di sana yang menikah di usia muda. Saking terisolir, penduduk setempat nyaris tidak begitu tahu perkembangan dunia luar. “Kalau ada warga kampung yang keluar, itu hanya keperluan mendesak dan mungkin mereka menjual hasil panen saja. Selebihnya mereka menghabiskan waktu ‘siang di ladang dan malam di rumah’. Begitulah seterusnya,” cerita Irna.

Secara geografis, alam Garabak Data berada di perbukitan Barisan dan berbatas langsung dengan Kabupaten Dhamasraya serta di Selatan dengan Provinsi Jambi. Karena minimnya perhatian peme­rintah terhadap warga dan Nagari Garabak Data, maka berdampak terhadap SDM warga Garabak Data yang hingga kini warganya juga masih terbe­lakang. 

Bayangkan saja, sejak PAUD, SD dan SMP, anak-anak harus jauh berjalan ka­ki pergi ke sekolah dengan melewati hutan, tanah lumpur dan lainnya. Mungkin kehidupan di sana lebih mirip dengan saudara kita di pedalaman Papua. Apalagi tamat SMP yang akan melanjutkan ke SMA harus pergi ke Batu Bajanjang dengan jarak tempuh 5-8 jam. Kalau musim panas, bisa naik motor 2-3 jam. Butuh delapan jam perjalanan da­ri Garabak ke sana. Apalagi anak kelas 6 SD yang akan menghadapi UN, maka sejak H-1, anak-anak su­­dah berangkat. Dan selama tiga hari UN, anak-anak menginap di Batu Bajanjang. Usai UN, barulah anak-anak kembali.

Meski dihadapkan dengan se­jum­lah keterbatasan, namun siswa SD di Garabak Data harus bersaing dengan sekolah lain di perkotaan dengan standar ujian nasional yang sama. Setamat SMP, mereka harus berse­kolah ke nagari lain karena belum ada SMA di kampungnya. Umumnya, anak-anak Garabak Data melanjutkan pendidikan ke SMA Tigo Lurah yang berdiri sejak 8 tahun lalu.

Pada umumnya juga, anak-anak Garabak Data tinggal dan kos di Batu Bajanjang dengan biaya sewa rumah mulai Rp 500 ribu hingga 750 perbulannya. Karena semua serba mahal, terkadang setamat SD,  banyak orang tua meminta anaknya berhenti sekolah dan membantu orangtua ke ladang.

Selain itu Kehidupan penduduk Garabak Data masih jauh dari sejahtera. Mereka meng­gantungkan hidup pada hasil per­tanian saja dan sekedar menyambung hidup cukup untuk makan. Untuk itu, kita berharap pemerintah Daerah baik Kabupaten Solok dan Sumbar, memberi perhatian khusus ke Nagari Garabak Data agar mereka terbebas dari ketertinggalan. (penulis adalah wartawan Koran Padang, tinggal di Solok)

Next Post

DPRD dan Pemkab Solok Tetapkan RAPBD Tahun 2021

Sel Nov 17 , 2020
SOLOK, KP – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Solok […]