Menjaga Spirit Ramadhan

Oleh : Ibnu Asis

“Ramadhan, ramadhan, ku mohon usah pergi”. (Ramadhan, Maher Zain).

Ya benar. Ramadhan 1442 H yang sarat dengan spirit religi dan dipenuhi berbagai nilai keutamaan dan kemuliaan, telah pergi meninggalkan kita. Tanpa jaminan, apakah ia akan kembali menemui kita tahun depan. Atau juga, tidak ada garansi, apakah segala amaliah ramadhan kita yang baru berlalu diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka sudah tepat rasanya, apabila Rasulullah Saw dan para shahabat beliau mengajarkan kita do’a atau ucapan selepas bulan ramadhan yaitu ; Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘amin wa antum bi khair”. Melalui do’a tersebut kita bermohon kepada Allah Swt agar menerima segala amaliah ramadhan kita dan setiap pribadi kita berada dalam kondisi aman dan diliputi kebaikan.

Namun yang harus menjadi fokus utama perhatian kita semua  adalah sejauh mana kita mau dan sanggup untuk istiqamah mempertahankan spirit dan nuansa Rabbani ‘penghulu para bulan’ itu di dalam kehidupan nyata sebelas bulan selepas ramadhan itu berlalu sampai tahun berikutnya saat ramadhan kembali hadir menemui kita (dengan izin Allah Swt).

Beberapa amaliah berikut ini mudah-mudahan dapat memandu dan menjaga spirit dan nuansa ramadhan tetap berada di dalam lubuk hati sanubari kita yang paling dalam, bersemayam di dalam akal pikiran kita, serta menjelma menjadi amal kebajikan yang menyertai langkah kaki, ayunan tangan dan detak jantung  kehidupan kita setiap waktu.

Pertama. Melaksanakan shaum sunnah bulan syawwal. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang artinya : “Barangsiapa yang melasanakan shaum ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan shaum enam hari di bulan syawwal, maka baginya laksana shaum sepanjang tahun” (HR. Muslim).

Kedua. Senantiasa menghadiri majelis ilmu dan berteman dengan orang shalih. Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda yang artinya : “Segolongan orang yang berkumpul di rumah Allah Swt, lalu mereka berdzikir, saling memberi nasihat dan saling memberi pengajaran, maka kepada mereka akan diturunkan ketenangan, diliputi oleh para malaikat, diberikan kasih-sayang dan Allah Swt menyebut-nyebut mereka dihadapan penduduk langit”. Kemudian Rasulullah Swt juga bersabda yang artinya : “Seseorang itu bergantung agama temannya”. Hal ini berarti bahwa cara seseorang berteman dan memilih teman akan mempengaruhi keshalihan orang tersebut.

Ketiga. Menjauhi perkara maksiat dan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang artinya : “Bahwa keimanan seseorang itu terkadang meningkat dan ada kalanya menurun. Meningkat dengan ketaatan dan menurun lantaran kemaksiatan”. Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda yang artinya : “Bahwa diantara kebaikan keislaman seseorang itu adalah karena ia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat”.

Keempat. Menjaga ibadah fardhu dan bersegera mengerjakan amal kebajikan. Dalam hal ini Allah Swt berfirman di dalam surat Al-Fatihah ayat 5 yang artinya : “Hanya kepada Engkaulah (Ya Allah Swt), kami beribadah dan hanya kepada Engkau jualah kami bermohon pertolongan”. Atau di dalam surat Ad-Dzariyat ayat 51 Allah Swt kembali berfirman yang artinya : “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. Kemudian di dalam surat Al-Baqarah ayat 149 Allah Swt berfirman yang artinya : “Berlomba-lombalah kamu sekalian untuk mengerjakan amal kebajikan”.

Kelima. Melazimkan dzikrullah (mengingat Allah Swt). Karena Allah Swt berfirman dalam surat Ar-Ra’du ayat 28 yang artinya : “Ketahuilah, bahwa dengan dzikrullah hati akan menjadi tentang”. Dan sebaik-baik dzikrullah adalah Qira’atil Qur’an (membaca Al-Qur’an). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Baihaqi  yang artinya : “Membaca Al-Qur’an diluar Shalat lebih utama daripada tasbih dan takbir”.           

Keenam. Membiasakan sedekah atau infaq. Allah Swt telah mensifati karakter orang yang bertaqwa, salah satunya adalah melalui Surat Al-Baqarah ayat 3 yang artinya : “Dan mereka menginfaqkan sebagian rizqi yang diberikan Allah Swt”. Karena orang yang bertaqwa sangat yakin bahwa pada nikmat rizqi yang Allah Swt titipkan kepada mereka, ada bahagian orang lain yang membutuhkan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Ad-Dzariat ayat 19 yang artinya : “Dan didalam harta mereka, ada bagian yang menjadi hak orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang  tidak mendapat bagian”.

Ketujuh. Berdo’a. The last but not lease, untuk menjaga spirit dan nuansa ramadhan agar tetap langgeng, kita telah diajarkan oleh Allah Swt satu do’a sebagaimana terdapat di dalam surat Ali-Imran ayat 8 yang artinya : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami, setelah hidayah datang kepada kami dan berkahilah kami dengan rahmat-Mu karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha pemberi berkah”. Selanjutnya, Rasulullah Saw juga mengajarkan kita satu do’a yang artinya : “Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati kami terhadap agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu”.

“Setiap habis ramadhan, hamba cemas kalau tak sampai, umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan”. (Rindu Ramadhan, Bimbo).

Oleh : Ibnu Asis

“Ramadhan, ramadhan, ku mohon usah pergi”. (Ramadhan, Maher Zain).

Ya benar. Ramadhan 1442 H yang sarat dengan spirit religi dan dipenuhi berbagai nilai keutamaan dan kemuliaan, telah pergi meninggalkan kita. Tanpa jaminan, apakah ia akan kembali menemui kita tahun depan. Atau juga, tidak ada garansi, apakah segala amaliah ramadhan kita yang baru berlalu diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka sudah tepat rasanya, apabila Rasulullah Saw dan para shahabat beliau mengajarkan kita do’a atau ucapan selepas bulan ramadhan yaitu ; Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘amin wa antum bi khair”. Melalui do’a tersebut kita bermohon kepada Allah Swt agar menerima segala amaliah ramadhan kita dan setiap pribadi kita berada dalam kondisi aman dan diliputi kebaikan.

Namun yang harus menjadi fokus utama perhatian kita semua  adalah sejauh mana kita mau dan sanggup untuk istiqamah mempertahankan spirit dan nuansa Rabbani ‘penghulu para bulan’ itu di dalam kehidupan nyata sebelas bulan selepas ramadhan itu berlalu sampai tahun berikutnya saat ramadhan kembali hadir menemui kita (dengan izin Allah Swt).

Beberapa amaliah berikut ini mudah-mudahan dapat memandu dan menjaga spirit dan nuansa ramadhan tetap berada di dalam lubuk hati sanubari kita yang paling dalam, bersemayam di dalam akal pikiran kita, serta menjelma menjadi amal kebajikan yang menyertai langkah kaki, ayunan tangan dan detak jantung  kehidupan kita setiap waktu.

Pertama. Melaksanakan shaum sunnah bulan syawwal. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang artinya : “Barangsiapa yang melasanakan shaum ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan shaum enam hari di bulan syawwal, maka baginya laksana shaum sepanjang tahun” (HR. Muslim).

Kedua. Senantiasa menghadiri majelis ilmu dan berteman dengan orang shalih. Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda yang artinya : “Segolongan orang yang berkumpul di rumah Allah Swt, lalu mereka berdzikir, saling memberi nasihat dan saling memberi pengajaran, maka kepada mereka akan diturunkan ketenangan, diliputi oleh para malaikat, diberikan kasih-sayang dan Allah Swt menyebut-nyebut mereka dihadapan penduduk langit”. Kemudian Rasulullah Swt juga bersabda yang artinya : “Seseorang itu bergantung agama temannya”. Hal ini berarti bahwa cara seseorang berteman dan memilih teman akan mempengaruhi keshalihan orang tersebut.

Ketiga. Menjauhi perkara maksiat dan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang artinya : “Bahwa keimanan seseorang itu terkadang meningkat dan ada kalanya menurun. Meningkat dengan ketaatan dan menurun lantaran kemaksiatan”. Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda yang artinya : “Bahwa diantara kebaikan keislaman seseorang itu adalah karena ia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat”.

Keempat. Menjaga ibadah fardhu dan bersegera mengerjakan amal kebajikan. Dalam hal ini Allah Swt berfirman di dalam surat Al-Fatihah ayat 5 yang artinya : “Hanya kepada Engkaulah (Ya Allah Swt), kami beribadah dan hanya kepada Engkau jualah kami bermohon pertolongan”. Atau di dalam surat Ad-Dzariyat ayat 51 Allah Swt kembali berfirman yang artinya : “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. Kemudian di dalam surat Al-Baqarah ayat 149 Allah Swt berfirman yang artinya : “Berlomba-lombalah kamu sekalian untuk mengerjakan amal kebajikan”.

Kelima. Melazimkan dzikrullah (mengingat Allah Swt). Karena Allah Swt berfirman dalam surat Ar-Ra’du ayat 28 yang artinya : “Ketahuilah, bahwa dengan dzikrullah hati akan menjadi tentang”. Dan sebaik-baik dzikrullah adalah Qira’atil Qur’an (membaca Al-Qur’an). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Baihaqi  yang artinya : “Membaca Al-Qur’an diluar Shalat lebih utama daripada tasbih dan takbir”.           

Keenam. Membiasakan sedekah atau infaq. Allah Swt telah mensifati karakter orang yang bertaqwa, salah satunya adalah melalui Surat Al-Baqarah ayat 3 yang artinya : “Dan mereka menginfaqkan sebagian rizqi yang diberikan Allah Swt”. Karena orang yang bertaqwa sangat yakin bahwa pada nikmat rizqi yang Allah Swt titipkan kepada mereka, ada bahagian orang lain yang membutuhkan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Ad-Dzariat ayat 19 yang artinya : “Dan didalam harta mereka, ada bagian yang menjadi hak orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang  tidak mendapat bagian”.

Ketujuh. Berdo’a. The last but not lease, untuk menjaga spirit dan nuansa ramadhan agar tetap langgeng, kita telah diajarkan oleh Allah Swt satu do’a sebagaimana terdapat di dalam surat Ali-Imran ayat 8 yang artinya : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami, setelah hidayah datang kepada kami dan berkahilah kami dengan rahmat-Mu karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha pemberi berkah”. Selanjutnya, Rasulullah Saw juga mengajarkan kita satu do’a yang artinya : “Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati kami terhadap agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu”.

“Setiap habis ramadhan, hamba cemas kalau tak sampai, umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan”. (Rindu Ramadhan, Bimbo).

Next Post

Melfi Abra Serahkan Jabatan Plt Asisten II Setdako Bukittinggi ke Walikota

Rab Mei 19 , 2021
BUKITTINGGI, KP – Karena kesibukan dan padatnya tugas di Dinas […]