Masyarakat Garabak Data Butuh Bukti dari Kepala Daerah Baru

Oleh: Wandy

Pemerintah Daerah Kabupaten Solok sudah sering berkomitmen akan membangun Kecamatan Tigo Lurah, namun tidak akan ada jaminan dalam waktu lima hingga 10 tahun ke depan, warga yang tinggal di Nagari Garabak Data akan bisa menikmati jalan mulus, listrik atau berkomunikasi dengan HP. Pasalnya, selain jarak yang jauh, sangat dibutuhkan dana besar untuk membangun Garabak Data. Tanpa ada bantuan APBN, penulis pesimis Garabak Data tidak akan bisa keluar dari ketertinggalan. 

Sebagaimana diketahui, APBD kabupaten Solok satu tahunnya berkisar hanya sekitar Rp 1 Triliun lebih. Sementara untuk belanja rutin dan gaji pegawai saja sudah habis separuhnya atau di atas Rp600 Miliar. Sisanya dibagi untuk Dinas dan DPRD. Jadi boleh dikatakan dana untuk membangun dari Rp 1 Triliun tadi, hanya tinggal sekitar Rp 200 Miliar. Itupun harus dibagi untuk beberapa SKPD, termasuk 14 Kecamatan dan potongan Covid-19.

Beberapa waktu lalu, mantan Bupati Solok dengan bangga mengekspos dan sudah betkomitmen membangun Tigo Lurah. Namun tanpa bantuan pemerintah Provinsi dan pusat, tentu hal itu akan mustahil mewujudkannya. Bupati Gusmal waktu itu menyampaikan hal tersebut pada rapat rencana tindak lanjut pemakaian Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH), jalur Kapujan, Rimbo Data, Batu Bajanjang, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok di Ruang Bukit Cambai, Kantor Barenlitbang, Kabupaten Solok, baru-baru ini.

Namun wacana itu belum masuk ke dalam Nagari paling terisolir di Kabupten Solok, yakni Garabak Data. Selama ini penulis mungkin lebih banyak menyorot Garabak Data, khususnya Nagari Tigo Lurah. Dalam ekspos yang dihadiri para walinagari dan Camat Tigo Lurah, Asisten Koor Bidang Ekbangkesra Medison, Kepala Barenlitbang diwakili Kabid Sumber Daya dan Prasarana Sefdinon, Kadis PUPR Kabupaten Solok Efia Vivi Fortuna, Seluruh Camat se-Kabupaten Solok, dan Ketua BMN, BPN dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Tigo Lurah. Disebutkan bahwa jalan ke Tigo Lurah jauh lebih mulus dari ke Kecamatan Lembang Jaya atau Sungai Nanam. Saking lebih bagusnya. Bahkan Bupati menyebut setiap hari ada travel dari Tigo Lurah ke Kota Solok. 

Hal itu memang benar, namun secara pribadi Bupati tidak merinci dari Nagari mana saja angkutan travel yang bisa dimanfaatkan masyarakat setiap hari. Mungkin yang dimaksud Bupati dari Nagari Batu Bajanjang atau Rangkiang Luluih dan Simanau. Tetapi dari Nagari Sumiso dan Garabak Data, jelas hal itu belum ada. Dua Nagari tersebut masih jauh tertinggal. Bahkan khusus Garabak Data, belum ada jalan beraspal atau hot mix, listrik dan tower seluler. 

Disadari, untuk membangun jalan ke Garabak Data dibutuhkan izin khusus dari Pemerintah Pusat. Tetapi, sejak kapan Garabak Data masuk kawasan hutan lindung? Kenapa di kawasan tersebut bisa ada nagari. Aneh tapi fakta. Pada ekspos tersebut, Kepala Barenlitbang Kabupaten Solok diwakili Kabid Sumber Daya dan Prasarana, Sefdinon (mantan Kabag Umum) menyampaikan, Pemkab Solok bukannya lamban dalam membangun infrastruktur, tetapi dalam hal ini butuh izin Kementerian Kehutanan dengan melalui berbagai proses sangat panjang dan bertingkat.

“Pemerintah daerah juga harus melaksanakan kewajiban sebelum melakukan pembangunan jalan, seperti melakukaan penataan batas untuk jalan yang akan dibuat dimbangi pengadaan jalur irigasi,” terangnya. 

Disebutkan Sefdinon, Pelaksanaan kegiatan itu berdasarkan pada keluarnya SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor : SK.7369/MENLHK-PKTL/REN/PLA.0/9/2019 tentang Penetapan Areal Kerja Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan Untuk Pembangunan Jalan jalur Kapujan-Rimbo Data dan Jalur garabak Data-Batu Bajanjang pada Kawasan Hutan Lindung An. Bupati Solok di Kabupaten Solok Provinsi Sumatra Barat seluas 13,229 Hektare pada tanggal 9 September 2019.

Penulis sempat bertanya-tanya, melihat kondisi terkini, berarti seluruh Nagari Garabak Data masuk kawasan hutan lindung. Tetapi sejak kapan? Nagari Garabak Data, Kecamatan Tigo Lurah Kabupaten Solok yang berpenduduk 2.800 jiwa atau 963 kepala keluarga merupakan nagari tua Minang Saisuak yang masih terisolir di Sumbar. Karena belum  adanya akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Ironisnya, masyarakat Garabak Data masih memanfaatkan kuda beban untuk mengangkut berbagai barang kebutuhan kehidupannya.  

Padahal Nagari Garabak Data yang berada sekitar 720 meter dari permukaan laut memiliki banyak potensi dan kaya dengan hasil pertanian, perkebunan serta pernah menanam sekitar 200 jenis varietas padi. Tapi sangat disayangkan, tak ada akses jalan. Sehingga menyulitkan masyarakat menjual hasil pertanian dan perkebunannya. Di Nagari Garabak Data ternyata juga terdapat hewan sejenis ayam yang punya suara khas Kukuik Balengek.

Kemudian jika berbicara sejarah, ternyata Nagari Garabak Data pernah dikunjungi Tim Peneliti Central Sumatra Expeditie dari Universteit Laiden yang dipimpin A L Van Hasselt 1877-1878, sehingga nama Nagari Garabak Data sudah dikenal masyarakat Eropa. Bahkan dalam laporan Volksbeschrijving van Midden-Sumatra (1882) telah mendeskripsikan kalau pertanian yang pernah ditanam penduduk di Nagari Garabak data sebagai varietas padi berkualitas. Tapi kini selain akses jalan, ternyata penderitaan masyarakat Garabak Data lainnya belum adanya aliran listrik dan tower  untuk mendukung alat komunikasi berupa handphone yang sudah menjadi alat komunikasi semua lapisan masyarakat di berbagai nagari di Ranah Minang.

Meskipun begitu, penderitaan karena terosilirnya masyarakat Nagari Garabak Data sedikit terobati dengan kunjungan dan perhatian Gubernur Sumbar Irwan Prayitno pada 6 Juni 2015. Yang mana boleh dikatakan bersusah payah berkunjung mengendarai sepeda motor dan menempuh perjalanan berlumpur serta berliku dengan tanjakan terjal dan penurunan tajam. Bak gayung bersambut, kehadiran Gubernur Sumbar Irwan Prayitno sengaja dimanfaatkan masyarakat dan Walinagari Garabak Data yang yang waktu itu dipimpin tokoh muda bernama Perdinal untuk menyampaikan keluh kesah yang telah lama mereka alami. 

Kemudian kepedulian Gubernur Irwan Prayitno, bagi masyarakat Garabak Data  bagaikan musafir mendapatkan seteguk air pelepas dahaga di padang pasir. Karena gubernur tak hanya menyerap aspirasi, tetapi langsung merespon berbagai keluhan masyarakat Nagari Garabak. Bahkan gubernur berjanji akan memperjuangkan izin pembukaan akses jalan ke menteri kehutanan, karena akses jalan menuju ke Nagari Garabak Data melalui hutan lindung. Selanjutnya kepada masyarakat Gubernur berjanji mengupayakan bantuan tower operator seluler untuk handphone serta beberapa alat dan prasarana pendukung pertanian. Begitu juga jaringan pembangkit listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Sayangnya janji itu hingga kini tidak terealisasi. 

Sebenarnya jika Pemkab Solok dan Pemprov Sumbar ingin melepaskan masyarakat Nagari Garabak Data dari keterisoliran dengan membuka akses jalan dari Sirukam, melalui  Solok-Alahan Panjang. Sementara jauhnya perjalanan antara Sirukam menuju Nagari Batu Bajanjang yang merupakan pusat Kecamatan Tigo Lurah, diperkirakan sekitar 50 KM dan kemudian jalan bisa mempergunakan kendaraan roda empat, kondisi jalannya memang masih memprihatinkan. Sementara jalan antara Solok-Alahan Panjang tersebut, memang kondisi lokasinya berjalan di sepanjang hutan belantara. Namun, jarak tempuh dari Batu Bajanjang manuju ke Garabak Data berjarak sekitar 14 KM, sedangkan jasa angkutan hanya ada ojek dan kuda beban.

Berikutnya melalui Nagari Talang Babungo di Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok yang berjarak sekitar 12 km dari Alahan Panjang. Sementara jarak tempuh dari Talang Babungo ke Garabak Data sekitar 28 KM melalui rute perjalanan cukup berat. Jika ingin berjalan kaki, diperkirakan sekitar 7 atau 8 jam perjalanan. Sedangkan jika menggunakan ojek, hanya memerlukan waktu sekitar 3,5 jam, tapi ongkosnya bisa Rp 200 hingga Rp 300 ribu.

Berdasarkan data Kabupaten Solok dalam angka, Nagari Garabak Data merupakan nagari terluas di Kabupaten Solok, karena wilayahnya langsung berbatasan dengan wilayah Silago di Kabupaten Dharmasraya, Lubuak Tarok di Kabupaten Sijunjung dan Pakan Rabaa di Kabupaten Solok Selatan. Sedangkan dari ragam budaya, terlihat budaya masyarakat Garabak Data lebih menyamai budaya masyarakat Sijunjung. Bahkan tambo-tambo masyarakat Garabak yang merupakan bagian dari masyarakat di Ranah Tigo Lurah berasal dari daerah Buluah Kasok, Batu Manjulua dan Silago.

Sebagai masyarakat Sumbar yang peduli pembangunan dan nasib anak sebangsa dan se-Ranah Minang, kita tentu hanya bisa berharap kepada Gubernur Sumbar dan Bupati Solok periode 2020-2024 agar menjadikan persoalan terisolirnya masyarakat Garabak Data sebagai prioritas pembangunan jangka pendek. Sedangkan mengenai alasan hutan lindung dengan tetek bengeknya perizinan dari Menteri Kehutan RI merupakan dalih klasik yang sudah kono. Soalnya, kita berada di era teknologi canggih. Sangat lucu kalau jalan Kelok Sembilan saja bisa dibangun, kenapa jalan menuju ke Garabak Data tidak.

Angin segarpun berhembus dari Bupati Solok yang baru, yakni H. Epyardi Asda. Pihaknya berjanji akan memperhatikan daerah terisolir seperti Garabak Data di Kecamatan Tigo Lurah dan Sungai Abu serta Sariak Alahan Tigo di Kecamatan Hiliran Gumanti dan nagari terisolir lainnya. Yang jelas, masyarakat daerah terisolir butuh bukti, bukan janji. (penulis adalah wartawan Koran Padang, tinggal di Kabupaten Solok) 

Next Post

Sekretariat Kepresidenan Luruskan Ucapan Jokowi Soal ‘Provinsi Padang’

Rab Mei 19 , 2021
PADANG, KP – Ucapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut […]