MEWASPADAI BAHAN TAMBAHAN PADA MAKANAN

Oleh : Ir.M.H.KASYFI

PMHP Madya pada Dinas Pangan

Provinsi Sumatera Barat

            Bahan tambahan makanan (BTM)  adalah bahan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah kecil dengan tujuan untuk memperbaiki penampakan, cita rasatekstur dan memperpanjang daya simpan serta dapat meningkatkan nilai gizi seperti proteinmineral dan vitamin. Meski memiliki manfaat yang besar, namun penggunaannya perlu diwaspadai  baik oleh produsen maupun konsumen karena dapat membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari BTM sudah digunakan secara umum oleh masyarakat, tetapi kenyataannya masih banyak produsen makanan yang menggunakan bahan tambahan makanan yang berbahaya bagi kesehatan. Penyimpangan atau pelanggaran mengenai penggunaan BTM yang sering dilakukan produsen yaitu menggunakan bahan tambahan yang dilarang penggunaannya untuk makanan, BTM melebihi dosis yang diizinkan yang dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu produsen pangan perlu mengetahui peraturan-peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah mengenai penggunaan BTM.

      Dalam proses kerjanya bahan tambahan pangan dapat mempengaruhi sifat atau bentuk pangan, namun terkadang para pelaku usaha menggunakan beberapa bahan yang tidak diperuntukkan untuk pangan dipakai dalam pangan, misalnya pewarna tekstil dan formalin. Bahan tambahan tersebut bukanlah bahan tambahan pangan, tetapi merupakan bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan. Penambahan bahan tambahan yang dilarang dilakukan karena sengaja dengan alasan ekonomis dan praktis. Memang bahaya terhadap kesehatan yang ditimbulkan tidak segera terlihat sebagaimana bahaya akibat bakteri, namun dalam jangka panjang dapat berakibat fatal.

      Untuk menghindari penggunaan bahan-bahan yang dilarang tersebut serta untuk memastikan penggunaan bahan tambahan pangan secara benar, maka pemerintah dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan menetapkan bahan apa saja yang dilarang atau dapat digunakan sebagai bahan tambahan pangan, batas maksimum penggunaan serta jenis pangan yang dapat menggunakan bahan tersebut.

      Menurut Undang-Undang RI No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pada Bab II mengenai Keamanan Pangan, pasal 10 tentang Bahan Tambahan Pangan dicantumkan bahwa setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan bahan apapun sebagai bahan tambahan pangan yang dinyatakan terlarang atau melampaui ambang batas maksimal yang telah ditetapkan.

      Bahan Tambahan Makanan  yang sering digunakan adalah pewarna, pemanis, pengawet, penguat rasa, antioksidan, pengembang, dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa bahan berbahaya pada makanan yang sering digunakan oleh para pedagang yang patut kita ketahui ciri-cirinya.

  1. Asam borat ( boraks)  

        Boraks adalah bahan kimia berbentuk kristal putih, tidak berbau dan stabil pada suhu kamar. Boraks sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit dan mata, serta tertelan. Akibat yang ditimbulkan dari boraks dapat berupa iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit dan mata, mual, sakit kepala, nyeri perut, kerusakan ginjal, kegagalan sistem sirkulasi akut, bahkan kematian. Boraks seringkali disalahgunakan untuk BTM seperti bakso, cilok, lontong, dan krupuk gendar.

Ciri-ciri utama makanan yang mengandung boraks adalah tekstur makan sangat kenyal, tidak lengket, dan tidak mudah putus. Bakso yang mengandung boraks ciri-cirinya kenyal dan berwarna cenderung keputihan. Mie basah yang mengandung boraks ciri-cirinya kenyal, berkilap, tidak lengket, dan tidak cepat putus, sedangkan pada lontong ciri-cirinya kenyal, awalnya gurih, selanjutnya getir. Bila boraks ditambahkan ke kerupuk, menjadi sangat renyah namun terasa getir. Pemakaian boraks dalam jangka panjang akan menyebabkan kulit kering, bercak-bercak merah pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Boraks juga bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker), dapat mengganggu sistem reproduksi, menyebabkan gangguan hormonal dan bila terakumulasi dapat menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh.

  • Formalin 

Formalin merupakan adalah cairan tidak berwarna dan berbau sangat menusuk yang dibiasa digunakan untuk bahan perekat, desinfektan dan pengawet mayat. Pedagang nakal sering memasukkan formalin untuk mengawetkan makanan seperti pada mie basah, ikan segar, bakso, ayam, tahu dan lainnya. Padahal bila masuk ke dalam tubuh, formalin dapat merusak hati, jantung, otak, ginjal, syaraf, dan menimbulkan kanker.

Mie basah yang menggunakan formalin memiliki ciri-ciri tidak lengket, lebih mengkilat, bau menyengat khas formalin, tahan lebih dari satu hari pada suhu kamar. Formalin pada tahu ciri-cirinya adalah bau menyengat khas formalin, tidak mudah hancur, tahan lebih dari satu hari pada suhu kamar.  Ciri –ciri ikan yang mengandung formalin adalah tidak dihinggapi lalat dan bau menyengat khas formalin. Pada bakso dan ayam ciri-cirinya kenyal, berbau obat dan tahan lama di suhu ruang.  Kulit ayam berwarna lebih pucat dibanding ayam segar dan tidak dikerumuni lalat.

  • Metanil Yellow 

Metanil Yellow adalah  zat warna sintetis berwarna kuning kecokelatan dan berbentuk padat atau serbuk. Zat ini sering digunakan untuk mewarnai tekstil atau cat. Bila zat ini masuk ke dalam tubuh, dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, gangguan pada mata, kanker saluran kemih, mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak, dan tekanan darah rendah. Pengusaha nakal sering menggunakan zat ini pada olahan makanan seperti mie, kerupuk, gorengan, serta makanan yang mempunyai warna kuning mencolok. Makanan yang di dalamnya mengandung zat ini memiliki ciri-ciri utama berwarna kuning mencolok, cenderung berpendar, banyak memberikan titik warna, seperti yang biasa terdapat pada kerupuk.

  • Rhodamin B  

Rhodamian B adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan kertas. Bentuknya serbuk kristal merah keunguan yang bila dicampur dalam larutan, akan berwarna merah terang berpendar. Bila zat ini masuk ke dalam tubuh, maka dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan, serta kanker hati. Rodhamin B ini banyak ditemukan dalam makanan seperti kue yang berwarna merah, kerupuk berwarna merah, dan terasi. Ciri-ciri makanan yang mengandung zat ini adalah berwarna merah mencolok dan cenderung berpendar. Selain itu, banyak memberikan titik warna karena tidak menyatu.

Meskipun bahan–bahan tersebut telah dilarang penggunaannya untuk pangan, namun potensi penggunaan yang salah bukan tidak mungkin terjadi. Terdapat berbagai faktor yang mendorong banyak pihak untuk melakukan praktek penggunaan yang salah dari bahan kimia terlarang ini disebabkan karena bahan kimia tersebut mudah diperoleh di pasaran, harganya relatif murah, tampilan fisik yang memikat, tidak menimbulkan efek negatif seketika dan penggunaannya telah dipraktekkan secara turun-temurun.

Merupakan hak konsumen untuk mendapatkan keamanan dari makanan dan minuman yang dimakan. Namun dengan adanya informasi dan pengetahuan tentang bahan tambahan makanan akan membantu kita dalam mengkonsumsi bahan makanan atau minuman yang aman untuk dikonsumsi.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih aneka olahan produk makanan yang ada di pasaran. Sebab bila bahan tambahan makanan yang berbahaya itu masuk ke dalam tubuh kita, maka secara perlahan akan mengendap menjadi penyakit yang pada akhirnya mengganggu kesehatan tubuh kita.

Next Post

Stunting di Limapuluh Kota Jadi Permasalahan yang Harus Diselesaikan

Sel Apr 13 , 2021
LIMAPULUH KOTA, KP – Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota lakukan rembuk stunting […]