Minta Maaf

KITA sebagai umat beragama selalu diharapkan rukun dan terjauh dari beragam perbuatan tercela agar senantiasa hidup bahagia sebagai insan yang beriman. Namun,ada pula insan yang tidak peduli dengan hal itu, termasuk mereka yang diberi amanah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan negara. Mereka itu mungkin terlalu besar nafsunya sehingga mengingkari amanah yang diemban. Akhirnya terpedaya oleh bujuk rayu syetan untuk melakukan perbuatan tercela.
Tidak sulit mencari orang yang seperti itu. Mereka yang sudah divonis hakim bersalah, itulah orangnya. Mereka dihukum karena berbuat menyimpang, lari dari aturan agama maupun hukum negara. Ada juga orang-orang yang ditangkap karena pihak berwenang punya bukti kuat atas dugaan perbuatan jahat mereka.
Anehnya, mereka atau tokoh yang kadangkala sudah diborgol itu tiba-tiba saja minta maaf atas perilakunya yang bejat tersebut. Boleh jadi itu termasuk ‘permintaan maaf yang terlambat’. Memang, tak salah minta maaf kepada semua pihak, namun kesalahan yang telah dilakukan wajib ditebus. Misalnya dengan berhenti dari jabatan, masuk penjara, atau ganjaran negatif lainnya yang tentunya tidak mengenakkan.
Baiknya kita-kita ini mengabdi pada negeri dengan selalumempedomani aturan yang ada. Taat pada aturan diibaratkan salah satu ciri insan yang beriman. Bagi yang tak patuh pada aturan cepat atau lambat pasti akan mendapat ’jatah’ yang menyengsarakan.
Sudah sangat banyak anak bangsa ini yang masuk penjara. Namun, banyak juga yang tidak jera. Penjara sudah penuh, namun yang antre untuk masuk tidak kunjung berkurang. Apakah karena hukumannya yang dianggap enteng atau terlalu ringan?
Penjara memang merupakan tempat rehab bagi mereka yang bersalah agar kembali ke jalan yang benar. Namun tak layak rasanya oknum yang menghabiskan uang negara sangat banyak diberi lagi fasilitas setelah keluar penjara.
Yang jelas, mereka yang baru meminta maaf ketika tangannya sudah diborgol dan mengenakan rompi oranye tahanan, adalah permohonan maaf yang terlambat. *

Next Post

KPK Ungkap Kekayaan Calon Kepala Daerah di Pilkada Sumbar- Ada yang Kekayaannya Puluhan Miliar Rupiah, Ada pula yang Minus

Jum Nov 27 , 2020
PADANG, KP – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis calon Bupati Solok Epyardi Asda menjadi calon kepala daerah terkaya di Pilkada Sumbar 2020 berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Kekayaannya mencapai Rp73,06 miliar.Jumlah itu diikuti calon Wakil Gubernur Sumbar Audy Djoinaldy senilai Rp58,1 miliar dan calon Bupati Limapuluh Kota Muhammad […]