BKSDA Sumbar Lepasliarkan Kucing Kuwuk di Cagar Alam Rimbo Panti Pasaman

LUBUKSIKAPING, KP – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) melepasliarkan seekor Kucing Kuwuk (hutan) dengan nama ilmiah Prionailurus Bengalensis ke Cagar Alam Rimbo Panti, Kabupaten Pasaman.

“Sudah kami lepasliarkan ke Cagar Alam Rimbo Panti, Sabtu (22/5). Karena jenis kucing ini dilindungi berdasarkan Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang KSDAHE dan peraturan Menteri LHK nomor P.106 tahun 2018,” terang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Sumbar Ade Putra, Minggu (23/5).

Ade Putra mengatakan, kucing kuwuk/kucing hutan (Prionailurus bengalensis) itu sebelumnya ditemukan Nurrafi Waitul Rakhman (@nurrafi.w.rahman) warga Nagari Pauh, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman. “Satwa langka dan dilindungi itu ditemukan tidak jauh dari rumahnya dan selanjutnya dirawat Nurafi. Mengingat satwa termasuk dalam jenis dilindungi, maka temuan satwa dilaporkan kepada petugas BKSDA,” tambah Ade.

Petugas kata dia, selanjutnya mengevakuasi satwa dan diobservasi. “Kondisi satwa dalam keadaan sehat, tidak terdapat luka atau cacat dan masih bersifat liar serta berusia dewasa. Untuk itu satwa selanjutnya dibawa ke cagar Alam Rimbo Panti untuk dilepasliarkan kembali,” katanya.

Dijelaskannya, Kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) adalah kucing liar kecil Asia Selatan dan Timur. Sejak tahun 2002, ia terdaftar dalam spesies risiko rendah oleh IUCN, sebab ia terdistribusi secara luas. “Tetapi terancam oleh hilangnya habitat dan perburuan di beberapa bagian persebaran. Subspesies kucing kuwuk ada 12, yang berbeda secara luas dalam penampilan,” katanya.

Kucing kuwuk berukuran seperti kucing domestik, tetapi ia lebih ramping dengan kaki panjang dan selaput yang jelas antara jari kaki. “Kepala kecil mereka ditandai dengan dua garis-garis gelap menonjol, dan moncong putih yang pendek dan sempit mereka. Di Indonesia, jenis kucing ini dilindungi berdasarkan Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang KSDAHE dan peraturan Menteri LHK nomor P.106 tahun 2018,” paparnya.

Kemudian pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat jika menemukan (memiliki) satwa yang dilindungi Undang-undang untuk dilaporkan kepada BKSDA. Agar keberadaannya tetap dirawat dan tidak punah. (nst)

Next Post

Bupati Hamsuardi Kunjungi Korban Kecelakaan Bus Pastra di RSUD Lubuksikaping

Ming Mei 23 , 2021
LUBUKSIKAPING, KP – Bupati Pasaman Barat (Pasbar), Hamsuardi didampingi Komandan […]