KISAH ANAK-ANAK DAERAH PINGGIRAN, Hafal Nama Presiden, Kebingungan Ditanya Nama Bupati

SOLOK, KP – Bukan cerita dari negeri dongeng, namun ini benar-benar kisah nyata dari kehidupan anak-anak yang tinggal di daerah pelosok di Kabupaten Solok. Meski tinggal jauh dari pusat keramaian dan hiruk pikuk serta bisingnya bunyi kendaraan, namun hidup di daerah terpencil ternyata jauh lebih tenang, aman dan damai. Rasa kebersamaan dan tradisi gotong royong juga masih tetap dijaga dan dilestarikan. 

Saat kunjungan KORAN PADANG ke daerah terisolir di Jorong Tanjung Balik, Nagari Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok beberapa waktu lalu, ada kisah cukup mengharukan yang mungkin selama ini jarang mendapat sorotan awak media. 

Meski tinggal di daerah terisolir dan jauh dari ibukota Kabupaten dan Provinsi, namun anak-anak yang tinggal di Sumiso, tergolong cukup cerdas. Malah mereka hafal nama Presiden dan Ibukota Negara serta ibukota Provinsi Sumbar. Namun sayangnya, ketika ditanya nama Bupati dan Camat setempat, mereka malah saling bertatapan kepada teman mereka. “Siapa ya, saya tidak tahu,” jawab salah seorang anak bernama Irdan (8 tahun).

Selain itu mereka juga belum pernah bertemu dengan para pejabat tersebut dan juga mereka mengaku belum pernah pergi ke Ibukota Kabupaten Solok di Arosuka atau ke Kota Padang, Ibukota Provinsi Sumatra Barat. Sedangkan saat ditanya tentang cita-cita mereka, rata-rata menjawab ingin jadi polisi dan guru. 

Lalu saat ditanya siapa nama Presiden RI sekarang, dengan nada serentak mereka menjawab Bapak Jokowi. Ketika ditanya dari mana tahu nama tersebut, anak-anak itu menjawab tahu dari spanduk dan foto di sekolah. Begitu juga ketika ditanya kepada salah seorang anak bernama Reni (10 tahun), apakah dia tau siapa nama Gubernur Sumbar saat ini. Maka langsung dijawab dengan lancar, yakni Bapak Irwan Prayitno. 

Namun saat ditanyai apakah mereka sudah pernah ke kota Solok atau ke kantor Bupati, hampir semuanya menjawab belum pernah. Mereka beralasan belum pernah ke Arosuka karena orang tua tidak mau mengajak disebabkan jarak yang jauh dari kampung mereka dan jalannya juga buruk masuk hutan. “Kata bapak kalau mau melihat kantor Bupati, nanti saja jika sudah SMP atau SMA. Sebab dari Sumiso ke Sirukam saja bisa menghabiskan waktu 5 sampai 6 jam baru sampai di kantor Bupati. Lagi pula kata beliau ongkosnya mahal kalau mau ke ibukota,” tutur Reni dengan polos. 

Sementara itu Camat Tigo Lurah Sarmaini, mengaku sangat prihatin dengan kondisi anak-anak dan warganya yang berada jauh ibukota dan keramaian. “Ya begitulah kondisi dan kehidupan di sini, anak-anak masih lugu dan sangat alami. Kalau pagi mereka sekolah, siang membantu orang tua di ladang. Pada waktu sore mereka pergi mengaji. Tapi kita bersyukur jauh dari dunia internet yang banyak berdampak negatif bagi perkembangan anak,” jelasnya.

Di samping itu Sarmaini juga sempat bercerita, sebelum ada bangunan SMA di Ibukota Kecamatan Tigo Lurah di Batu Bajanjang sekitar enan tahun lalu, maka setamat SMP banyak anak-anak di Sumiso yang menikah pada usia muda. Sebab jika mau melanjutkan ke SMA sangat jauh karena harus ke kota Solok atau ke Salayo yang jaraknya bisa ditempuh 5 jam perjalanan.

“Daripada tidak ada kegiatan, maka para orang tua lebih memilih menikahkan anaknya setamat SMP. Namun sekarang sudah ada SMA, jadi mereka bisa melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat setempat, Damuri.

Namun pihaknya sangat berharap agar ke depannya Pemkab Solok memperhatikan kondisi jalan dari Tanjung Balik menuju ke Nagari Rangkiang Luluih yang sangat memilukan. Di mana sebagian jalan memang sudah diaspal, namun separuhnya lagi masih jalan tanah. “Anak-anak pergi sekolah harus menempuh jalan itu, karena tidak ada jalan lain menuju ibukota Kecamatan. Selain itu, jalan juga harus melintasi hutan yang sepi dan bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama untuk anak perempuan,” sebut Damuri. (wan)

Next Post

BPJAMSOSTEK Serahkan Santunan Kematian Sebesar Rp105,6 Juta

Jum Nov 20 , 2020
PADANG ARO, KP – BPJAMSOSTEK menyerahkan santunan kematian kepada Mizatul Aliya yang merupakan ahli waris almarhum Alwianto yang bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Solok Selatan (Solsel) sebesar Rp105,6 juta.Kepala Kantor Cabang Perintis BPJAMSOSTEK Solsel, Faisal Marianas di Padangaro, Jumat (20/11) mengatakan klaim sebesar Rp105,6 juta tersebut […]