Pilkada Hambar?

PANDEMI corona yang menyerang negeri ini membuat pilkada terasa hambar. Sudah mendekati sebulan masa kampanye, seakan tak terjadi apa-apa. Padang yang menjadi salah satu kota barometer politik adem-ayem saja. Karena pandemi, tak ada lagi keramaian kampanye di Imam Bonjol, GOR H. Agus Salim, dan lokasi strategis lainnya. Kondisi ini diperkirakan juga terjadi di daerah lainnya.

Meski melalui selentingan informasi bahwa empat pasangan calon Gubernur Sumbar selalu sibuk mengunjungi konstituennya, namun informasinya tidak begitu greget. Mungkin pertemuan terbatas dengan jumlah massa yang seberapa kurang menarik dalam bidikan media. Tak ada anak muda dengan tampilan glamour yang membuat hadirin tertawa.

Hanya saja yang meraih untung adalah calon kepala daerah, gubernur, bupati ataupun walikota yang biasa jadi pendakwah karena punya kesempatan lebih besar bertemu dengan massa dalam jumlah banyak setiap menjadi Khatib Jumat atau memberi ceramah di berbagai masjid. Meski ia berkampanye, tidak menyampaikan visi misi, namun jemaah pasti terkagum-kagum menikmati apa yang disampaikan sang tokoh tersebut.

Kalau dicermati dengan seksama sejak dulunya, cendekiawan Islam yang mampu menguasai mimbar masjid atau musala berhasil merebut hati pemilih. Bagi yang memaklumi tentu paham dengan ‘teori menguasai mimbar’ tersebut. Menyikapi perkembangan politik sekarang, sudah saatnya bagi generasi muda yang berminat jadi pemimpin untuk mehamami dan merenungi teori ini.

Bagaimanapun juga, warga kita semakin cerdik. Tentu mereka tidak mudah terpengaruh dengan tampak luar saja. Masyarakat sudah arif dalam memilih pemimpin. Apalagi, warga yang sedang kesusahan terutama akibat pandemi corona ini juga cenderung bangga dengan orang yang membantunya. Oleh karena itu, mari kita saksikan saja nanti siapa yang akan jadi pemimpin pilihan rakyat di daerah ini. *

Next Post

Baznas Agam Salurkan Zakat Rp 664.300.000 Kepada 350 Mustahik

Kam Nov 5 , 2020
LUBUKBASUNG, KP – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Agam […]