Edukasi dan Pelayanan Farmasi Terkait Penggunaan Obat Psikotropika Pada Remaja

PENDAHULUAN
PERMASALAHAN penggunaan obat di Indonesia masih merupakan sesuatu yang bersifat urgent dan kompleks. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir permasalahan ini menjadi sangat marak. Terbukti dengan bertambahnya jumlah penyalahgunaan obat atau kecanduan obat secara signifikan, seiring meningkatnya pengungkapan kasus tindak kejahatan penyalahgunaan obat yang semakin beragam polanya dan semakin masif pula jaringan sindikatnya. Dampak dari penyalahgunaan ini tidak hanya mengancam kelangsungan hidup dan masa depan penyalahgunanya saja, namun juga masa depan bangsa dan negara, tanpa membedakan strata sosial, ekonomi, usia maupun tingkat pendidikan. Sampai saat ini tingkat peredaran obat-obatan khususnya golongan NAPZA sudah merambah pada berbagai level, tidak hanya pada daerah perkotaan saja melainkan sudah menyentuh komunitas pedesaan. Sebenarnya NAPZA adalah obat kedokteran yang diperlukan untuk pengobatan. Berbeda dengan obat jenis lainnya, penggunaan NAPZA harus dilakukan dengan hati-hati dan harus di bawah pengawasan dokter.
Obat yang termasuk pada golongan NAPZA salah satunya adalah psikotropika. Menurut UU No.5 tahun 1997, psikotropika merupakan zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik bukan narkotika yang berkhasiat, psikoaktif melalui pengaruh selektif menurut susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku remaja.
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa puber. Pada masa inilah umumnya dikenal sebagai masa “pancaroba” dimana keadaan remaja penuh energi, serba ingin tahu, belum sepenuhnya memiliki per-timbangan yang matang, mudah terombang-ambing, mudah terpengaruh, nekat dan berani, emosi tinggi, selalu ingin coba dan tidak mau ketinggalan (Ariwibowo, 2011). Pada masa-masa inilah mereka merupakan kelompok yang paling rawan berkaitan dengan penyalahgunaan obat seperti psikotropika.
Pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif pada usia remaja 12-21 tahun ditaksir sekitar 14.000 orang dari jumlah remaja di Indonesia sekitar 70 juta orang (Kompas.com, 2013). Dari survey tersebut maka bahaya kehilangan generasi produktif terbayang di depan mata. Hal ini menunjukkan betapa rentannya usia remaja terhadap godaan dan bujukan untuk mencoba-coba memakai narkoba. Sangat menyedihkan karena di Indonesia kasus remaja sebagai pemakai narkoba semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah atau buatan bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh elektif pada susunan saraf pusat dan menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.Penggolongan psikotropika menurut undang-undang no 5 tahun 1997 adalah :
1) Golongan I. Hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak dapat digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. Contoh : MDMA (ekstasi), LSD, STP.
2) Golongan II. Berkhasiat untuk pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi/ pengembangan ilmu pengetahuan. Mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. Contoh : amfetamine, metamfetamin (sabu), fensiklidin, dan ritalin.
3) Golongan III. Berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi / pengembangan ilmu pengetahuan. Mempunyai potensiketergantungan sedang. Contoh : pentobarbital, flunitrazepam.
4) Golongan IV. Berkhasiat untuk pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi/pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : diazepam, klobazam, fenobarbital.

  1. Dampak penyalah gunaan narkoba terhadap fisika.
    • Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
    • Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darahc.Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan(abses), alergi, eksim
    • Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-parue.Sering sakit kepala, mual-mual danmuntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur.
    • Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan pada endokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
    • Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
    • Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya.
    • Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi overdosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Overdosis bisa menyebabkan kematian
  2. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap psikis.
    • Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah.
    • Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga.
    • Menjadi ganas dan tingkah laku yang brutald.Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan.
    • Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
  3. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap lingkungan sosiala.
    • Gangguan mental, anti-sosial,dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan.
    • Merepotkan dan menjadi beban keluarga.
    • Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram
    Penyalahgunaan Psikotropika di kalangan remaja merupakan masalah yang kompleks, karena tidak saja menyangkut pada remaja itu sendiri, tetapi juga melibatkan banyak pihak baik keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah, teman sebaya, tenaga kesehatan, serta aparat hukum, baik sebagai faktor penyebab, pencetus ataupun yang menanggulangi. Remaja yang merupakan “a generation who will one day become our national leader” perlu mendapat pengawasan dan bimbingan kita semua, agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan obat psikotropika.
    Hal ini tidak bisa lepas dari peran Apoteker sebagai tenaga kesehatan. Apoteker, sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Apoteker Profesional adalah Apoteker yang dalam melakukan pengabdiannya selalu mengamalkan Sumpah Apoteker, serta berlandaskan pada standar prosedur operasional dan Kode Etik Apoteker Indonesia, sehingga secara pribadi dapat menentukan sikap, keputusan dan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan. Salah satu Pekerjaan Kefarmasian adalah melakukan pelayanan informasi obat, berupa pemberian KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) kepada masyarakat tentang obat dan Sediaan Farmasi. KIE termasuk penyuluhan antara lain dilakukan agar tidak terjadi kesalah penggunaan obat dan penyalahgunaan obat.
    Sebagai apoteker kita dapat melakukan intervensi untuk menanggulangi masalah penyalahgunaan obat psikotropika yaitu dengan mengontrol penggunaan obat psikotropika terutama pada kalangan remaja. Kontribusi ini dapat diterapkan dengan memberikan edukasi kepada remaja bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan psikotropika. Dampak penyalahgunaan psikotropika bila digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Dampak penyalahgunaan Psikotropika pada seseorang sangat tergantung pada jenis Psikotropika yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai.

Kesimpulan

Masyarakat perlu mendorong peningkatan pengetahuan setiap anggota masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan obat-obat terlarang. Serta perlu memberi informasi kepada pihak yang berwajib jika ada pemakai dan pengedar narkoba di lingkungan tempat tinggal.
Selain narkotika para remaja juga banyak yang melakukan penyalahgunaan obat, terutama psikotropika. Adanya orang-orang yang mencari keuntungan tanpa memperhatikan dampak yang diakibatkan, telah berupaya dengan mengedarkan obat psikotropika dan narkotika secara luas. Hal tersebut mengakibatkan dengan mudahnya para remaja mendapatkan obat psikotropika dan narkotika. Apalagi para remaja yang belum stabil, sehingga ingin mencoba-coba.

DAFTAR PUSTAKA
Ariwibowo, A. 2011. Tinjauan kriminologis terhadap penyalahgunaan psikotropika dan penanggulangannnya di kalangan remaja di Jambi. Jurnal Law reform. 6(2) : 41-54.
Kemenkumham. Undang-Undang Repupbik Indonesia No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Diakses 05 April 2021 dari http://www.kemenkumham. go.id/attachments/article/169/uu5_1997.pdf
Kompas.com. (2013). Pengguna Narkoba di Kalangan Remaja Meningkat. Diakses 05April 2021 dari http://regional.kompas.com/read/2013/03/07/03184385/ Pengguna . Narkoba . di . Kalangan . Remaja . Meningkat

Next Post

Masyarakat Simamonen Belum Merasakan Pembangunan Adil dan Merata

Rab Apr 14 , 2021
PADANG,KP- Anggota Komisi IV DPRD Sumbar, Suharjonomeminta pemerintah pusat, provinsi […]