SELAMA KEPEMIMPINAN IP-NA, Kerukunan di Sumbar Selalu Terjaga

PADANG, KP – Bidang kegamaan dan budaya menjadi misi pertama pemerintahan Gubernur Irwan Prayitno bersama Wagub Nasrul Abit pada RPJMD 2016-2021, yakni ‘meningkatkan tata kehidupan yang harmonis, agamais, beradat, dan berbudaya, berdasarkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK)’.

Meski masyarakat Sumbar mayoritas beragama muslim, namun kerukunan umat beragama yang terjalin selama ini tetap terjaga, damai, dan tentram. Misalkan pernah terjadi gesekan, lebih pada persoalan pribadi dan bukan persoalan mayoritas dan minoritas.

“Kita ingin Sumbar yang rukun damai dan sejahtera selama ini tetap terjaga. Jangan sampai dirusak oleh unsur pribadi,” ujar Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Menjaga kerukunan, katanya, tidak lepas dari komunikasi dan saling menghargai. Bahkan, tidak ada konflik yang tidak bisa diselesaikan dengan pola komunikasi efektif. “Kuncinya komunikasi dan itu yang harus tetap kita pegang teguh untuk terus dijaga,” pesan Gubernur.

Bahkan, untuk lebih menegaskan semangat kerukunan, Pemprov Sumbar bersama stakeholder terkait, yakni Kantor Wilayah Kementerian Agama menggelar kegiatan Deklarasi Cinta Kerukunan tahun 2017 silam. Tak tanggung-tanggung kegiatan ini dihadiri 1.500 tokoh dan umat beragama se-Sumbar. Menteri Agama saat itu, H. Lukman Hakim Saefuddin juga ikut menyaksikan pernyataan sikap deklarasi kerukunan umat beragama yang diikrarkan masyarakat Sumbar ini. Iven bersejarah ini juga dihadiri bupati dan walikota, ormas keagamaan, dan perwakilan tokoh agama yang memimpin langsung pembacaan pernyataan sikap deklarasai kerukunan umat beragama.

Dilaksanakannya deklarasi cinta kerukunan ini momentum bagi umat beragama di Sumbar memperkokoh persatuan intern dan antar umat beragama. Memang, kondisi umat bergama di Sumbar sudah rukun namun proses kehidupan perlu ditingkatkan demi menjaga negara kesatuan. Sehingga, tak ada salahnya diproklamirkan bahwa Sumbar menjunjung tinggi kerukunan.

Sejak dulu sampai hari ini masyarakat sumbar masih tetap menjaga kerukunan dengan berpegang teguh pada filsafat adat Minangkabau. Orang Minang dikenal dengan semangat merantau. Di rantau, orang Sumbar bukan pembuat kerusuhan tapi justru jadi pendamai kerusuhan. Kerukunan bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Kerukunan adalah hasil dari sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama. Di tengah kemajemukandan keberagaman, Sumbar membuktikan diri sebagai provinsi yang tetap mampu menjaga kerukunan.

Gubernur Irwan Prayitno mengatakan di Sumbar memang punya banyak aturan dan perda terkait keagamaan. Dia mencontohkan adanya Perda Wisata Halal hingga syarat masuk sekolah bisa hafal alquran. Menurutnya, semua aturan tersebut dibuat berdasarkan aspirasi masyarakat. Aturan tersebut juga didukung oleh masyarakat. “Yang penting masyarakat memahami apa yang dimaksud, jadi saya rasa itu tidak masalah,” ujarnya.

Dalam membantu pemerintah menjaga kerukunan antar masyarakat, Sumbar juga mempunyai Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di masing-masing kabupaten/kota dan di tingkat provinsi. Dengan adanya FKUB, pemda sangat terbantu dalam menyerap aspirasi dan mensosialisasikan berbagai kebijakan pemerintah terkait dengan kerukunan dan menghadapi berbagai permasalahan agama, termasuk pendirian rumah ibadah di masyarakat. Dengan adanya FKUB, maka permasalahan-permasalahan agama dan potensi konflik yang muncul di masyarakat dapat diminimalisir.

Untuk lebih ‘membumikan’ semangat keagamaan, terutama menciptakan generasi qurani di kalangan umat muslim, dalam setahun terakhir Gubernur Irwan Prayitno berkesempatan meresmikan sejumlah rumah tahfiz. Antara lain Pondok Tahfiz Quran Haifa Rabbani dan Pondok Tahfiz Quran Islamic Center di Pasaman serta Rumah Tahfiz Alquran di Nagari Panyalaian Tanahdatar. Selain itu, gubernur juga menghadiri acara Haflatul Quran Yayasan Adzkia Sumbar yang diikuti lebih 500 orang penghafal Alquran dan menghadiri konferensi pers pencanangan gerakan 2000 hafiz Alquran di Bank Nagari.

Jika didata lebih lama lagi, gubernur cukup banyak menghadiri acara wisuda penghafal Alquran maupun khatam Alquran serta meresmikan pondok atau rumah tahfiz quran di berbagai daerah di Sumbar. Selain pondok tahfiz Alquran yang melahirkan para penghafal Alquran, sekolah negeri pun juga memiliki program penghafal Alquran. Misalnya di SMA 1 Padang. Berbagai sekolah di kabupaten/kota juga semakin banyak yang memiliki program menghafal Alquran bagi siswanya.

Salah satu bentuk dukungan pemda bagi penghafal Alquran adalah kebijakan masuk SMA negeri bisa melalui jalur hafalan Alquran. Jika memenuhi syarat dan tes, mereka yang memiliki hafalan Alquran bisa memasuki SMA negeri. Bahkan masuk universitas negeri di Sumbar pun bisa melalui jalur hafalan Alquran.

WISATA HALAL

Sejalan dengan pesatnya perkembangan pariwisata di negara-negara Islam, memunculkan potensi wisata baru, yakni halal tourism. Ini menjadi peluang yang sangat besar bagi Sumbar. Oleh karena itu konsep wisata halal tersebut sesuai dengan kultur dan filosofi masyarakat, yakni ABS-SBK.

Penyelenggaraan wisata halal tidak berarti wisata yang eksklusif yang hanya dinikmati oleh masyarakat muslim. Halal tourism merupakan penerapan bilai-nilai Islam dalam penyelenggaraan wisata, baik terhadap makanan, ketersediaan tempat ibadah, kebersihan dan penyelenggaraan traveller dengan tetap memperhatikan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, wisata halal juga bisa nikmati oleh wisatawan non-muslim.

Sebagai regulasi atas pelaksanaan wisata halal tersebut, Pemprov bersama DPRD Sumbar telah resmi mengesahkan Perda tentang Pariwisata Halal pada 9 Juni 2020. Dalam pengesahan itu, hadir Gubernur Irwan Prayitnoo, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, pimpinan DPRD Sumbar, Sekda Alwis, ketua fraksi, dan anggota dewan menyaksikan melalui Zoom.

Sebelumnya, Sumbar berhasil memenangkan sejumlah penghargaan halal terbaik dunia saat mewakili Indonesia, di antaranya World’s Best Halal Destination dan World’s Best Halal Culinary Destination pada kompetisi halal tingkat dunia ‘The World Halal Tourism Award 2016’. Gubernur Irwan Prayitno menegaskan bahwa Sumbar komitmen membangun pariwisata halal dengan tetap menjaga budaya luhur Minangkabau, yaitu Adata Basandi Syara’, Syara’ bsandi Kitabullah.

Atas upayanya tersebut, Gubernur Irwan Prayitno meraih penghargaan sebagai Kepala Daerah Terinovatif dalam Pengembangan Wisata Halal yang diadakan Republika Group. Terpilihnya Irwan Prayitno karena kebijakannya yang memberikan dampak besar pada pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui wisata halal.

“Wisata halal merupakan sebuah keuntungan bagi Sumatera Barat karena punya target pasar yang jelas dengan potensi mencapai 30 juta orang setahun. Intinya, kita berikan yang terbaik bagi wasatawan dalam konsep wisata halal. Ini kan sangat menguntungkan wisatawan. Wisata halal suatu kemajuan syariah Islam bukan suatu kemunduran bagi Sumbar,” ungkap Gubernur Irwan Prayitno.

MENJADIKAN ABS-SBK SEBAGAI PEDOMAN KEHIDUPAN DI MASYARAKAT MINANGKABAU

Harus diakui, perkembangan dan kemajuan zaman membuat pemahaman generasi muda terhadap adat istiadat kian menipis. Hal ini disebabkan pengaruh degradasi budaya di kalangan generasi muda Sumbar sebagai orang Minang. Untuk itu, Pemprov Sumbar melakukan langkah strategis agar pemahaman tersebut tak semakin tergerus.

”Ini semua disebabkan arus era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang berdampak terhadap melemahnya nilai-nilai budaya,” ujar Gubernur Irwan Prayitno.

Dia menyebutkan, pemerintah memiliki peran dan kepentingan dalam mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya dan adat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk melahirkan kepribadian yang baik sesuai karakter orang Minang berdasarkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK).

Mengantisipasi hal ini, kata gubernur, perlu adanya kesamaan langkah secara bersama-sama untuk kembali melestarikan adat budaya yang menjadi kebanggaan orang Minang melalui upaya strategis, yakni merevitalisasi nilai-nilai adat budaya, penguatan peran pemangku adat (ninik mamamak, bundo kanduang, alim ulama, cadiak pandai, generasi muda), dan penguatan fungsi kelembagaan adat budaya.

Orang nomor satu di Provinsi Sumbar itu menegaskan revitaliasi dan penguatan peran pemangku adat dan lembaga adat membuat upaya pelestarian budaya, tradisi, kesenian, serta kearifan lokal semakin terarah dan terjaga. Sebab, seiring terwujudnya penguatan kapasitas kelembagaan adat dan budaya, maka kelembagaan adat semakin memiliki kemampuan dalam melestarikan budaya, tradisi, kesenian kearifan lokal. Selain itu, juga dapat berperan aktif membantu pemerintah dalam kelancaran dan pelaksanaan pembangunan di segala bidang terutama bidang keagamaan, kebudayaan dan keterampilan.

Tak hanya itu, pada pertengahan tahun 2020 ini Pemprov Sumbar melalui Dinas Kebudayaan menerbitkan buku pedoman pengalaman Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Buku tersebut menyajikan pedoman bagaimana mengamalkan falsafah ABS-SBK dalam kehidupan sehari-hari. Terbitnya buku tersebut merupakan upaya Gubernur Irwan Prayitno dalam mewujudkan visi dan misinya yang sudah tertuang dalam Rencancana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Pemprov Sumbar 2016-2021.

Buku pedoman tersebut akan menjadi acuan dalam memberikan pemahanan ABS-SBK bagi generasi muda. Dengan itu, maka Pemprov Sumbar dapat bergerak lebih kongkrit untuk mengembangkan dan menyusun modul-modul yang lebih spesifik dan teknis. Sehingga nilai ABS-SBK itu teraktualisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Buku setebal 194 halaman tersebut sengaja dibuat dengan judul ‘Pedoman Pengamalan Adaik Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah: Syara’ Balindung Adaik Bapaneh, Syara’ Mangato Adaik Mamakai’. Hal ini bertuuan agar masyarakat dapat memahami bahwa adat dan syara’ adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, adat bagi masyarakat Minangkabau adalah pengamalan dari apa yang dikatakan oleh syara’. Dengan demikian tidak mungkin ada tatanan atau prosesi dan alek adat yang bertentangan dengan ajaran islam. Jika ada, prosesi tersebut akan ditinggalkan dan hilang dengan sendirinya.

Sebelumnya sudah banyak buku yang ditulis terkait ABS-SBK tersebut. Namun, buku pedoman ini lebih lengkap, disempurnakan, karena melibatkan orang-orang yang memiliki referensi yang lebik baik.

Gubernur Irwan Prayitno mengatakan ABS-SBK adalah falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang tak mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Falsafah ini telah mengalami proses pematangan yang sangat panjang, sampai pada titik keyakinan bahwa adat dan syara’ adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

“ABS-SBK bukan hanya sekadar misi formal yang tertuang dalam RPJMD Pemprov Sumbar. Tapi harus diujudkan secara nyata menjadi tatanan kehidupan masyarakat Sumbar sehari-hari,” katanya.

Menurutnya, kehadiran pedoman pengamalan ABS-SBK merupakan langkah strategis besar dalam upaya mencapai misi tersebut. “Harapan kita adalah bahwa pedoman ini dilanjutkan dengan petunjuk teknis yang bersifat khusus,”ujarnya.

Buku tersebut merupakan pedoman umum dan didistribusikan pada tokoh-tokoh agama, kepala daerah, Bundo Kandung, lembaga pendidikan dan penceramah. Buku tersebut baru sebuah pedoman, sehingga agar cepat dipahami, perlu dibuatkan modul pembelajaran yang dengan sesuai kelompok umur dan kelompok preofesi.

Secara umum, buku itu berisikan empat fase perkembangan adat Minangkabau. Yakni, fase adaik jo syara’ sanda manyanda kaduonyo, fase adaik basandi syara’-syara’ basandi kitabullah, fase adaik bapaneh, syara’ balinduang, dan fase syara’ mangato, adaik mamakai.

Buku ini memuat 7 aspek kehiduan masyarakat Minangkabau yang masing-masingnya berisikan butir-butir pengamalan, yang secara keseluruhan mencapai 99 butir pengamalan. Setiap butir pengalaman dilengkapi dengan rujukan naqli (yang bersumber dari al-Qurán dan hadist) sebagai syara’ mangato dan mamang, petatah-petitih serta pantun adat, sebagai adaik mamakai.

Buku itu dirumuskan oleh tim penyusun yang terdiri dari Buya Mas’oed Abidin, Puti Reno Raudha Thaib, Reflidon Dt Kayo dan Dahrizal Malin Putiah. Kemudian difinalisasi oleh Buya H. Gusrizal Gazahar, Puti Reno Raudha Thaib, Dr. Hasanuddin Dt Tan Putiah, Dr. Yasrul Huda, MA dan Dr. Firdaus Dt Sutan Mamad.

Kedepan, buku itu diharapkan menjadi rujukan mata pelajaran muatan lokal di sekolah. Sehingga aktualitasi ABS-SBK tidak hanya menjadi wacana, namun teraplikasikan dengan baik.

SUMBAR TUAN RUMAH MTQ NASIONAL KE-28

Sumbar terakhir kali menjadi tuan rumah MTQ nasional adalah tahun 1983 di masa Gubernur Azwar Anas. Setelah tiga dekade lebih, Sumbar akhirnya bisa kembali menjadi tuan rumah MTQ Nasional di masa kepemimpinan Gubernur Irwan Prayitno.

Rencananya pembukaan MTQ Nasional ke-28 akan dilakukan di Stadion Utama (Main Stadium) Sumbar di Sikabu Kabupaten Padangpariaman dan penutupan dilakukan di Masjid Raya Sumbar.

Yang tidak bisa dihindari adalah pelaksanaan MTQ Nasional ke-13 tahun 1983 berbeda dengan MTQ Nasional ke-28 2020. Sebab, MTQ nasional tahun ini dilaksanakan pad masa pandemi yang mengharuskan penerapan protokol kesehatan pada semua kegiatan dan rangkaian acara.

Terlepas dari hal itu, sebagai daerah yang masyarakatnya memiliki falsafah hidup Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, pelaksanaan MTQ Nasional di Sumbar merupakan sebuah kebanggaan karena juga turut serta dalam syiar Islam di pentas nasional.

Sebagai tuan rumah MTQ, Gubernur Irwan Prayitno mengharapkan peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk menerima kedatangan para peserta dan rombongan karena tidak semua peserta yang menginap di hotel. Sebagian mereka nanti juga akan menginap di rumah-rumah penduduk sehingga turut menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun tentu tetap memperhatikan protokol kesehatan agar tidak terjadi penyebaran covid-19.

“Harapan kami, seluruh masyarakat Sumbar mendukung acara ini sehingga bisa sukses terlaksana dan Sumbar bisa meraih lima besar di MTQ Nasional ke-28. Untuk itu kami meminta para qari dan qariah serta seluruh tim Sumbar untuk menyiapkan penampilan terbaiknya dengan berlatih sungguh-sungguh. Mari kita buktikan, bahwa pandemi covid-19 tidak menyurutkan semangat masyarakat Sumbar untuk ikut mendukung suksesnya pelaksanaan MTQ Nasional ke-28,” pungkas Irwan Prayitno. (adv)

Next Post

Pengangguran Meningkat

Sel Nov 10 , 2020
SEMAKIN banyak saja problema negeri ini. Diantaranya jumlah pengangguran yang terus meningkat. Sekarang saja jumlahnya mendekati 10 juta. Persisnya tercatat 9, 77 juta seperti diberitakan KORAN PADANG terbitan Selasa (10/10) pada halaman 14. Menganggur jelas tak enak. Terutama karena tidak ada penghasilan. Apalagi bagi mereka yang sudahberkeluarga, punya anak dan […]