1 Maret 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

KEBAKARAN LAHAN DI AGAM MELUAS, Sudah 9,5 Hektare Dilahap Api

LUBUKBASUNG, KP – Kebakaran lahan gambut di Jorong Aia Maruok, Nagari Persiapan Durian Kapeh Darusalam, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam terus meluas. Hingga kemarin, sudah 9,5 hektare lahan di Jorong Aia Maruok dilahap api. Sementara, total lahan terbakar di Agam secara keseluruhan mencapai 29,5 hektare.

Kabid KL BPBD Agam, Syafrizalmengatakanlahan gambut yang ditanami kelapa sawit itu terbakar sejak 12 Februari 2021 lalu.

“Lahan yang terbakar itu milik Brigjen (Purn) TNI Dasiri Musnal seluas 5,5 hektare dan milik Jarot 4 hektare,” ujar Syafrizal, Selasa (23/2).

Ia mengatakanapi sempat berhasil dipadamkan beberapa waktu lalu tapi mengingat cuaca panas dan angin kencang, titik api kembali muncul dan membakar lahan sekitar kawasan yang terbakar sebelumnya. Tim yang terdiri dari BPBD, Satpol PP-Damkar, Polsek, KPHL Agam Raya, PMI, dan pemilik lahan masih berjibaku melakukan pemadaman api yang begitu sulit dikendalikan.

“Selain akses ke lokasi yang sulit, sumber air juga minim dan cuaca panas disertai angin kencang. Sehingga pemadaman jadi kurang efektif,” kata Syafrizal.

Dengan berbagai kendala tersebut, ia memperkirakan upaya pemadaman api setidaknya berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

Sebelumnya, berjarak sekitar 2 kilometer dari lahan yang terbakar saat ini juga terjadi kebakaran lahan seluas 15 hektare dan sudah berhasil ditangani.

Sementara, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Agam, M Luthfi AR mengatakan total sejak 13 hari terakhir terdata seluas 29,5 hektare lahan perkebunan sawit yang terbakar. Semua lahan itudipastikan milik masyarakat, bukan yang dikelola oleh perusahaan. Titik api pertama disebabkan adanya aktivitas pembakaran sisa-sisa perambahan lahan.

“Total sudah 29,5 hektare yang terbakar di Agam. Titiknya berbeda-beda,”ujarnya.

Terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Unit Observasi Global Atmosopheric Watch (GAW) Stasiun Pemantau Atmosfir Global Kototabang Wan Dayantolis menyebutkan, berdasarkan rilis yang dikeluarkan pada 18 Februari 2021, pola angin di atas Sumatera pada Februari umumnya berembus pada komponen barat laut hingga timur laut dari arah wilayah Sumatera Utara dan Riau melewati wilayah Sumatera Barat.

Karena itu, kemunculan hotspot atau titik api pada wilayah tersebut berpotensi memberikan berpengaruh pada kualitas udara di Sumatera Barat.

“Berdasarkan data PM10 pada GAW Kototabang, rerata 24 jam berkisar di bawah 50 ?g/m3 yang berarti masih dalam kategori kualitas udara baik. Namun dari segi tren, terjadi peningkatan dari rata lebih dari 20 ?g/m3 menjadi 20-30 ?g/m3 dalam sepekan terakhir. Kondisi ini secara visual menghasilkan kondisi udara ‘haze’ atau kabur namun belum menurunkan jarak pandang,”ujar Wan Dayantolis.

Berdasarkan hasil simulasi model CAMS ECMWF pada 18 hingga 20 Februari 2021, menunjukkan potensi penyebaran polutan udara berupa PM2.5 dari arah utara timur laut mendekati wilayah Sumatera Barat. Kabupaten dan Kota yang berpotensi mengalami kenaikan konsentrasi PM2.5 antara lain Pasaman, Pasaman Barat, Lima Puluh Kota, Agam, dan Payakumbuh.

Kemudian, Sijunjung, Sawahlunto, Solok Selatan dan Dharmasraya. Besaran konsentrasi PM2.5 masih berada di kisaran 5-12 ?g/m3, sehingga masih berada pada kondisi kualitas udara baik.

“Kami imbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan kejadian karhutla, dan memperhatikan informasi mengenai kondisi kualitas udara dari Dinas LHK Provinsi atau Kabupaten dan Kota Sumatera Barat serta BMKG,” tutup Wan Dayantolis. (rzk)