1 Maret 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Ketokohan DR. AbdullahAhmad, Bukan Sekadar Nostalgia

Doktor H. Abdullah Ahmad adalah salah seorang reformis Islam yang berhasil mengembangkan pemikiran untuk Indonesia berkemajuan. Lembaga pendidikan yang dibinanya berawal di Padangpanjang dan terus berkembang ke Padang.

Di Padang, beliau semakin gesit berjibaku mengumandangkan kemerdekaan pendidikan melalui lembaga yang dimotorinya, Adabiah yang berpusat di Jalan Pasar Baru, Padang. Berlanjut dengan lembaga pendidikan Islam Normal Schooldi komplek PGAI Sumbar di belakang kantor Bank Indonesia Padang. Belakangan, kawasan komplek PGAI itu diabadikan dengan namanya, Jalan DR. H. Abdullah Ahmad.

Begitu besar jasanya pada bangsa inimelalui lembaga pendidikannya, Adabiah-Normal Islam-PGAI Sumbar yang sudah banyak menghasilkan intelektual terkemuka di negeri yang kita cintai ini. Bahkan, ketika Normal Islam jaya-jayanya, santrinya berdatangan dari berbagai daerah Jawa, Sumatra, dan konon ada dari Semenanjung Tanah Melayu.

Sumbar berkemajuan dalam bidang pendidikan Islam di era sebelum Indonesia merdeka sampai sekarang sudah dibuktikan oleh tokoh reformis Islam dulunya. Selain Normal Islam di Padang, ada juga Thawalib di Padangpanjang, Parabek, Tarbiyah di Candung dan Jao, hingga Darul Funun di Padangjapang. Semuanya dipimpin cendekiawan Islam terkemukasekaliber DR. H. Abdullah Ahmadyang rata-rata beliau itu tamatan kampus terkemuka di Timur Tengah.

Kita sebenarnya bukan bernostalgia, mengenang kembali kehebatan ulama pejuang yang semuanya sudah meninggal dunia. Lebih dari itu, apakah kita memang benar pelanjut kehebatan ‘pembelah ruyung’ tokoh terkemuka negeri ini?

Sekelumit, kita bangga dengan berkembangnya terus Diniyah Putri, Thawalib, Tarbiyah, Darul Funun, yang semuanya dimotori pejuang sabilillah di era penjajahan dengan tokoh ternama yang kepemimpinannya berlanjut terus digerakkan generasi moderen era merdeka.

Khusus keberlanjutan kepemimpinan hebat yang diwariskan DR. H. Abdullah Ahmad saat ini sedang menghadapi ujian interenberkaitan dengan lembaga PGAI. Sementara, Adabiah tetap berjalan melegakan dan membanggakan.

Lembaga pendidikan PGAIdengan sekolah dan madrasah yang diasuhnya mulai dari TK, SD, SMP, Tsanawiyah, SMA, dan Aliyah serta panti asuhanmasih saja berkutat dengan peralihan kepemimpinan Yayasan DR. H. Abdullah Ahmad. Sudah mendekati setahun, pengurus barubelum juga ditetapkan dewan pembina. Ketua dewan pembina yayasan, DR. H. Alidinar Nurdin juga sudah meninggal dunia. Tinggal lagi empat tokoh dewan pembina, yaitu DR. Buchari, DR. Amirsyah, Mayjen TNI (Purn) Samsu Djalal,dan Yunarlis, M. Pd.

Pengurus yayasan yang habis priodenya hingga kini belum juga disusun oleh pembinadengan alasan ketua pembina meninggal dunia. Penggantinya belum kunjung disepakati. Sehingga, pelanjut kepengurusan yayasan yang sudah habis periodenya terkatung-katung. Situasi ini jelas problema yang memprihatinkan. Padahal,pembina yang empat orang semestinya berinisiatif melahirkan pengurus yayasan priode berikutnya. Apakah tak ‘mempan’ pengurus(pembina) berkewajiban menyusun pengurus yayasan yang baru? Yang sebenarnya adalah perlunya ‘keikhlasan’ bersama.

Mungkin suatu keanehan, yayasan yang menaungi lembaga pendidikan DR. H. Abdullah Ahmad yang sudah habis priodenya sejak setahun laludan diambilalih pembina, ternyata baru pada Rabu hari ini (24/2) rencananya menyampaikan laporan kegiatan pengurus dan pengawas priode 2014-2019.

Bagaimanapun juga lembaga yang dimotori berdirinya oleh cendekiawan Islam terkemuka DR. H. Abdullah Ahmad yang punya asset sangat berharga ini janganlah sampai terabaikan mengurusnya. Tanah sekitar empat hektare. Diatasnya berdiri gedung pendidikan, perumahan, pertokoan, wisma syariah, masjid, panti asuhan,dan bangunan lainnya.

Semoga, keterlambatan membentuk pengurus yayasan yang barujanganmembawa efek kurang menguntungkan bagi kelembagaan yang dilahirkan reformis cendekiawan Islam Indonesia, DR. H. Abdullah Ahmad. Bersama kita bisa. Insya Allah. *