Menjemput Semangat Kepahlawanan ke Rumah Tan Malaka Nan Sunyi

LIMAPULUH KOTA, KP- Semangat kepahlawanan yang telah ditanamkan Tan Malakasepertinya benar-benar melekat dalam sanubari, jiwa, dan raga Ferizal Ridwan.Itulah sebabnya, pada peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 Nopember 2020, calon Bupati Limapuluh Kota yang akrab disapa Buya Feri itudatang ke rumah kelahiran dan berziarah ke makam Pahlawan Nasional Tan Malakauntuk memaknai arti sebuah perjuangan dan kepahlawanan.

Dengan mengendarai sepeda motor, calon bupati yang didukung 23 ribu lebih surat dukungan untuk maju melalui jalur perseorangan itumenuju rumah kelahiran Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Selasa (10/11).

Usai melafazkan doa untuk Sang Pahlawan Tan Malaka, mata Ferizal Ridwan terlihat sabak menyaksikan rumah Bapak Bangsa yang nyaris terlupakan itu.Betapa tidak, di pekarangan yang tidak begitu luas berdiri sebuah Rumah Gadang yang kondisinya kurang terurus karena dipenuhi rumput liar. Padahal, di atas rumah bersejarah itu lahir Tan Malaka yang kelak menjadi seorang pahlawan nasional.

Tidak hanya itu kesedihan Ferizal Ridwan, sebagai orang yang berjasa memulangkan jasad Tan Malaka ke kampung halamannya di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, jiwanya terpukul tatkala menyaksikan makam Tam Malaka tak terawat dipenuhi rumput.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya,”ujarnya mengingatkan sembari mencabuti rerumputan liar yang memenuhi makam pahlawan nasional yang tidak terabaikan itu.

Ferizal Ridwan juga berkisah tentang sosok dan perjuangan Tan Malaka. Pria bernama lengkap Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka anak dari pasangan Rasad Caniago dan Sinah Sinabur ini lahir pada 2 Juni 1897. Banyak rintangan yang dihadapinya dalam meraih dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mulai dari penangkapan dan pembuangan dan pengusiran dari negara Indonesia, konflik dengan Partai Komunis Indonesia, hingga pernah diduga kuat sebagai dalang di balik penculikan Sutan Sjahrir pada bulan Juni 1946.

“Namun, tidak ada yang bisa menafikan peran Tan Malaka dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Oleh Soekarno, Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan Nasional melalui ketetapan presiden Nomor 53 tanggal 23 Maret 1963,” ungkap Ferizal Ridwan.

Menurutnya, sejak ditetapkannya Tan Malaka sebagai pahlawan nasional, sudah sepatutnya negara memberikan hak-hak kepahlawanannya. Dengan kata lain, ada kompensasi atas perjuangan Tan Malaka.

“Jika saya diberi amanah menjadi bupati, peringatan Hari Pahlawan Nasional pada tahun 2021, Insya Allah akan dilakukan kegiatan ziarah resmi sebagai agenda daerah ke makam Bapak Rupublik Tan Malaka,” sebut Ferizal Ridwan.

Dikatakannya, hal itu adalah momen penting dan mesti dilakukankarena sejauh ini Kabupaten Limapuluh Kota belum ada Taman Makam Pahlawan milik daerah.

“Sejarah bangsa mencatat bahwa ada dua tokoh nasional yakni Tan Malaka dan Muhammad Hatta yang berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota.Disamping itu, kita akan menghentikan perdebatan tentang makam Tan Malaka yang mesti diakhiri. Semua itikad baik ini merupakan perwujudan dari anak bangsa untuk berterima kasih kepada para pahlawan,” pungkas Ferizal Ridwan. (dst)

Next Post

Milenial Minta Nasrul Abit Bangun Sirkuit Balap Motor di Sumbar

Sel Nov 10 , 2020
BUKITTINGGI, KP – Generasi milenial meminta Calon Gubernur Sumbar Nasrul […]