LIMA TAHUN TERAKHIR, Capaian Indikator Makor Pembangunan Bukittinggi Alami Kenaikan di Beberapa Sektor

BUKITTINGGI, KP – Capaian Indikator Makro Pembangunan Kota Bukittinggi selama lima tahun terakhir dinilai cukup baik dan mengalami kenaikan di beberapa sektor. Baik dalam pertumbuhan ekonomi, pengeluaran perkapita maupun dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Bukittinggi sebesar 6,02 persen. Angka itu di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumbar yang hanya 5,14 persen dan nasional 5,17 persen. Namun pada 2019, turun menjadi 5,88 persen, Provinsi 5,05 persen dan nasional menjadi 5,02 persen.

Hal itu diungkapkan Kepala Bapelitbang Bukittinggi, Rismal Hadi kepada KORAN PADANG, kemarin. ”Tingginya angka pertumbuhan ekonomi Bukittinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi provinsi maupun nasional, merupakan hasil pembangunan sarana dan prasarana ekonomi yang telah dilaksanakan selama ini,” ujarnya.

Sedangkan untuk pengeluaran perkapita jelasnya, Bukittinggi tahun 2018 sebesar Rp 13,04 juta. Angka itu di atas rata-rata provinsi yang hanya Rp 10,64 juta dan nasional Rp 11,06 juta. “Angka ini menggambarkan daya beli atau kemampuan masyarakat Bukittinggi dalam membelanjakan uangnya senilai Rp 11,06 juta perorang. Pengeluaran perkapita atau daya beli masyarakat berkaitan dengan pendapatan. Semakin besar pendapatan, maka daya beli akan semakin tinggi,” sebutnya.  

Kemudian untuk tingkat kemiskinan menurut Rismal Hadi, pada tahun 2016 terdapat 6.810 orang penduduk yang dikategorikan miskin di Bukittinggi atau sebesar 5,48 persen dari total Penduduk Bukittinggi. Pada tahun 2017 turun menjadi 6.754 orang penduduk atau 5,35 persen dan tahun 2018 berhasil diturunkan menjadi 6.315 orang penduduk miskin atau sebesar 4,92 persen. Dan pada 2019 tingkat kemiskinan turun menjadi 4,60 persen,” paparnya.

“Meskipun permasalahan penduduk miskin di Bukiittinggi merupakan permasalahan rumit karena mencakup berbagai aspek termasuk aspek perpindahan penduduk atau migrasi. Namun penurunan tingkat kemiskinan tahun 2018 merupakan penurunan terbesar dibandingkan penurunan tingkat kemiskinan tahun sebelumnya,” terangnya.

Sedangkan untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bukittinggi lanjutnya, juga jauh dibandingkan IMP Provinsi dan nasional. Di mana IPM Bukittinggi pada tahun 2018 adalah 80,11. Angka itu jauh di atas IPM Provinsi Sumbar yang hanya 71,73 dan nasional yang hanya 71,39. Pada tahun 2019 IPM Kota Bukittinggi menjadi 80, 71.

Tingginya IPM Kota Bukittinggi menurut Rismal Hadi, bahwa masyarakat Bukittinggi dapat mengakses hasil pembangunan untuk meningkatkan pendapatan, meningkatkan kualitas kesehatan dan meningkatkan kualitas pendidikan. “Dan IPM tersebut dihitung berdasarkan tiga dimensi dasar, yaitu angka harapan hidup, angka lama sekolah dan daya beli masyarakat. Artinya, ketiga komponen itu dapat dilihat, kalau upaya pembangunan kualitas hidup masyarakat Bukittinggi telah berhasil dilakukan pemerintah sebagaimana tergambar dalam IPM tersebut,” tukasnya. (eds)

Next Post

Rahmat, Hafizh 30 Juz Alquran Dapatkan Voucher Umroh Gratis PT Amanah Travel Bukittinggi

Ming Nov 8 , 2020
BUKITTINGGI, KP – Rahmat Isra Al Fikri, salah seorang murid […]