21 Juni 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

ALYA LAWINDO, Gadis Minang yang Jadi Guru Ngaji di Amerika

VIRGINIA, KP – Lahir dan besar di Amerika Serikat (AS) tidak membuat sebagian diaspora Indonesia generasi kedua terlepas dari nilai-nilai Indonesia. Seorang remaja muslimah di negara bagian Virginia menunjukkan kepeduliannya dengan menjadi relawan madrasah dalam komunitas Indonesia.

Alya Sarah Lawindo (19 tahun) tak seperti kebanyakan remaja di Amerika. Setiap akhir pekan, Alya mengajari anak-anak belajar mengaji secara virtualdari rumahnya di kawasan Arlington, negara bagian Virginia.

“Bunda dulu pernah jadi guru ngaji di madrasah sudah bertahun-tahun. Dan pas Alya sudah remaja, Alya mikir udah waktunya buat ngajarin anak, apalagi di komunitas Muslim Indonesia di Amerika sini,” ujar Alya seperti dikutip KORAN PADANG dari VOA, Jumat (7/5).

Murid-murid yang diajarinya berusia lima hingga 12 tahun, seperti Souma.“Dia (Alya – red) baik… sabar… dan cantik,” kata bocah berusia lima tahun itu.

Menjadi relawan madrasah telah dijalani Alya sejak lima tahun lalu. Menurutnya, kebahagaiaan terbesar yang dirasakannya jadi guru ngaji adalah melihat perkembangan anak-anak dalam membaca Alquran.

“Bulan pertama ngaji masih agak kaku, atau masih belajar tadjwid-nya. Pas sudah selesai, bisa keluar, bisa move on ke kelas yang berikutnya, di saat itu Alya merasa bahagia banget,” tuturnya.

Ketekunan Alya dalam menjadi relawandiakui oleh IMAAM, organisasi yang mengelola madrasahdengan memberinya Penghargaan Relawan Muda pada tahun 2019 silam.

LESTARIKAN BUDAYA MINANG

Selain mengajar sukarela, mahasiswi S1 Hubungan Internasional di American University ini juga aktif melestarikan seni budaya Minang bersama Sanggar Rumah Gadang USA. Sanggar itu didirikan pada tahun 2007 oleh kedua orangtuanyayang berasal dari Sumbar.

Sang ayah, Muhammad Afdalmengatakanwaktu sanggar itu kita pertama kali didirikan, Alya sangat antusias sekali. Sebab, sejak dulu mereka kalau ke mana-mana selalu putar lagu Minang di mobil. Bahkan di rumah pun sering memutar videoMinang.Menurutnya penting untuk meneruskan budaya agar tidak luntur.

“Saya melihat ini kalau kita tidak kenalkan, kita akan kehilangan generasi, mereka akan hanya kenal budaya Amerika saja,” tambah pria yang berasal dari Kabupaten Agam itu.

Sejak usia enam tahun, Alya mulai belajar tarian dan nyanyian Minang. Keterampilannya terus diasah. Kini dia fasih berbahasa Minang, pandai bermain biola, bermain randai, hingga berpantun.

“Tigo balai barumah gadang, adonyo di pakan sinayan. Ambo ketek jolong ka gadang, kok salah tolong ingekan,” kata Alya pada pembukaan salah satu video yang diunggahnya di Youtube.

Bersama Rumah Gadang USA, dia telah tampil dalam berbagai pertunjukkan dan festival di seluruh AS, seperti Richmond Folklife Festival, Smithsonian Folklife Festival, hingga tampil di The Kennedy Center. Di samping itu, ia juga sering mengisi acara budaya di KBRI Washington DC.

Dan saat pandemi ini, Alya diundang mengisi seminar virtual sebagai ‘padusi milenial’ oleh Minang Diaspora Network baru-baru ini.

Afdal mengaku bangga dengan putrinya yang tetap memegang teguh adat budayameski hidup dan tinggal jauh di AS, seperti pepatah Minang, “setinggi-tingginya bangau terbang, namun pulangnya ke kubangan jua. Sejauh-jauhnya pergi merantau, kampung halaman terbayang jua,” kata Afdal. (voa)