TPID Tanahdatar Susun Kebijakan Pengendalian Inflasi Daerah

BATUSANGKAR, KP – Dalam rangka mendukung upaya pemerintah pusat mengendalikan tingkat inflasi. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mendapat tugas menyusun kebijakan pengendalian inflasi daerah yang tepat sesuai amanat Keputusan Presiden RI Nomor 23/2017.

Pjs Bupati Tanahdatar Erman Rahman, mengapresiasi kerja bersama dan inovasi TPID Tanahdatar dalam mengendalikan inflasi tahun 2019. Sehingga untuk pertama kalinya Tanahdatar berhasil meraih TPID Award Nominasi I kategori berprestasi wilayah Sumatra.

“Tantangan ke depan semakin berat, bagaimana bisa melahirkan kebijakan mengendalikan inflasi terutama untuk pemulihan ekonomi dampak Pandemi Covid-19. Untuk itu saya berharap masukan dan dukungan semua pihak khususnya Bank Indonesia, Perum Bulog, BPS dan tim agar bisa ditindaklanjuti perangkat daerah,” ujar Erman yang juga menjabat Kepala BPBD Sumbar itu.

Secara ringkas ulas Erman, pemerintah daerah sudah melaksanakan program unggulan yaitu Gertak Babe di Salibu (Gerakan Tanam Komoditi Bawang Merah dan Cabe serta Padi Salibu). “Program ini dilaksanakan karena inflasi sangat dipengaruhi bahan pangan strategis, di antaranya cabai merah, bawang merah dan beras. Dengan potensi lahan yang dimiliki, cuaca yang mendukung, program ini berdampak strategis dalam menjaga ketersediaan pasokan, bahkan sudah surplus sehingga bisa dikirimkan ke kabupaten/kota bahkan provinsi tetangga, ke depan agar semakin ditingkatkan,” ulasnya.

Erman juga mengatakan, pemerintah daerah juga mengalokasikan anggaran Dana Insentif Daerah tahun 2020 sebesar Rp 3,7 Miliar dan pada tahun 2021 sebesar Rp 15,7 Miliar untuk pemulihan ekonomi.

Sementara Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatra Barat, Wahyu Purnomi di kesempatan awal menyampaikan, sudah tepat Tanahdatar mengembangkan komoditi bawang merah. “Sudah tepat Tanahdatar memilih salah satu kebijakannya dalam mengendalikan inflasi dengan mengembangkan komoditi penyumbang inflasi seperti bawang merah. Apalagi Tanahdatar juga penghasil bawang merah utama di Sumbar setelah Kabupaten Solok,” sebutnya.

Untuk tingkat inflasi jelas Wahyu, kondisi Oktober 2020 untuk Sumatra Barat di angka 0,61 persen, lebih tinggi dibanding angka Sumatra 0,36 persen apalagi nasional 0,07 persen. “Angka ini masih cukup rendah, walaupun masih di bawah target. Ini didorong peningkatan harga beberapa komoditi, yakni cabai merah, cabai hijau, bawang, biaya akademi/perguruan tinggi termasuk petai,” urainya.

Lebih jauh Kepala Deputi Perwakilan BI Sumbar, Gunawan Wicaksono mengatakan, inflasi harus diantisipasi dengan menerapkan 4K Program Pengendalian Inflasi yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif. Untuk pertumbuhan ekonomi ulas Gunawan, juga terjadi perlambatan. “Pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat Triwulan II minus 4,91 persen, sementara rata-rata Sumatra minus 3,01 persen dan nasional minus 5,32 persen. Sejalan dengan penurunan permintaan akibat pandemi Covid-19. Tentu tahap berikutnya diharapkan angkanya semakin membaik,” ucapnya.

Gunawan juga menyampaikan, rekomendasi pengembangan ekonomi Sumbar di antaranya mendorong hilirisasi komoditas unggulan, mengembangkan pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Kemudian mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah serta ekonomi kreatif, mengembangkan ekonomi syariah secara berkelanjutan dan mendorong penggunaan pembayaran non tunai untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19 dan menduukung digitalisasi ekonomi.

Sedangkan Kepala Kantor Perum Bulog Wilayah Sumbar, Tommy Despalingga mengatakan, Bulog siap berkontribusi dalam pengendalian inflasi terutama komoditi beras. “Bulog punya program operasi pasar untuk mengendalikan harga komoditi pokok di pasaran, kita punya persediaan bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, terigu, daging sapi dan operasi pasar juga sudah dilakukan secara online,” paparnya.

Sementara itu Kadis Pertanian Tanahdatar, Yulfiardi menyampaikan, beberapa komoditi Tanahdatar mengalami surplus seperti beras, produksi sampai September mencapai 147.593 ton. Sementara kebutuhan 31.329 ton, cabai suplus 334 ton, telur ayam surplus 446 ton, daging sapi surplus 0,9 ton. Bawang merah dan bawang putih yang masih minus. “Bawang merah dan bawang putih menjadi peluang bagi Tanahdatar untuk dikembangkan, karena kebutuhannya cukup tinggi belum bisa terpenuhi dari produksi yang ada. Ini sudah kita lakukan dengan pengembangan varietas unggulan yang cocok untuk Tanahdatar,” tukasnya. (nas)

Next Post

Tanahdatar Miliki Wisata Geopark Danau Singkarak yang Potensial

Kam Nov 5 , 2020
BATUSANGKAR, KP – Tanahdatar memiliki objek wisata geopark Danau Singkarak […]