SEORANG PRIA ‘DISANDERA’ DEBT COLLECTOR SELAMA DUA JAM, Korban merupakan Wartawan yang bertugas di Sumsel

PADANG, KP – Gerombolan orang tidak dikenal menghadang mobil yang dikendarai seorang pria bersama istrinya di kawasan Jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang, Selasa (10/11). Pemilik mobil Daihatsu Xenia BG 1477 PU yang diketahui bernama Afdhal Azmi Jambak hampir dua jam ‘disandera’ oleh gerombolan tersebut.

Informasi yang dihimpun KORAN PADANG, awalnya mobil korban dipepet dan disuruh berhenti oleh komplotan tersebut yang mengendarai mobil Toyota AgyaBA 1126 FR.Merasa tidak kenal dan tidak ada urusan dengan orang tersebut korban yang merupakan Pemimpin Redaksi Koran Transparan Merdeka Palembang, Sumatra Selatan itu tidak mengindahkan hal tersebut.

Namun mobil Toyota Agya BA 1126 FR tersebut terus memepet dengan satu unit mobil lainnya dan berhenti di depan mobil korban. Sementara mobil lainnya berada di belakang. Sehingga, kendaraan korban tak bisa bergerak sama sekali, tepatnya di depan kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumbar.

Kawanan tersebut turun dan mendekati mobil mantan wartawan Singgalang era 1980-an tersebut. Mereka menyuruh korban turun. Tetapi Afdhal tidak mengindahkan. Kemudian, salah seorang kawanan itu mencoba mengambil paksa kunci mobil. Namun korban dengan sigap menghalangi. Akibatnya kuku jempol tangan Afdhal patah dan berdarah.

Kepada kawanan tersebut, Afdhal Azmi Jambak mengatakan bahwa ia akan ke Kantor PWI Sumbar. Akan tetapi, seseorang di antara kawanan tersebut mengajak korban untuk ke kantor polisi saja. Afdhal dengan tegas menyatakan siap ke kantor polisi. Tapi justru kawanan tersebut tidak beranjak dan mobil serta sepeda motor mereka tetap menghalangi mobilnya.

Hampir dua jamAfdhal dan keluarga tidak bisa jalan karena dihadang kawanan yang beraksi seperti premanisme itu. Ia pun menghubungi sejumlah wartawan senior di Padang, termasuk Ketua PWI Sumbar Heranof Firdaus dan juga berkoordinasi dengan Kanit Tipiter Polres SolokFredi. Kepada korban, Fredi mengingatkan Afdhal agar jangan sampai mobil dikuasai kawanan yang diduga kuat adalah debt collector tersebut.

“Lapor ke kantor polsek terdekat atau ke Polresta Padang. Tidak boleh ada penghadangan mobil oleh debt collector apalagi preman.Mobil yang menunggak bayar kredit, urusannya adalah antara kreditur dan debitur. Bila mau mengambil mobil harus ada putusan pengadilan dulu,” kata Fredi kepada Afdhal.

Sebelumnya, pada Kamis pekan lalu Heranof Firdausjuga menindak aksi premanisme yang terjadi di Solok ketika ada mobil dan sepeda motor dihadangoknum-oknum yang mengaku dari aliansi tertentu dan mengaku dari perusahaan leasing tetapi tidak menunjukkan identitas jelas. Saat itu Fredi meminta kunci mobil yang dirampas oleh oknum di Solok tersebut dan STNK mobil untuk selanjutnya menyerahkan kepada pemiliknya.

Lama tersandera, Afdhal kemudian mengajak kawanan tersebut ke kantor polisi terdekattapi mereka tetap tidak mau.Kemudian Afdhal mengajak ke kantor PWI Sumbar di Jl. Bagindo Aziz Chan.

“Kalau mau kita ketemu di Kantor PWI Sumbar saja. Saya ada urusan di sana,” kata mantan Sekretaris PWI Sumsel tersebut.

Mulanya kawanan tersebut tidak mau namun akhirnya sepakat untuk bertemu di Kantor PWI Sumbar.Afdhal dan keluarga menuju ke Kantor PWI Sumbar dan kawanan tersebut mengiringi. Tetapi tak lama kemudian gerombolan itu menghilang. Setelah cukup lama menunggu di kantor PWI Sumbar, Afdhal mendatangi Polresta Padang dan melaporkan kejadian yang dialaminya ke petugas.

Wartawan yang sejak 1984 sering ‘mangkal’ di kepolisian tersebut menyampaikan keresahannya akibat perbuatan oknum tersebut. “Saya sudah coba hubungi Kapolresta Padang tetapi tidak ada jawaban. Pesan lewat WA belum dibalas,” katanya seraya meminta aksi premanisme itu dihentikan karena sangat meresahkan.

Kepada petugas dari unit Tipiter Polresta Padang, ia memperlihatkan foto dan video beberapa orang yang menghambat kendaraannya sehingga tertahan hampir dua jam.

“Bapak sudah benar mempertahankan mobil tersebut. Jangan sampai dikuasai mereka. Kalau sudah sempat diambil mereka, repot,” kata petugas tersebut seraya menambahkan mereka biasanya mengaku dapat kuasa dari perusahaan leasing untuk menarik kendaraan yang macet bayar angsuran. Tetapi kalau sudah ada masalah biasanya pihak leasing menyatakan tidak tahu-menahu.

Mengenai mobil atau kendaraan yang dipakai komplotan itu biasanya pelatnya tidak asli atau palsu. “Kalau pakai mobil dengan pelat palsu berarti melanggar hukum dan mestinya ditindak tegas,” kata Afdhal kepada petugas dengan panggilan Miko tersebut.

Afdhal yang juga seorang pengacara itu menyatakan dia akan menggugat pihak leasing mobilnya ke pengadilan agar jangan ada lagi orang-orang yang diperlakukan semena-mena tanpa putusan pengadilan.”Sepulang dari Sumbar mengikuti beberapa acara, saya akan gugat di Palembang,”tukasnya. (eja)

Next Post

Penyelenggara Pemilu Dilarang Nongkrong di Warkop

Rab Nov 11 , 2020
JAKARTA, KP – Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilihan Umum (DKPP) melarang petugas penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu termasuk panwascam pergi ke warung kopi (warkop). Ketua DKPPMuhammad mengatakan larangan itu bukan karena pergi ke warung kopi itu salah, namunimbauan tersebut merupakan bentuk perhatian DKPP pada kepatuhan penyelenggara pemilu terhadap asas moral dan […]